Masihkah Menyimpan Radio Jadulmu, Opa Oma?


Mau lagu kesukaan atau bukan, ya didengarkan saja. Kalau beruntung, lagu favorit muncul setelah menunggu beberapa lagu sebelumnya.

2026-09-06T13:27

GERIATRI.CO.ID - “Kriiing… kring… selamat siang, pendengar…”

Dulu, suara seperti itu mungkin akrab sekali di rumah. Bukan dari ponsel, bukan dari YouTube, apalagi podcast. Hanya sebuah radio—kadang bentuknya besar, kotak, dengan tombol yang harus diputar pelan-pelan untuk mencari gelombang yang pas.

Bagi opa dan oma, radio bukan sekadar alat untuk mendengarkan berita atau lagu. Ia seperti teman di sudut rumah. Menemani memasak, menyapu halaman, minum kopi pagi, atau sekadar duduk santai sore hari.

Ada yang masih ingat suara penyiar kesayangan? Ada pula yang hafal jadwal acara tertentu. Begitu jarum jam menunjukkan waktunya, tangan langsung meraih tombol radio. Kalau sinyalnya kurang bagus, antenanya diputar.

Serunya lagi, dulu mendengarkan lagu tidak bisa tinggal pencet “next”. Lagu yang diputar penyiar harus diterima apa adanya. Mau lagu kesukaan atau bukan, ya didengarkan saja. Kalau beruntung, lagu favorit muncul setelah menunggu beberapa lagu sebelumnya.

Radio juga pernah menjadi “Google”-nya zaman dulu. Mau tahu berita terbaru, perkembangan olahraga, harga kebutuhan, sampai kabar dari daerah lain, radio menjadi salah satu sumber informasi yang penting. Dan semuanya hadir lewat suara.

Bagi sebagian opa-oma, radio jadul mungkin masih tersimpan di lemari. Sudah tidak digunakan, mungkin berdebu, kabelnya entah masih ada atau tidak. Tetapi jangan buru-buru dibuang. Bisa jadi benda itu menyimpan lebih banyak cerita daripada yang terlihat dari bentuknya.

Menariknya, kebiasaan mendengarkan radio juga punya sisi sosial. Suara penyiar yang hadir setiap hari bisa menciptakan rasa ditemani, terutama ketika seseorang sedang sendirian di rumah. Musik lama pun dapat menjadi pintu kecil menuju kenangan—tentang masa muda, pekerjaan, keluarga, bahkan seseorang yang pernah begitu berarti.

Tentu, radio bukan obat untuk kesepian dan tidak berarti opa-oma harus kembali ke zaman radio jadul. Sekarang pilihan hiburan jauh lebih banyak. Ada televisi, internet, musik digital, hingga video call dengan anak dan cucu.

Tetapi sesekali, tidak ada salahnya membuka kembali lemari lama. Kalau masih punya radio jadul, coba bersihkan. Kalau masih bisa menyala, dengarkan sebentar. Kalau sudah rusak, mungkin cukup duduk di dekatnya sambil bercerita kepada cucu: “Dulu, Oma kalau mau dengar lagu, ya lewat radio ini.”

Nah, dari sebuah radio tua, percakapan antargenerasi bisa dimulai.

Karena bagi opa dan oma, radio jadul mungkin sudah berhenti menangkap gelombang siaran. Tetapi kenangan yang tersimpan di dalamnya? Bisa jadi masih jernih sampai hari ini.

Jadi, opa-oma, masih menyimpan radio jadulmu? (a2s)

radio,radio jadul,nostalgia,lansia bahagia

ARTIKEL LAINNYA

10 Langkah Membersihkan Rumah Setelah Hujan Abu Vulkanik

Anak Krakatau Kembali Erupsi, Lansia Perlu Waspada terhadap Abu Vulkanik

Terapi Fisik untuk Lansia: Haruskah Menunggu Sampai Sakit?

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026