Terapi Fisik untuk Lansia: Haruskah Menunggu Sampai Sakit?


Jatuh merupakan salah satu masalah yang perlu mendapat perhatian serius pada lansia. Sekali jatuh, seseorang bisa mengalami cedera, menjadi takut bergerak, kemudian semakin jarang beraktivitas.

2026-09-07T16:05

GERIATRI.CO.ID - Terapi fisik atau fisioterapi sering dianggap baru diperlukan ketika lansia mengalami nyeri, cedera, atau kesulitan berjalan. Menjaga kemampuan tubuh agar tetap kuat dan mandiri juga merupakan bagian penting dari proses penuaan sehat.

Memasuki usia lanjut, perubahan pada tubuh terjadi secara perlahan. Kekuatan otot dapat berkurang, keseimbangan mulai menurun, langkah menjadi lebih lambat, dan aktivitas sehari-hari seperti naik tangga atau berdiri dari kursi bisa terasa lebih berat.

Perubahan tersebut sering dianggap sebagai sesuatu yang wajar sehingga baru diperhatikan ketika sudah mengganggu aktivitas. Padahal, tidak selalu perlu menunggu sampai sakit untuk mulai memperhatikan kemampuan fisik lansia.

Fisioterapi memang banyak digunakan untuk membantu pemulihan setelah cedera, stroke, operasi, atau ketika seseorang mengalami gangguan gerak. Namun, perannya pada lansia jauh lebih luas.

Fisioterapis dapat membantu menilai kemampuan gerak, kekuatan otot, keseimbangan, pola berjalan, hingga kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari. Dari penilaian tersebut, latihan dapat disesuaikan dengan kondisi dan tujuan masing-masing lansia.

World Physiotherapy juga menempatkan fisioterapi sebagai bagian dari upaya mendukung healthy ageing, termasuk meningkatkan aktivitas fisik serta mencegah frailty dan jatuh pada lansia.

Bagi lansia, tujuan latihan fisik bukan sekadar memiliki otot yang kuat. Yang lebih penting adalah tetap mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.

WHO merekomendasikan lansia melakukan aktivitas fisik secara rutin. Selain aktivitas aerobik, lansia juga dianjurkan melakukan latihan penguatan otot setidaknya dua hari dalam seminggu serta aktivitas yang melatih keseimbangan dan kekuatan fungsional setidaknya tiga hari dalam seminggu.

Latihan tersebut dapat membantu mempertahankan kemampuan fungsional sekaligus menurunkan risiko jatuh.

Jatuh merupakan salah satu masalah yang perlu mendapat perhatian serius pada lansia. Sekali jatuh, seseorang bisa mengalami cedera, menjadi takut bergerak, kemudian semakin jarang beraktivitas. 

Kondisi tersebut dapat berujung pada penurunan kekuatan dan kemampuan fisik.

Karena itu, latihan keseimbangan dan kekuatan dapat dilakukan sebagai bagian dari pencegahan.

Sebuah tinjauan sistematis yang digunakan dalam pengembangan pedoman WHO melibatkan 116 studi dengan lebih dari 25.000 peserta. Hasilnya menunjukkan bahwa olahraga menurunkan angka kejadian jatuh pada lansia sekitar 23 persen. Latihan keseimbangan dan fungsional secara khusus dikaitkan dengan penurunan angka jatuh sekitar 24 persen.

Pedoman pencegahan jatuh untuk lansia juga merekomendasikan latihan atau rujukan ke fisioterapis bagi lansia yang memiliki risiko jatuh tertentu, terutama untuk meningkatkan keseimbangan dan kekuatan otot.

Lantas, kapan lansia sebaiknya berkonsultasi?

Tidak semua lansia membutuhkan program fisioterapi yang sama. Namun, konsultasi dapat dipertimbangkan ketika mulai muncul perubahan seperti:

  • lebih sering kehilangan keseimbangan;
  • berjalan semakin lambat atau tidak stabil;
  • kesulitan bangun dari kursi;
  • merasa kaki semakin lemah;
  • mulai menggunakan pegangan saat naik tangga;
  • pernah mengalami jatuh;
  • takut berjalan karena khawatir jatuh;
  • aktivitas sehari-hari mulai membutuhkan bantuan orang lain;
  • atau sedang menjalani pemulihan setelah sakit, cedera, stroke, maupun operasi.

Konsultasi juga dapat membantu menentukan jenis dan intensitas latihan yang sesuai. Terlebih jika lansia memiliki penyakit kronis, gangguan mobilitas, atau kondisi kesehatan tertentu.

Penting membedakan antara aktif secara fisik dan harus menjalani fisioterapi.

Lansia yang sehat dan mampu bergerak dengan baik tetap dapat memperoleh banyak manfaat dari aktivitas fisik rutin. 

CDC, misalnya, merekomendasikan lansia usia 65 tahun ke atas melakukan aktivitas aerobik, latihan penguatan otot, dan latihan keseimbangan setiap minggu.

Fisioterapi menjadi lebih relevan ketika seseorang membutuhkan penilaian dan program latihan yang lebih spesifiksesuai kemampuan, risiko, atau gangguan fungsi yang dimilikinya.

Jadi, jawabannya bukan bahwa setiap lansia harus pergi ke fisioterapis sebelum sakit.

Yang lebih penting adalah jangan menunggu kemampuan fisik menurun jauh sebelum mulai menjaganya. Tetap bergerak, tetap mandiri. (lia)

terapi fisik,terapi fisik lansia,fisioterapi,fisioterapis,merawat lansia

ARTIKEL LAINNYA

10 Langkah Membersihkan Rumah Setelah Hujan Abu Vulkanik

Anak Krakatau Kembali Erupsi, Lansia Perlu Waspada terhadap Abu Vulkanik

Mengenal Terapi Alternatif pada Lansia

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026