Mengapa Lansia Membutuhkan IGD yang Berbeda dari Pasien Dewasa pada Umumnya?


Konsep Geriatric Emergency Department (GED) tidak berarti setiap rumah sakit harus membangun gedung atau ruangan IGD terpisah khusus lansia.

2026-09-04T08:09

GERIATRI.CO.ID -  Ketika seseorang datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD), prioritasnya tentu sama: menyelamatkan nyawa dan menangani kondisi yang mengancam kesehatan. 

Namun, ketika pasiennya adalah lansia, ada sejumlah hal yang membuat proses pemeriksaan dan perawatannya membutuhkan perhatian lebih. Bukan karena lansia harus selalu mendapatkan ruang IGD yang terpisah. Yang berbeda adalah kebutuhan dan pendekatan pelayanannya.

Organisasi seperti American College of Emergency Physicians (ACEP), American Geriatrics Society, Emergency Nurses Association, dan Society for Academic Emergency Medicine bahkan telah mengembangkan Geriatric Emergency Department Guidelines sebagai acuan untuk meningkatkan pelayanan pasien usia lanjut di IGD. Pedoman tersebut mencakup aspek tenaga kesehatan, fasilitas, pendidikan, prosedur klinis, hingga tindak lanjut setelah pasien meninggalkan IGD.

Salah satu tantangan terbesar adalah gejala penyakit pada lansia dapat berbeda dibandingkan orang dewasa yang lebih muda. Misalnya, infeksi yang serius tidak selalu disertai demam tinggi. Begitu pula masalah kesehatan tertentu dapat pertama kali terlihat sebagai kebingungan, kelemahan, penurunan kemampuan beraktivitas, atau perubahan perilaku.

Karena itu, dokter dan tenaga kesehatan perlu melihat kondisi pasien secara lebih menyeluruh, termasuk kondisi fisik, kemampuan kognitif, fungsi sehari-hari, serta kondisi kesehatan sebelumnya.

ACEP menempatkan perubahan kondisi mental, delirium, demensia, jatuh, dan masalah fungsi sebagai beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian khusus dalam pelayanan gawat darurat geriatri.

Selain itu, obat juga perlu diperiksa lebih teliti. Lansia sering memiliki beberapa penyakit sekaligus dan mengonsumsi lebih dari satu jenis obat. Kondisi ini membuat rekonsiliasi obat menjadi bagian penting dalam pelayanan gawat darurat.

Tenaga kesehatan perlu mengetahui obat yang sedang dikonsumsi pasien, termasuk obat resep, obat bebas, maupun suplemen tertentu. Tujuannya untuk melihat kemungkinan efek samping, interaksi obat, maupun obat yang dapat memengaruhi kondisi pasien.

ACEP memasukkan prosedur rekonsiliasi obat sebagai salah satu proses penting dalam pelayanan IGD yang berorientasi pada pasien lansia.

Lingkungan IGD pun perlu lebih ramah lansia. IGD identik dengan suara bising, lampu terang, aktivitas yang tidak berhenti, serta banyak orang yang datang dan pergi.

Bagi lansia, terutama mereka yang memiliki gangguan penglihatan, pendengaran, demensia, atau rentan mengalami delirium, lingkungan seperti ini dapat menjadi tantangan tersendiri.

Karena itu, konsep geriatric-friendly emergency department juga mencakup penyesuaian lingkungan dan peralatan. Contohnya, akses terhadap alat bantu mobilitas, tempat tidur yang sesuai, pencahayaan yang lebih nyaman, serta lingkungan yang mendukung orientasi pasien.

Jadi, apakah lansia harus punya IGD khusus? Tidak selalu.

Konsep Geriatric Emergency Department (GED) tidak berarti setiap rumah sakit harus membangun gedung atau ruangan IGD terpisah khusus lansia. Yang lebih penting adalah menerapkan proses pelayanan yang memang dirancang untuk kebutuhan pasien usia lanjut.

ACEP menjelaskan bahwa IGD geriatri dapat diwujudkan melalui berbagai pendekatan, mulai dari pelatihan tenaga kesehatan, skrining masalah geriatri, perbaikan lingkungan, protokol khusus, hingga hubungan dengan layanan komunitas dan tindak lanjut setelah pasien pulang.

Dengan kata lain, yang dibutuhkan bukan sekadar IGD yang berbeda tempatnya, tetapi IGD yang berbeda cara melihat pasien lansia.

Kondisi gawat darurat memang harus ditangani secepat mungkin. Namun, pada lansia, keberhasilan pelayanan tidak berhenti ketika tekanan darah sudah stabil atau luka sudah ditangani. (lia)

 

IGD,IGD lansia,geriatri,merawat lansia

ARTIKEL LAINNYA

36,6 Persen Jemaah Haji Indonesia adalah Lansia, Layanan Kesehatan Jadi Sorotan

Inspirasi dari Subang: Rangkul Lansia Hidup Sehat Lewat WA dan Jogging Bareng

Lansia Sering Terlambat Makan? Jangan Dianggap Sepele

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026