Menjembatani Lansia dan Teknologi Agar Tak Terpinggirkan


Akses terhadap layanan online, informasi edukasi kesehatan daring, hingga pemantauan medis jarak jauh dapat mengubah kualitas hidup serta tingkat kemandirian para senior secara signifikan.

2026-09-01T16:14

GERIATRI.CO.ID - Indonesia sedang melangkah menuju babak baru perjalanan demografi. Jumlah lansia di tanah air terus meningkat cukup pesat. Jika pada 2010 proporsi penduduk senior masih berada di angka 7,6 persen, pada 2025 angkanya naik menjadi 11,9 persen. Diperkirakan pada 2045 mendatang, satu dari lima orang Indonesia adalah seorang lansia.

Kondisi ini menandakan lebih dari 34 juta jiwa di berbagai provinsi telah memasuki fase populasi menua (ageing population). Fenomena tersebut bukan sekadar angka statistik, melainkan sinyal penting bahwa sistem layanan kesehatan, pola pengasuhan keluarga, hingga interaksi sosial masyarakat perlu beradaptasi secara menyeluruh.

Meski sekitar 95 persen lansia di Indonesia masih mampu beraktivitas secara mandiri, risiko kesehatan kronis tetap mengintai. Masalah seperti kurangnya aktivitas fisik, obesitas sentral, diabetes, hingga gangguan kesehatan gigi masih umum ditemui.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, ada tantangan lain yang tak kalah krusial: jurang pemisah digital (digital divide). Ketika generasi muda begitu lincah memanfaatkan teknologi digital, kelompok usia Baby Boomers dan Pre-Boomers justru menjadi kelompok yang paling minim terhubung dengan internet.

Padahal, akses terhadap layanan online, informasi edukasi kesehatan daring, hingga pemantauan medis jarak jauh dapat mengubah kualitas hidup serta tingkat kemandirian para senior secara signifikan.

Kolaborasi Ekosistem Digital untuk Lansia

Dilansir Antara, Senin (31/8/2026), untuk menjembatani kebutuhan tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus memperkuat platform SatuSehat. Ekosistem kesehatan terpadu ini menargetkan digitalisasi puluhan ribu fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia, sehingga data kesehatan dapat terintegrasi dengan baik dan dipantau secara real-time. Langkah ini sangat membantu para pengasuh (caregiver) serta memperkuat layanan kesehatan berbasis komunitas.

Sektor swasta dan komunitas pun turut ambil bagian menghadirkan inovasi yang ramah lansia. Salah satunya ruang Kuis dan Interaksi, di mana radio Lansia hadir menyapa para senior lewat obrolan interaktif, edukasi keuangan, hingga hiburan musik nostalgia untuk menjaga kesehatan mental dan koneksi sosial mereka.

Mewujudkan penuaan yang sehat, aktif, dan bermakna memerlukan kerja sama lintas sektor — mulai dari inovator teknologi, akademisi, hingga komunitas lokal.

Dalam skala yang lebih luas, keterlibatan aktif lansia juga membuka potensi silver economy, di mana pengalaman dan wawasan para senior tetap menjadi pendorong roda perekonomian serta solidaritas antar-generasi. Dengan memastikan lansia tetap terhubung, sehat, dan diberdayakan, Indonesia dapat menyambut era 2045 dengan senyuman hangat para seniornya. (a2s)

berita lansia,kemenkes,kementerian kesehatan,lansia

ARTIKEL LAINNYA

Berdiri dari Kursi Tanpa Pegangan, Benarkah Bisa Menunjukkan Seberapa Sehat Lansia?

Hari Menulis Pesan Sedunia, Ketika Lansia Mengajarkan Kita Arti Sebuah Pesan

Awas, Lansia Agar Menjauh dari Judol

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026