Berdiri dari Kursi Tanpa Pegangan, Benarkah Bisa Menunjukkan Seberapa Sehat Lansia?


Dengan kata lain, kemampuan bangkit dari kursi bukanlah ukuran kesehatan secara keseluruhan. Namun, gerakan ini bisa menjadi salah satu petunjuk mengenai kondisi fisik lansia.

2026-09-01T12:24

GERIATRI.CO.ID - Jangan buru-buru menganggap sepele kemampuan lansia untuk bangkit dari kursi. Gerakan sederhana ini ternyata dapat memberikan gambaran tentang kekuatan otot kaki, keseimbangan, hingga kemampuan bergerak secara mandiri.

Coba perhatikan ketika kakek, nenek, atau orang tua di rumah hendak berdiri dari kursi. Apakah mereka bisa langsung bangkit tanpa berpegangan? Atau harus menggunakan kedua tangan untuk mendorong tubuh dari sandaran kursi?

Sekilas terlihat seperti gerakan sehari-hari biasa. Namun, kemampuan duduk dan berdiri dari kursi memang digunakan dalam dunia medis dan rehabilitasi untuk menilai fungsi fisik seseorang, terutama pada kelompok lanjut usia.

Salah satunya melalui Chair Stand Test, yaitu tes yang menilai kemampuan seseorang untuk berulang kali bangkit dari posisi duduk ke berdiri.

Untuk berdiri dari kursi, tubuh membutuhkan kerja sama berbagai komponen. Otot paha dan tungkai harus menghasilkan tenaga, tubuh perlu menjaga keseimbangan, sementara sistem saraf dan koordinasi gerak harus bekerja dengan baik.

Karena itu, kesulitan melakukan gerakan tersebut dapat menjadi tanda adanya penurunan fungsi fisik.

Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam Medicine pada 2023 menyebutkan bahwa Five Times Sit-to-Stand Test dapat digunakan untuk menilai kekuatan tungkai bawah, keseimbangan, dan kontrol postur pada lansia. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa lansia yang tidak mampu menyelesaikan tes memiliki kemungkinan lebih besar mengalami keterbatasan dalam aktivitas sehari-hari.

Dengan kata lain, kemampuan bangkit dari kursi bukanlah ukuran kesehatan secara keseluruhan. Namun, gerakan ini bisa menjadi salah satu petunjuk mengenai kondisi fisik lansia.

Kemampuan ini penting bagi lansia. Kekuatan kaki sangat berhubungan dengan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari, seperti berjalan, naik tangga, pergi ke kamar mandi, atau berpindah dari tempat tidur ke kursi.

Ketika kekuatan dan fungsi otot menurun, aktivitas sederhana tersebut bisa menjadi semakin sulit. Kondisi ini pada akhirnya dapat meningkatkan ketergantungan lansia kepada orang lain.

Chair Stand Test sendiri telah digunakan sebagai salah satu penilaian fungsional pada lansia. CDC melalui program STEADI (Stopping Elderly Accidents, Deaths & Injuries) menggunakan 30-Second Chair Stand Test untuk menilai kekuatan dan daya tahan otot kaki.

Dalam tes tersebut, seseorang diminta duduk di kursi tanpa sandaran tangan, menyilangkan tangan di dada, kemudian berdiri dan duduk kembali sebanyak mungkin selama 30 detik.

Semakin banyak pengulangan yang dapat dilakukan dengan teknik yang benar, semakin baik kemampuan fungsional yang ditunjukkan. Sebaliknya, ketidakmampuan melakukan gerakan tanpa bantuan tangan dapat menjadi tanda bahwa kekuatan tungkai perlu diperhatikan.

Selain tes selama 30 detik, terdapat Five Times Sit-to-Stand Test (5xSTS). Sesuai namanya, lansia diminta berdiri dan duduk kembali sebanyak lima kali, sementara waktu yang dibutuhkan dicatat.

Tes ini relatif sederhana dan tidak membutuhkan alat khusus selain kursi dan alat pengukur waktu.

Sebuah meta-analisis menemukan bahwa Five Times Sit-to-Stand Test memiliki reliabilitas yang baik hingga tinggi dan dapat digunakan untuk menilai performa duduk-berdiri, kekuatan tungkai bawah, kontrol keseimbangan, dan mobilitas.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa tes tersebut dapat memberikan informasi mengenai penurunan mobilitas dan membantu mengidentifikasi lansia yang memiliki risiko frailty atau kelemahan fisik.

Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua lansia. Usia dan kondisi fisik perlu diperhitungkan.

Salah satu meta-analisis yang mempelajari nilai rujukan Five Times Sit-to-Stand pada orang berusia 60 tahun ke atas menemukan bahwa waktu yang lebih dari:

  • 11,4 detik pada usia 60–69 tahun,
  • 12,6 detik pada usia 70–79 tahun,
  • 14,8 detik pada usia 80–89 tahun,

dapat dikategorikan sebagai performa yang lebih buruk dibandingkan rata-rata kelompok usia tersebut.

Namun, angka tersebut bukan diagnosis penyakit dan tidak sebaiknya digunakan untuk menyimpulkan seseorang sehat atau tidak sehat hanya berdasarkan hasil tes.

Jadi, kalau bisa berdiri tanpa pegangan berarti sehat? Belum tentu.

Kemampuan berdiri dari kursi tanpa menggunakan tangan memang merupakan tanda bahwa fungsi tungkai dan mobilitas masih cukup baik. Tetapi kesehatan lansia jauh lebih kompleks.

Kondisi jantung dan paru, tekanan darah, keseimbangan, penglihatan, fungsi kognitif, status gizi, penyakit kronis, penggunaan obat, hingga kondisi psikologis juga perlu diperhatikan.

Bahkan dalam penilaian risiko jatuh, CDC tidak hanya menggunakan satu tes. Program STEADI juga menggunakan pemeriksaan lain seperti Timed Up and Go (TUG) untuk menilai mobilitas serta Four-Stage Balance Test untuk menilai keseimbangan.

Artinya, kemampuan bangkit dari kursi sebaiknya dilihat sebagai salah satu bagian dari gambaran besar kesehatan lansia, bukan sebagai "tes kesehatan" tunggal.

Bagi keluarga, hal sederhana yang bisa diamati adalah perubahan kemampuan dari waktu ke waktu.

Misalnya, sebelumnya  dapat bangkit dari kursi tanpa menggunakan tangan, tetapi beberapa bulan terakhir mulai harus mendorong tubuh dengan kedua tangan. Atau sebelumnya dapat berjalan dan naik tangga dengan mudah, tetapi sekarang membutuhkan bantuan.

Perubahan seperti ini layak menjadi perhatian. Sebab, penurunan fungsi fisik tidak selalu muncul dalam bentuk penyakit yang jelas. Terkadang, tanda awalnya justru terlihat dari aktivitas sehari-hari yang mulai terasa lebih berat.

Jadi, bisa berdiri dari kursi tanpa pegangan memang dapat menjadi salah satu tanda bahwa fungsi fisik lansia masih cukup baik. Tetapi kesehatan lansia tidak bisa ditentukan hanya dari kemampuan tersebut.

Yang lebih penting adalah memperhatikan kemampuan lansia menjalani aktivitas sehari-hari secara aman, mandiri, dan konsisten. Bila terjadi penurunan kemampuan, jangan hanya menganggapnya sebagai "faktor usia". Konsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan dapat membantu mencari penyebab dan menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lebih lanjut. (lia)

***

(Foto: pexels.com)
 

duduk lansia,seberapa optimisne lansia,bangkit tanpa pegangan,lansia

ARTIKEL LAINNYA

Menjembatani Lansia dan Teknologi Agar Tak Terpinggirkan

Hari Menulis Pesan Sedunia, Ketika Lansia Mengajarkan Kita Arti Sebuah Pesan

Awas, Lansia Agar Menjauh dari Judol

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026