Biskuit untuk Lansia: Jangan Terkecoh Tulisan “Sehat” di Kemasan


Tetapi jangan pula terkecoh dengan satu klaim saja. Ada biskuit yang mengandung gandum utuh, tetapi tetap memiliki kandungan gula atau lemak yang cukup tinggi.

2026-08-31T07:13

GERIATRI.CO.ID - Kemasan bilang sehat, belum tentu cocok untuk lansia. Kalimat sederhana ini penting diingat ketika memilih biskuit untuk orang tua. Sebab, di rak supermarket, kita bisa menemukan berbagai biskuit dengan klaim yang terdengar meyakinkan: rendah gula, tinggi serat, berbahan gandum, dan sebagainya.

Padahal, memilih biskuit untuk lansia tidak cukup hanya dengan melihat tulisan di bagian depan kemasan. Yang lebih penting justru apa yang tercantum dalam informasi nilai gizi. Di situlah kita bisa melihat kandungan gula, natrium, lemak, dan serat yang sebenarnya.

Biskuit bukan sekadar teman minum teh

Bagi banyak keluarga, biskuit sudah menjadi camilan rutin lansia. Pagi ditemani teh, sore kembali muncul di meja. Praktis memang. Tetapi jika dikonsumsi terlalu sering atau dalam jumlah berlebihan, biskuit dapat mengambil porsi makanan lain yang lebih bergizi.

Pada usia lanjut, kebutuhan energi biasanya menurun, sementara kebutuhan terhadap protein, vitamin, mineral, dan zat gizi penting lainnya tetap harus diperhatikan. Karena itu, camilan sebaiknya jangan hanya mengenyangkan.

Jangan mudah terpikat rasa

Biskuit yang sangat manis atau gurih biasanya lebih mudah disukai. Namun, rasa yang “nendang” juga menjadi alasan untuk lebih teliti melihat kandungannya.

Untuk konsumsi sehari-hari, pilih biskuit yang tidak tinggi gula, natrium, dan lemak jenuh. Bila memungkinkan, pilih yang menggunakan gandum utuh dan memiliki kandungan serat.

Tetapi jangan pula terkecoh dengan satu klaim saja. Ada biskuit yang mengandung gandum utuh, tetapi tetap memiliki kandungan gula atau lemak yang cukup tinggi.

Lansia punya kebutuhan yang berbeda

Inilah yang sering dilupakan. Biskuit yang cocok untuk seorang lansia belum tentu cocok untuk lansia lainnya. Orang tua dengan diabetes tentu perlu lebih memperhatikan asupan gula dan karbohidrat. Lansia dengan hipertensi perlu lebih waspada terhadap natrium. Sementara mereka yang memiliki gangguan mengunyah atau menelan membutuhkan perhatian khusus terhadap tekstur makanan.

Jadi, “biskuit untuk lansia” sebenarnya bukan satu kategori yang berlaku untuk semua orang.

Keras atau lembut, jangan disepelekan

Bagi lansia dengan gigi yang masih kuat, biskuit renyah mungkin tidak menjadi masalah. Tetapi bagi yang mengalami kehilangan gigi, gigi palsu yang kurang nyaman, mulut kering, atau kemampuan menelan yang menurun, biskuit keras dan mudah menjadi remah dapat menyulitkan.

Karena itu, selain membaca label gizi, lihat juga apakah teksturnya aman dan nyaman dimakan.

Makanan yang bergizi tetapi sulit dimakan tentu bukan pilihan yang ideal.

Berapa banyak?

Tidak perlu menghitung setiap keping secara berlebihan. Namun, jangan pula makan langsung dari bungkusnya tanpa menyadari jumlah yang sudah dikonsumsi.

Ambil secukupnya ke dalam piring atau wadah kecil dan perhatikan ukuran sajian pada label kemasan. Biskuit tetaplah camilan, bukan makanan utama.

Akan lebih baik lagi jika camilan dilengkapi dengan makanan lain yang lebih kaya zat gizi, sesuai kebutuhan lansia.

Jadi, apa biskuit terbaik?

Jika harus dibuat sederhana, carilah biskuit berbahan gandum utuh, rendah gula, rendah natrium, tidak tinggi lemak jenuh, dan mengandung serat.

Namun, jangan berhenti pada kata “sehat” di kemasan. Baca labelnya. Perhatikan porsinya. Sesuaikan dengan kondisi lansia yang akan memakannya.

Dan yang tidak kalah penting, jangan menjadikan biskuit sebagai pengganti makan utama.

Sebab, di usia lanjut, tujuan makan bukan hanya membuat perut terisi. Makanan yang tepat membantu mempertahankan kekuatan, menjaga fungsi tubuh, dan mendukung lansia tetap aktif serta mandiri.

Biskuit boleh hadir di meja. Tetapi jangan sampai tulisan “sehat” di kemasan membuat kita lupa: yang paling penting bukan kemasannya, melainkan apa yang benar-benar masuk ke tubuh. (a2s)

biskuit,biskuit lansia,makanan sehat,lansia

ARTIKEL LAINNYA

Awas, Lansia Agar Menjauh dari Judol

Cuaca Makin Panas, Mengapa Lansia Lebih Rentan 'Heat Stress'?

Hobi di Usia Lanjut Bukan Sekadar Mengisi Waktu, Apa Manfaatnya?

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026