
GERIATRI.CO.ID - Cuaca panas bukan sekadar membuat tubuh terasa gerah. Bagi lansia, suhu tinggi dapat menjadi masalah kesehatan yang lebih serius karena kemampuan tubuh untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan suhu cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Kelompok usia 65 tahun ke atas termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami penyakit akibat panas.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), lansia tidak mampu beradaptasi terhadap perubahan suhu secara sebaik orang yang lebih muda. Kondisi kronis dan penggunaan obat tertentu juga dapat meningkatkan risikonya.
Heat stress terjadi ketika tubuh tidak mampu membuang panas secara efektif sehingga suhu tubuh meningkat. Jika tidak segera ditangani, kondisi akibat panas dapat berkembang dari keluhan ringan seperti kram dan kelelahan menjadi heat exhaustion hingga heat stroke, yang merupakan kondisi darurat medis.
Risikonya semakin besar ketika suhu tinggi berlangsung dalam waktu lama, terutama jika disertai kelembapan tinggi. Tubuh sebenarnya memiliki mekanisme alami untuk mendinginkan diri, salah satunya melalui keringat dan pelebaran pembuluh darah di kulit. Namun, kemampuan mekanisme tersebut dapat berkurang pada usia lanjut.
Mengapa Lansia Lebih Rentan?
1. Kemampuan tubuh mengatur suhu menurun
Seiring bertambahnya usia, tubuh tidak selalu dapat merespons perubahan suhu secepat orang yang lebih muda. Lansia juga dapat mengalami penurunan kemampuan berkeringat dan respons pembuluh darah terhadap panas. Akibatnya, tubuh menjadi lebih sulit melepaskan panas ketika berada di lingkungan yang sangat panas.
2. Rasa haus bisa berkurang
Salah satu masalah yang sering muncul pada lansia adalah mereka tidak selalu merasa haus meskipun tubuh mulai kekurangan cairan.
Padahal, dehidrasi dapat memperburuk kemampuan tubuh untuk mengatur suhu. Karena itu, menunggu sampai merasa haus untuk minum bukan strategi yang ideal ketika cuaca sedang panas.
CDC menyarankan lansia untuk minum lebih banyak dari biasanya dan tidak menunggu sampai haus, dengan catatan kebutuhan cairan tetap perlu disesuaikan jika dokter memberikan pembatasan cairan atau pasien menggunakan obat tertentu.
3. Penyakit kronis dapat memperbesar risiko
Banyak lansia hidup dengan kondisi kronis seperti penyakit jantung, gangguan sirkulasi atau masalah kesehatan lainnya. Kondisi tersebut dapat membuat tubuh lebih sulit beradaptasi terhadap panas.
CDC mencatat bahwa penyakit kronis tertentu dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk merasakan dan merespons perubahan suhu. Panas juga dapat memperburuk kondisi kesehatan yang sudah ada.
4. Obat yang dikonsumsi juga bisa berpengaruh
Sejumlah obat yang umum digunakan, termasuk beberapa obat diuretik, obat tekanan darah, obat dengan efek antikolinergik, serta obat psikiatri tertentu, dapat memengaruhi kemampuan tubuh mempertahankan cairan, berkeringat, mengatur suhu atau mempertahankan tekanan darah.
CDC memperbarui panduan klinis mengenai hubungan panas dan obat pada 2025, serta menekankan bahwa kombinasi panas dengan obat tertentu dapat meningkatkan risiko dehidrasi, gangguan elektrolit, tekanan darah turun hingga pingsan.
Namun, jangan menghentikan atau mengubah dosis obat sendiri hanya karena cuaca panas. Jika khawatir mengenai obat yang dikonsumsi, konsultasikan dengan dokter.
Lansia dan keluarga sebaiknya tidak mengabaikan perubahan kondisi saat cuaca panas. Beberapa tanda penyakit akibat panas antara lain:
CDC menyarankan segera mencari pertolongan medis jika muncul gejala penyakit akibat panas, terutama bila kondisi memburuk. Pada heat stroke, kondisi dapat berkembang menjadi keadaan yang mengancam nyawa. Karena itu, jangan menunggu gejala menjadi berat sebelum mencari pertolongan.
Pencegahan menjadi langkah penting. Keluarga atau caregiver dapat membantu lansia dengan beberapa cara sederhana di antaranya:
Pastikan cukup minum. Sediakan air secara berkala dan jangan hanya menunggu lansia meminta minum.
Jaga lingkungan tetap sejuk. Gunakan pendingin ruangan atau cari tempat yang lebih sejuk ketika suhu di dalam rumah terlalu panas. CDC juga mengingatkan agar kipas tidak dijadikan satu-satunya cara mendinginkan tubuh ketika kondisi benar-benar panas.
Batasi aktivitas berat. Jika harus beraktivitas di luar rumah, pilih waktu ketika suhu lebih rendah dan berikan waktu istirahat yang cukup.
Gunakan pakaian yang ringan dan longgar. Pakaian yang memungkinkan sirkulasi udara dapat membantu tubuh tetap nyaman.
Perhatikan lansia yang tinggal sendiri. Keluarga sebaiknya melakukan pengecekan secara berkala, terutama pada lansia yang memiliki penyakit kronis atau membutuhkan banyak obat.
Bagi lansia, rasa gerah yang tampak sederhana dapat berkembang menjadi masalah kesehatan yang serius. Terlebih jika mereka tinggal sendiri, memiliki penyakit kronis, sulit memenuhi kebutuhan cairan atau mengonsumsi beberapa jenis obat sekaligus.
Karena itu, ketika cuaca semakin panas, perhatian keluarga bukan hanya soal membuat lansia merasa nyaman, tetapi juga memastikan tubuh mereka tetap terhidrasi, lingkungan tetap sejuk, aktivitas disesuaikan, dan tanda-tanda penyakit akibat panas dikenali sejak dini.
Pada akhirnya, menjaga lansia dari heat stress bukan berarti melarang mereka beraktivitas. Yang lebih penting adalah membantu mereka beraktivitas dengan aman, mengenali batas tubuh, dan tidak mengabaikan tanda bahaya ketika suhu sedang tinggi. (lia)
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri