
GERIATRI.CO.ID - Ibadah haji selalu menjadi impian tertinggi bagi ribuan umat Muslim di Indonesia. Namun, di balik kekhusyukan dan perjuangan menunaikan rukun Islam kelima ini, ada dinamika fisik dan kesehatan yang membutuhkan perhatian ekstra, khususnya bagi para jemaah yang sudah memasuki usia senja.
Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data menarik terkait penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026. Lebih dari sepertiga (sekitar 36,6%) dari total jemaah haji Indonesia ternyata berada di kelompok usia 60 tahun ke atas. Bahkan, 21,5% di antaranya telah berusia 65 tahun atau lebih.
Fakta ini menegaskan satu hal penting: Haji bagi mayoritas masyarakat Indonesia adalah ibadah fisik di usia matang.
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyoroti bahwa perhatian terhadap jemaah berumur tak hanya berfokus pada kelompok lansia prioritas tinggi saja. Ada kelompok usia 60 hingga 64 tahun yang sering kali terlewat dari radar pendampingan khusus.
"Kelompok usia 60 sampai 64 tahun memang belum masuk kategori lansia prioritas, tetapi sebagian di antaranya sudah mulai mengalami penurunan kondisi fisik dan mungkin berpotensi membutuhkan pendampingan," ujar Amalia.
Secara medis dan geriatri, usia 60-64 tahun kerap menjadi masa transisi. Di rentang usia ini, stamina mulai menurun, dan penyakit degeneratif seperti hipertensi, nyeri sendi, hingga diabetes kerap mulai menunjukkan gejalanya. Ketika dihadapkan pada cuaca ekstrem di Arab Saudi dan aktivitas fisik padat (seperti tawaf, sai, serta perjalanan Arafah-Muzdalifah-Mina), kelompok ini memerlukan kesiapan fisik yang matang dan pemantauan berkala agar kondisi fisiknya tidak drop di tengah jalan.
Haji yang Inklusif dan Ramah Disabilitas
Selain aspek usia, BPS juga mencatat sebanyak 291 jemaah (0,2%) pada musim haji 2026 merupakan penyandang disabilitas. Angka ini menjadi pengingat penting bahwa layanan haji ke depan harus semakin ramah, aksesibel, dan inklusif sejak hari pertama jemaah masuk ke embarkasi di Tanah Air.
BPS memberikan saran strategis agar alokasi dan jenis pelayanan haji di setiap embarkasi tak cuma diukur dari jumlah jemaah semata, melainkan dari komposisi usia dan kebutuhan fisik para jemaah yang dilayani.
Embarkasi dengan proporsi lansia atau penyandang disabilitas yang lebih tinggi idealnya dibekali dengan fasilitas pendukung yang lebih memadai, porsi tenaga medis yang proporsional, serta pendampingan yang lebih intensif.
Indeks Kepuasan Layanan Haji 2026: Kategori Memuaskan
Di tengah tantangan pelayanan jemaah lansia dan disabilitas tersebut, hasil Survei Kepuasan Layanan Haji Indonesia (SKLHI) 2026 mencatatkan kabar baik. Indeks Kepuasan Layanan Haji Indonesia (IKLHI) tahun ini berhasil menyentuh angka 83,28 poin, yang masuk dalam kategori Memuaskan.
Capaian nilai tinggi ini dinilai lebih akurat karena BPS kini menggunakan metodologi penilaian baru yang jauh lebih komprehensif. Jika metode lama hanya berfokus pada hasil (output) layanan di luar negeri, metodologi baru ini memotret seluruh alur proses pelayanan secara utuh, sejak jemaah berada di dalam negeri hingga kepulangan dari Arab Saudi.
Menghadapi tren jemaah yang didominasi oleh kelompok usia senja, pendekatan pelayanan berbasis kesehatan geriatri dan inklusivitas bukan lagi pilihan, melainkan prioritas utama. Mulai dari edukasi fisik pra-keberangkatan, penyesuaian menu gizi lansia, kelengkapan kursi roda dan fasilitas ramah disabilitas, hingga kesiapan tim medis lapangan. (a2s)
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri