Rumah Tangga Lansia Masih Bergantung pada Keluarga


Riset tersebut mencatat 55,32% lansia masih bekerja, dan sebanyak 84,75% di antaranya berada di sektor informal.

2026-09-22T14:13

GERIATRI.CO.ID - Menjadi tua bukan hanya soal kesehatan. Ada satu persoalan lain yang tak kalah penting: siapa yang membiayai kehidupan ketika seseorang sudah tidak lagi produktif?

Riset DBS Foundation bertajuk “Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita?” mencatat, sebanyak 82,96% rumah tangga lansia masih bergantung pada penghasilan anggota keluarga yang bekerja.

Persoalan ini menjadi semakin penting karena jumlah lansia terus bertambah. Proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas diperkirakan telah mencapai sekitar 12% pada 2025 dan diproyeksikan menembus lebih dari 20% pada 2045.

Di sisi lain, keluarga Indonesia juga semakin kecil. Angka total fertility rate (TFR) turun dari 3,11 anak per perempuan pada awal 1990-an menjadi 2,13 pada 2024 dan diproyeksikan mencapai 1,97 pada 2045.

Artinya, pada masa mendatang, jumlah anggota keluarga usia produktif yang bisa berbagi tanggung jawab ekonomi dan merawat orang tua berpotensi semakin terbatas.

Lansia Masih Harus Bekerja

Menariknya, banyak lansia Indonesia ternyata belum benar-benar berhenti bekerja. Riset tersebut mencatat 55,32% lansia masih bekerja, dan sebanyak 84,75% di antaranya berada di sektor informal.

Bekerja di usia lanjut tentu tidak selalu berarti buruk. Bagi sebagian lansia, bekerja merupakan cara untuk tetap aktif dan produktif. Namun, ketika bekerja menjadi kebutuhan utama untuk bertahan hidup, persoalannya menjadi berbeda.

Apalagi, kurang dari 1% rumah tangga lansia dalam riset tersebut tercatat mengandalkan tabungan dan investasi sebagai sumber kehidupan ekonomi.

Kondisi ini memperlihatkan satu hal sederhana: persiapan masa tua tidak sebaiknya dimulai ketika sudah tua.

Paham Pentingnya Pensiun, Belum Tentu Punya Dana Pensiun

Kesenjangan juga terlihat pada literasi dan kepemilikan dana pensiun. Sebanyak 27,79% responden memahami pentingnya dana pensiun, tetapi kepemilikan tabungan atau dana pensiun baru sekitar 5,37%.

Padahal, masyarakat usia produktif kini semakin mudah mengakses layanan keuangan. Akses tersebut belum otomatis membuat seseorang siap secara finansial menghadapi masa pensiun.

Karena itu, kesiapan menghadapi usia lanjut perlu dibangun jauh sebelum seseorang memasuki usia 60 tahun. Bukan hanya dengan menabung, tetapi juga melalui pekerjaan yang layak, perlindungan sosial, kesehatan yang terjaga, dan perencanaan keuangan.

Menuanya Indonesia pada akhirnya bukan hanya urusan para lansia. Ini adalah urusan semua generasi.

Sebab, semakin siap seseorang menghadapi masa tuanya, semakin kecil pula kemungkinan seluruh beban kehidupan di usia lanjut harus dipikul oleh anak dan keluarga.

Tua tetap harus punya pilihan. Dan pilihan itu lebih mudah dimiliki jika persiapannya dimulai sejak masih muda. (a2s)

***

Foto: Ilustrasi (gemini.google.com)

keluarga,keluarga lansia,berita lansia,berita

ARTIKEL LAINNYA

Pepaya, Buah Sederhana yang Baik untuk Lansia

7 Hal Kecil di Rumah yang Bisa Membantu Lansia dengan Demensia Lebih Tenang

Sudah Merawat Lansia, Tapi Sudah Tepatkah Caranya?

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026