
GERIATRI.CO.ID - Rumah seharusnya menjadi tempat paling familiar bagi lansia. Namun bagi seseorang yang hidup dengan demensia, rumah yang sama pun terkadang bisa terasa membingungkan.
Suara televisi yang terlalu keras, ruangan yang gelap, barang yang tiba-tiba berpindah tempat, atau terlalu banyak benda berserakan dapat membuat lansia merasa tidak nyaman atau cemas.
Kabar baiknya, keluarga tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Beberapa penyesuaian kecil di rumah justru dapat membantu lansia merasa lebih aman, tenang, dan tetap mandiri.
Berikut beberapa hal yang bisa dicoba.
1. Buat rumah tetap familiar
Jangan terlalu sering mengubah posisi furnitur atau memindahkan barang-barang yang sudah dikenal lansia.
Alzheimer’s Society menyebut lingkungan yang familiar dapat membantu seseorang dengan demensia merasa lebih aman dan mempertahankan kemandirian. Perubahan lingkungan yang terlalu besar juga berpotensi membuat seseorang lebih bingung.
2. Pastikan rumah cukup terang
Ruangan yang gelap atau memiliki bayangan tajam dapat membuat lansia lebih sulit mengenali lingkungan sekitar.
Alzheimer’s Society dan Alzheimer’s Association sama-sama menekankan pentingnya pencahayaan yang baik karena perubahan tingkat cahaya dapat membingungkan dan meningkatkan risiko tersandung atau jatuh.
3. Kurangi suara yang tidak perlu
Rumah yang terlalu ramai belum tentu membuat lansia merasa nyaman.
Alzheimer’s Society menyebut lingkungan yang terlalu bising, terlalu terang, terlalu panas atau dingin, maupun terlalu penuh dapat menyebabkan stimulasi berlebihan dan memicu kegelisahan.
4. Jangan biarkan rumah terlalu penuh barang
Tumpukan barang, kabel yang berserakan, atau furnitur yang menghalangi jalan tidak hanya meningkatkan risiko jatuh, tetapi juga dapat membuat lingkungan lebih sulit dipahami.
Usahakan jalur dari kamar menuju ruang keluarga atau kamar mandi tetap mudah dilalui.
5. Beri tanda sederhana pada ruangan
Ketika ingatan dan orientasi mulai terganggu, mencari kamar mandi atau kamar tidur sendiri bisa menjadi tantangan. Tanda sederhana pada pintu dapat membantu.
Alzheimer’s Society menyarankan penggunaan tanda yang jelas dan mudah dikenali, terutama pada area seperti kamar mandi dan pintu keluar.
6. Sediakan sudut tenang dengan benda yang disukai
Tidak semua aktivitas harus dilakukan di ruang yang ramai. Keluarga bisa menyediakan satu tempat yang nyaman untuk duduk, membaca, mendengarkan musik, melihat foto keluarga, atau sekadar beristirahat.
Benda yang familiar seperti foto, pakaian kesayangan, atau barang yang memiliki kenangan tertentu juga dapat memberikan rasa nyaman.
7. Pertahankan rutinitas sehari-hari
Bukan hanya rumah yang perlu dibuat familiar. Rutinitas juga penting. Bangun, sarapan, mandi, beraktivitas, makan siang, beristirahat, dan tidur pada waktu yang relatif konsisten dapat membantu hari terasa lebih mudah diprediksi.
WHO merekomendasikan agar rutinitas seseorang dengan demensia sebisa mungkin tetap mirip dengan rutinitas sebelum mengalami demensia, sambil menyesuaikannya dengan kemampuan yang berubah.
Membuat rumah lebih ramah demensia bukan berarti mengubahnya menjadi tempat yang steril dan penuh aturan.
Tujuannya justru membuat lansia lebih mudah memahami lingkungan, tetap merasa memiliki rumahnya, dan sebisa mungkin tetap melakukan hal-hal yang disukainya.
WHO menekankan pentingnya lingkungan yang inklusif bagi orang dengan demensia agar mereka tetap dapat berpartisipasi, hidup dengan bermartabat, dan mempertahankan kualitas hidup. (lia)
“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri