Kecewa Saat Tim Idola Kalah di Final, Jangan Lama-Lama ya


Merasa sedih tentu sangat manusiawi, namun jangan sampai kekecewaan ini berlarut-larut hingga mengganggu kesehatan, menurunkan nafsu makan, atau merusak pola tidur.

2026-07-20T17:01

GERIATRI.CO.ID - Bagi banyak lansia, mendukung sebuah tim olahraga bukan sekadar pengisi waktu luang di masa tua. Menonton pertandingan adalah ritual penuh gairah yang menyalakan kembali memori masa muda, memicu adrenalin, dan menjadi sarana berkumpul yang hangat bersama keluarga.

Namun, bagaimana jika tim yang didukung sepenuh hati justru harus menelan kekalahan pahit di partai final, seperti misalnya Argentina dari Spanyol di final Piala Dunia 2026? Rasa kecewa dan patah hati yang mendalam kerap kali melanda, bahkan terkadang kesedihan ini terasa jauh lebih intens bagi mereka yang berusia lanjut.

Bagi Opa atau Oma, tim favorit yang sudah didukung selama puluhan tahun sering kali sudah dianggap sebagai bagian dari identitas diri. Ketika tim tersebut gagal di langkah terakhir, kekalahan itu rasanya seperti kehilangan sesuatu yang sangat personal.

Secara psikologis, lansia memiliki investasi emosional yang sangat tinggi terhadap sejarah panjang tim tersebut. Ditambah lagi dengan rutinitas harian yang longgar, pikiran tentang kekalahan itu menjadi lebih mudah berputar-putar di kepala tanpa banyak pengalihan.

Secara fisik, lonjakan adrenalin yang tinggi saat menonton laga final yang menegangkan juga berpengaruh. Ketika hasil akhir tidak sesuai harapan, hormon tersebut turun drastis dan bisa memicu perasaan lemas, lesu, hingga mengganggu suasana hati selama beberapa hari.

Merasa sedih tentu sangat manusiawi, namun jangan sampai kekecewaan ini berlarut-larut hingga mengganggu kesehatan, menurunkan nafsu makan, atau merusak pola tidur. Ada beberapa langkah bijak agar Opa dan Oma bisa segera bangkit dari kesedihan pasca-pertandingan.

Pertama, validasi perasaan tersebut namun berikan batasan waktu yang jelas. Tidak apa-apa untuk merasa kesal atau enggan membahas pertandingan selama satu atau dua hari, tetapi buat komitmen bahwa setelah itu hidup dan rutinitas harus terus berjalan.

Kedua, cobalah ingat kembali esensi dari olahraga, yaitu kompetisi yang sehat di mana kalah dan menang adalah hal biasa. Alihkan fokus pada perjuangan luar biasa tim idola hingga berhasil menembus babak final, bukan hanya pada hasil akhirnya.

Ketiga, segera alihkan perhatian ke hobi lain yang menenangkan untuk memulihkan sistem saraf setelah ketegangan melanda. Aktivitas fisik ringan seperti merawat tanaman, berjalan santai di pagi hari, atau bermain dengan cucu sangat ampuh menurunkan hormon stres.

Terakhir, peran keluarga sangat penting untuk tidak mengejek atau menyepelekan kesedihan mereka. Temani Opa atau Oma, suguhkan teh hangat, dan dengarkan keluh kesahnya, karena pengertian dari orang terdekat adalah obat terbaik untuk mengembalikan senyuman mereka. (a2s)

***

Foto: Lionel Messi kalah di final Piala Dunia 2026 (FIFA)

piala dunia 2026,rekor piala dunia 2026,berita,berita lansia

ARTIKEL LAINNYA

China Siapkan Asuransi Khusus Perawatan Lansia, Bisakah Jadi Contoh bagi Indonesia?

Sarkopenia, dari Jatuh sampai Hilangnya Kemandirian

Tips Memilih Caregiver

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026