Hak Lansia untuk Dirawat dengan Bermartabat, Mengapa Penting?


WHO juga mendorong pendekatan person-centred care, yaitu melibatkan lansia dalam setiap keputusan mengenai perawatan selama kondisi mereka memungkinkan.

2026-07-19T15:23

GERIATRI.CO.ID - Memasuki usia lanjut bukan berarti seseorang kehilangan hak untuk hidup sehat, dihormati, dan menentukan pilihan bagi dirinya sendiri. Justru, ketika kebutuhan akan perawatan meningkat, setiap lansia berhak memperoleh pelayanan yang menjaga martabat dan kualitas hidupnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan bahwa healthy ageing bukan hanya tentang hidup lebih lama, tetapi juga memastikan lansia tetap dapat menjalani hidup yang bermakna, mandiri, dan sesuai dengan kebutuhannya.

Perawatan yang bermartabat (dignified care) berarti memperlakukan lansia sebagai individu yang memiliki hak, nilai, dan pilihan hidup. Karena itu, pelayanan kesehatan tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga menjaga kenyamanan, kemandirian, dan kesejahteraan emosional mereka.

WHO juga mendorong pendekatan person-centred care, yaitu melibatkan lansia dalam setiap keputusan mengenai perawatan selama kondisi mereka memungkinkan.

Membantu lansia bukan berarti mengambil alih semua aktivitasnya. Selama masih mampu, lansia sebaiknya didorong untuk tetap makan, berpakaian, atau melakukan aktivitas ringan secara mandiri. Pendekatan ini membantu menjaga kemampuan fisik sekaligus meningkatkan rasa percaya diri.

Di Indonesia, hak lansia untuk memperoleh pelayanan kesehatan diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia. Selain mendapatkan pelayanan kesehatan, lansia juga berhak terbebas dari diskriminasi, kekerasan, maupun penelantaran.

Seiring bertambahnya usia, sebagian lansia mengalami penurunan kemampuan fisik atau kognitif. Namun, hal tersebut tidak berarti mereka kehilangan hak untuk menyampaikan pendapat mengenai perawatan yang akan diterima.

WHO menekankan pentingnya menghormati preferensi, nilai, budaya, dan pilihan hidup lansia selama proses pengambilan keputusan. Bila kondisi kesehatan memungkinkan, lansia sebaiknya dilibatkan dalam menentukan pengobatan, tempat perawatan, maupun aktivitas yang ingin mereka lakukan.

Komunikasi yang terbuka antara tenaga kesehatan, keluarga, dan lansia menjadi kunci agar keputusan yang diambil benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka.

Sebagian besar lansia tinggal bersama keluarga. Karena itu, menghargai pendapat mereka, melibatkan dalam pengambilan keputusan, serta memberikan kesempatan untuk tetap aktif merupakan bentuk perawatan yang tidak kalah penting dibandingkan pengobatan.

Pada akhirnya, merawat lansia bukan hanya tentang memperpanjang usia, tetapi juga memastikan mereka dapat menjalani masa tua dengan nyaman, dihormati, dan tetap memiliki kualitas hidup yang baik. (lia)

komunikasi,komunikasi lansia,berita lansia,lansia

ARTIKEL LAINNYA

Kecewa Saat Tim Idola Kalah di Final, Jangan Lama-Lama ya

Mengenang Keberanian 'Dr. Alan Grant' Melawan Waktu dan Penyakit

Cara Membantu Lansia untuk Mandi

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026