Caregiver di Indonesia: Dipikul Tanggung Jawab Besar, tapi Sering Tak Terlihat


Profesi caregiver masih sering dianggap “pekerjaan biasa” atau bahkan “pembantu”.

2026-07-17T16:10

GERIATRI.CO.ID - Masalah caregiver di Indonesia itu cukup kompleks, dan sering kali “tidak kelihatan” padahal dampaknya besar—baik ke lansia maupun ke caregiver itu sendiri. Kalau dirangkum secara jujur dan membumi, ini beberapa isu utama yang sering terjadi:

1. Kurangnya pelatihan yang memadai

Banyak caregiver, terutama yang informal (anggota keluarga), merawat lansia tanpa bekal pengetahuan dasar. Akibatnya banyak yang salah dalam mengangkat pasien, atau tidak paham kondisi seperti demensia, stroke, atau sarcopenia, atau bahkkan bingung menghadapi perubahan perilaku lansia. Padahal merawat lansia itu bukan sekadar “menjaga”, tapi butuh skill khusus.

2. Beban fisik dan mental yang berat

Caregiver sering mengalami kelelahan (burnout), stres berkepanjangan, atau sekadar kurang waktu untuk diri sendiri. Apalagi kalau lansia mengalami bedrest, atau pasien sering rewel, atau misalnya lansia butuh bantuan 24 jam. Ironisnya, kesehatan caregiver sering justru terabaikan.

3. Kurangnya penghargaan

Profesi caregiver masih sering dianggap “pekerjaan biasa” atau bahkan “pembantu”. Padahal tanggung jawabnya besar, risikonya tinggi (fisik & emosional), dan butuh kesabaran ekstra. Dampaknya (misalnya) gaji rendah, minim perlindungan kerja, dan motivasi mudah turun.

4. Akses layanan dan dukungan masih terbatas

Di kota besar mungkin sudah ada pelatihan caregiver dan home care service. Tapi di banyak daerah akses sangat terbatas, informasi minim, atau tidak ada sistem yang men-support. Akhrnya caregiver relatif bekerja sendiri tanpa panduan.

5. Masalah komunikasi dengan keluarga

Ini sering terjadi: keluarga punya ekspektasi tinggi, tapi tidak paham kondisi lansia. Atau caregiver disalahkan jika ada masalah, serta tidak ada komunikasi yang terbuka. Padahal perawatan lansia idealnya kerja tim.

6. Tantangan menghadapi lansia dengan gangguan kognitif

Kasus seperti demensia makin meningkat, tapi pemahaman masih rendah. Akibatnya lansia dianggap "rewel" atau "sengaja". Caregiver sering pula dianggap frustrasi. Hal-hal seperti ini sering terjadi. 

7. Minimnya standar profesi yang kuat

Di Indonesia, standar caregiver belum sekuat tenaga medis. Sertifikasi belum merata, belum ada sistem yang benar-benar terstruktur nasional, serta kompetensi pun bervariasi.

8. Tekanan ekonomi

Banyak caregiver bekerja dengan gaji rendah, atau jam kerja yang panjang, atau bahkan tanpa jaminan kesehatan atau asuransi, sementara kebutuhan hidup terus naik.

Dengan demikian, masalah caregiver di Indonesia bukan cuma soal tenaga kerja, tapi soal sistem, misalnya edukasi yang kurang, dukungan yang minim, atau penghagaan rendah. Padahal, dengan jumlah lansia yang terus meningkat, caregiver justru akan jadi pilar penting dalam sistem kesehatan ke depan. (a2s)

caregiver,caregiver keluarga

ARTIKEL LAINNYA

Siapa yang Akan Merawat Lansia Indonesia? Ini Fokus Baru Pemerintah

Ruang Bahagia dan Secercah Harapan Baru bagi Lansia Jakarta

Pilar Utama dalam Menjaga Kepadatan Tulang

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026