Ruang Bahagia dan Secercah Harapan Baru bagi Lansia Jakarta


Data menunjukkan jumlah lansia di Jakarta telah mencapai 1,16 juta orang atau sekitar 10,6% dari total penduduk.

2026-07-16T16:03

GERIATRI.CO.ID - Di tengah deru pembangunan dan kesibukan warganya yang bergerak cepat, kelompok lanjut usia (lansia) kerap kali terpinggirkan di dalam rumah, terputus dari interaksi sosial yang dulunya menjadi bagian dari keseharian mereka.

Namun, kabar baik berembus dari Balai Kota. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkomitmen untuk mengembalikan senyum dan semangat Opa-Oma di ibu kota. Langkah konkret tengah disiapkan: menghadirkan kembali ruang khusus berkumpul bagi para lansia.

Langkah ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan sebuah ikhtiar besar untuk menjaga kesehatan mental, meningkatkan rasa percaya diri, dan memperpanjang usia kebahagiaan para senior kita.

Dalam Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30 di Jakarta Bird Land, Ancol, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menekankan satu hal penting: interaksi adalah kunci.

"Memang pertemuan-pertemuan yang seperti itu membuat umur panjang, membuat merasa dirinya bermanfaat dan produktif," ujar Pramono.

Saat ini, Jakarta sedang bergerak menjadi kota yang menua secara demografis. Data menunjukkan jumlah lansia di Jakarta telah mencapai 1,16 juta orang atau sekitar 10,6% dari total penduduk. Artinya, 1 dari 10 orang yang kita temui di jalanan Jakarta adalah lansia.

Menuju usianya yang hampir menginjak lima abad, Jakarta punya tantangan besar: tidak boleh hanya ramah bagi kaum pekerja produktif, tetapi harus menjadi kota yang welas asih dan inklusif bagi warganya yang telah memasuki usia senja.

Oleh karena itu, hilangnya ruang berkumpul lansia sebelumnya—karena dialihkan untuk program Sekolah Rakyat—akan segera digantikan dengan lokasi baru yang lebih representatif.

Membangun kebahagiaan lansia tidak bisa dilakukan dengan setengah hati. Selain ruang interaksi, Pemprov DKI Jakarta juga memperkuat jaring pengaman sosial dan ruang pemberdayaan melalui tiga pilar utama:

1. Merawat Harapan Hidup

"Kata kuncinya adalah lansia di Jakarta merasa memiliki harapan. Seseorang yang punya harapan biasanya lebih semangat untuk hidup," tutur Pramono Anung. Harapan inilah yang membedakan lansia yang pasif dengan lansia yang aktif.

2. Optimalisasi Kartu Lansia Jakarta (KLJ)

Hingga saat ini, sebanyak 168.497 lansia telah menerima manfaat KLJ berupa bantuan sosial sebesar Rp 300.000 per bulan, fasilitas transportasi umum gratis, serta layanan kesehatan gratis di Puskesmas dan RSUD. Pemerintah menegaskan bahwa validasi data akan terus diperketat agar bantuan ini benar-benar jatuh ke tangan lansia kurang mampu yang paling membutuhkan.

3. Sekolah Lansia: Belajar Tanpa Batas Waktu

Siapa bilang belajar hanya untuk yang muda? Jakarta kini telah memiliki 78 Sekolah Lansia dengan 2.278 peserta aktif. Di sini, lansia tidak hanya belajar tentang kesehatan fisik di hari tua, tetapi juga kerajinan tangan, stimulasi memori, dan yang paling penting: menemukan komunitas baru yang suportif. (a2s)

sekolah lansia,ruang untuk lansia,berita lansia,lansia

ARTIKEL LAINNYA

Pemain Tertua Yang Pernah Tampil di Piala Dunia

Bukan Beban, Lansia Masih Bisa Berkontribusi

Ini Makanan Fermentasi yang Bisa Bantu Jaga Pencernaan Lansia

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026