Tanda-Tanda Sarkopenia dan Awasi 3 Penyakit Ini


Tanda-tanda ini terlalu sering dianggap “wajar karena tua”, lalu dibiarkan. Sayangnya justru itu yang membuat banyak kasus terlambat ditangani.

2026-07-14T15:09

Oleh dr. Fatihah Fikriyah

Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami berbagai perubahan yang sering kali terjadi secara perlahan dan tidak disadari. Salah satu yang penting untuk diperhatikan adalah sarkopenia, yaitu kondisi penurunan massa dan kualitas otot yang berkaitan erat dengan proses penuaan.

Meski kerap dianggap sebagai bagian alami dari bertambahnya usia, sarkopenia sebenarnya dapat berdampak besar pada kemandirian dan kualitas hidup lansia jika tidak dikenali dan ditangani sejak dini.

Beberapa tanda berikut layak diwaspadai, baik pada diri sendiri maupun orang tua kita yang berusia di atas 50:

  • Genggaman melemah — sulit membuka tutup botol atau membawa belanjaan seperti dulu.
  • Langkah kaki melambat dari biasanya, sampai mulai tertinggal saat berjalan bersama.
  • Sulit bangkit dari kursi tanpa bertumpu pada tangan.
  • Cepat lelah meski kegiatannya ringan, misalnya naik tangga satu lantai sudah membuat napas memburu.
  • Keseimbangan memburuk dan lebih sering nyaris atau benar-benar jatuh.
  • Berat badan turun tanpa sebab jelas, terutama lengan dan kaki terasa “mengempis.”

Tanda-tanda ini terlalu sering dianggap “wajar karena tua”, lalu dibiarkan. Sayangnya justru itu yang membuat banyak kasus terlambat ditangani. Semakin awal dikenali, semakin besar peluang memperlambat — bahkan membalikkan — kondisinya.

Penyakit menahun yang erat kaitannya dengan sarkopenia

Beberapa penyakit menahun punya kaitan yang sangat erat dengan sarkopenia, sampai-sampai konsensus terbaru menganjurkan penderitanya langsung dianggap “berisiko” dan mulai ditangani lebih dini. Tiga di antaranya layak diperhatikan khusus:

Diabetes melitus (DM)

Resistansi insulin mengganggu pembentukan protein otot, sementara gula darah tinggi yang menahun dan peradangan kronis mempercepat penguraiannya. Hubungannya berjalan dua arah: diabetes memperburuk otot, dan otot yang menyusut justru memperburuk kendali gula darah.

Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)

Peradangan sistemik, kekurangan oksigen, penggunaan steroid jangka panjang, dan berkurangnya aktivitas akibat sesak napas membuat otot cepat menyusut. Sarkopenia sangat umum pada penderita PPOK dan memperberat keluhan sesaknya.

Sirosis hati.

Hati adalah pusat pengolahan protein. Ketika fungsinya rusak, metabolisme protein dan asam amino terganggu serta tubuh mudah kekurangan gizi. Akibatnya sarkopenia menjadi salah satu komplikasi yang paling sering pada sirosis sekaligus penanda penting beratnya penyakit.

Pada serial berikutnya akan dibahas sarkopenia bukan sekadar tubuh yang melemah, tapi jatuh dan patah tulang yang konsisten, sampai risiko kematian yang meningkat.


Baca juga
Apa itu Sarkopenia
 

sarkopenia,jurnal

ARTIKEL LAINNYA

Ingin Tetap Mandiri di Usia Tua? Mulailah Persiapkan Sejak Usia 40-an

Jepang Menua Lebih Cepat dari Dunia: Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia?

Yuk, Jadi Caregiver yang Lebih Siap dan Percaya Diri!

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026