Apa Itu Sarkopenia?


Yang melemah bukan penampilan, melainkan kemampuan untuk berjalan, menjaga keseimbangan, dan mengurus diri sendiri.

2026-07-07T16:34

Oleh dr. Fatihah Fikriyah

GERIATRI.CO.ID - Pernahkah memperhatikan seorang lansia yang dulu tegap dan kuat, kini melangkah lebih pelan, kesulitan bangkit dari kursi, atau genggamannya terasa melemah? Banyak orang menganggapnya sebagai bagian wajar dari menua yang tak bisa diapa-apakan.

Padahal kondisi ini punya nama medis, dan yang lebih penting, ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mencegah serta mengatasinya.

Sarkopenia 

Istilahnya adalah sarkopenia, dari bahasa Yunani, sarx (daging atau otot) dan penia (kekurangan) — secara harfiah “kekurangan daging.” Dalam definisi medisnya, sarkopenia adalah penurunan massa otot, kekuatan, dan kemampuan fisik yang berlangsung perlahan, terutama seiring bertambahnya usia.

Satu hal yang sering disalahpahami: sarkopenia bukan sekadar soal “badan jadi kurus di usia tua.” Seseorang bisa saja terlihat gemuk namun tetap mengalami sarkopenia, karena yang berkurang adalah otot fungsional yang perlahan digantikan oleh lemak. Yang melemah bukan penampilan, melainkan kemampuan untuk berjalan, menjaga keseimbangan, dan mengurus diri sendiri.

Otot sendiri bukan jaringan yang pasif. Setiap hari ada pembentukan dan pemecahan protein otot yang berlangsung terus-menerus. Di usia muda, keduanya seimbang. Begitu menua, keseimbangan itu bergeser dan pemecahan mulai mengalahkan pembentukan. 

Ada satu prinsip yang menjelaskan semuanya: tubuh hanya mempertahankan otot yang rutin dipakai. Kalau hari-hari kita lebih banyak duduk, tubuh menyimpulkan otot besar tidak diperlukan dan mulai “mendaur ulangnya.” Karena penyebabnya banyak, kabar baiknya pintu untuk melakukan sesuatu juga banyak.

Otot, Aset yang Sering Diremehkan

Setidaknya ada empat peran penting otot yang sering luput kita sadari:

1. Penjaga keseimbangan. Otot inti dan tungkai yang kuat bekerja sebagai peredam kejut. Saat tersandung, otot yang responsiflah yang menarik tubuh kembali ke titik seimbang sebelum benar-benar jatuh.

2. Pengendali gula darah. Otot adalah jaringan yang paling banyak menyerap glukosa. Semakin padat massa otot, semakin besar daya tubuh menampung gula darah, dan semakin kecil risiko resistansi insulin maupun diabetes tipe 2.

3. Pelindung tulang. Tarikan otot yang kuat merangsang sel pembentuk tulang. Membangun otot, dengan begitu, sekaligus turut menjaga kepadatan tulang dan menahan laju osteoporosis.

4. Cadangan saat sakit. Otot menyimpan asam amino yang ditarik tubuh ketika menghadapi sakit berat atau masa pemulihan. Simpanan yang cukup berarti daya tahan yang lebih baik di saat genting.

Siapa yang Paling Berisiko?

Sarkopenia memang lebih sering ditemukan pada lansia. Tetapi menyebutnya semata “penyakit orang tua” kurang tepat. Prosesnya dimulai lebih awal, dan beberapa faktor bisa mempercepatnya. Sebagian faktor itu tidak bisa kita ubah:

  • Usia. Faktor terbesar. Risikonya meningkat tajam setelah usia 60 tahun.
  • Jenis kelamin. Pria punya massa otot lebih besar di usia muda tetapi kehilangannya lebih cepat setelah paruh baya. Wanita rentan terutama setelah menopause akibat turunnya estrogen.
  • Riwayat keluarga. Faktor genetik ikut menentukan jumlah dan kualitas otot sejak lahir.Yang lebih melegakan, sebagian besar faktor risiko justru ada dalam kendali kita:
  • Kurang gerak. Inilah faktor terbesar yang bisa diubah. Setiap tambahan satu jam duduk per hari menaikkan risiko sekitar 5 persen, sementara setiap tambahan satu jam aktivitas fisik menurunkannya sekitar 6 persen.
  • Kurang protein. Kekurangan protein melipatgandakan risiko hampir tiga kali. Ironisnya, nafsu makan justru cenderung menurun seiring usia.
  • Merokok dan alkohol berlebihan. Keduanya mengganggu pembentukan protein otot.
  • Penyakit kronis. Sejumlah penyakit menahun mempercepat pemecahan otot (dibahas lebih lanjut di seri berikutnya).
  • Gangguan tidur. Tidur terlalu singkat maupun terlalu panjang sama-sama dikaitkan dengan risiko lebih tinggi, karena tidur adalah waktu utama otot memperbaiki diri.
  • Depresi dan isolasi sosial. Keduanya kerap berujung pada berkurangnya aktivitas dan nafsu makan, yang mempercepat perjalanan sarkopenia.

Pada seri selanjutnya akan dibahas tentang penyakit kronis yang perlu disorot, serta tanda-tanda akan terkena sarkopenia.  

sarkopenia,sarcopenia,penyakit lansia,jurnal

ARTIKEL LAINNYA

Ingin Tetap Mandiri di Usia Tua? Mulailah Persiapkan Sejak Usia 40-an

Jepang Menua Lebih Cepat dari Dunia: Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia?

Tanda-Tanda Sarkopenia dan Awasi 3 Penyakit Ini

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026