
Oleh dr. Fatihah Fikriyah
GERIATRI.CO.ID - Pernahkah memperhatikan seorang lansia yang dulu tegap dan kuat, kini melangkah lebih pelan, kesulitan bangkit dari kursi, atau genggamannya terasa melemah? Banyak orang menganggapnya sebagai bagian wajar dari menua yang tak bisa diapa-apakan.
Padahal kondisi ini punya nama medis, dan yang lebih penting, ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mencegah serta mengatasinya.
Sarkopenia
Istilahnya adalah sarkopenia, dari bahasa Yunani, sarx (daging atau otot) dan penia (kekurangan) — secara harfiah “kekurangan daging.” Dalam definisi medisnya, sarkopenia adalah penurunan massa otot, kekuatan, dan kemampuan fisik yang berlangsung perlahan, terutama seiring bertambahnya usia.
Satu hal yang sering disalahpahami: sarkopenia bukan sekadar soal “badan jadi kurus di usia tua.” Seseorang bisa saja terlihat gemuk namun tetap mengalami sarkopenia, karena yang berkurang adalah otot fungsional yang perlahan digantikan oleh lemak. Yang melemah bukan penampilan, melainkan kemampuan untuk berjalan, menjaga keseimbangan, dan mengurus diri sendiri.
Otot sendiri bukan jaringan yang pasif. Setiap hari ada pembentukan dan pemecahan protein otot yang berlangsung terus-menerus. Di usia muda, keduanya seimbang. Begitu menua, keseimbangan itu bergeser dan pemecahan mulai mengalahkan pembentukan.
Ada satu prinsip yang menjelaskan semuanya: tubuh hanya mempertahankan otot yang rutin dipakai. Kalau hari-hari kita lebih banyak duduk, tubuh menyimpulkan otot besar tidak diperlukan dan mulai “mendaur ulangnya.” Karena penyebabnya banyak, kabar baiknya pintu untuk melakukan sesuatu juga banyak.
Otot, Aset yang Sering Diremehkan
Setidaknya ada empat peran penting otot yang sering luput kita sadari:
1. Penjaga keseimbangan. Otot inti dan tungkai yang kuat bekerja sebagai peredam kejut. Saat tersandung, otot yang responsiflah yang menarik tubuh kembali ke titik seimbang sebelum benar-benar jatuh.
2. Pengendali gula darah. Otot adalah jaringan yang paling banyak menyerap glukosa. Semakin padat massa otot, semakin besar daya tubuh menampung gula darah, dan semakin kecil risiko resistansi insulin maupun diabetes tipe 2.
3. Pelindung tulang. Tarikan otot yang kuat merangsang sel pembentuk tulang. Membangun otot, dengan begitu, sekaligus turut menjaga kepadatan tulang dan menahan laju osteoporosis.
4. Cadangan saat sakit. Otot menyimpan asam amino yang ditarik tubuh ketika menghadapi sakit berat atau masa pemulihan. Simpanan yang cukup berarti daya tahan yang lebih baik di saat genting.
Siapa yang Paling Berisiko?
Sarkopenia memang lebih sering ditemukan pada lansia. Tetapi menyebutnya semata “penyakit orang tua” kurang tepat. Prosesnya dimulai lebih awal, dan beberapa faktor bisa mempercepatnya. Sebagian faktor itu tidak bisa kita ubah:
Pada seri selanjutnya akan dibahas tentang penyakit kronis yang perlu disorot, serta tanda-tanda akan terkena sarkopenia.
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri