Korea Butuh Banyak Tenaga Perawatan Lansia, Indonesia Bisa Ambil Peluang Ini


Sosialisasi yang dilakukan Kedutaan Besar Korea Selatan menunjukkan bahwa Indonesia mulai dilirik sebagai sumber talenta untuk memenuhi kebutuhan tenaga perawatan tersebut.

2026-10-07T11:09

GERIATRI.CO.ID - Korea Selatan sedang menghadapi satu persoalan yang mungkin juga akan semakin akrab bagi banyak negara Asia: jumlah lansia bertambah, tetapi tenaga yang merawat mereka justru tidak mencukupi. Kondisi tersebut kini membuka peluang bagi tenaga asing, termasuk dari Indonesia.

Pada 30 September 2026, Kedutaan Besar Korea Selatan di Indonesia bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara dan Konsul Kehormatan Korea Selatan di Sumatera menggelar sosialisasi mengenai sistem care worker atau tenaga perawatan lansia bagi warga negara asing.

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 1.000 peserta dari 300 SMA dan SMK di Sumatera Utara. Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Yoon Soon-gu menyebut kebutuhan tenaga perawatan lansia di Korea dan potensi talenta Indonesia dapat menjadi peluang baru dalam kerja sama ketenagakerjaan kedua negara.

Mengapa Korea Selatan kekurangan tenaga perawatan lansia?

Korea Selatan telah memasuki fase super-aged society, ketika penduduk berusia 65 tahun ke atas mencapai lebih dari 20 persen populasi.

Jumlah lansia yang terus meningkat membuat kebutuhan terhadap layanan perawatan ikut melonjak. Di sisi lain, tenaga yang bekerja sebagai care worker juga semakin menua.

Korea Development Institute (KDI) dalam laporan April 2026 menyebut kekurangan tenaga kerja menjadi salah satu persoalan serius dalam sektor eldercare Korea Selatan. Permintaan layanan perawatan formal diperkirakan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah lansia yang membutuhkan bantuan.

Masalahnya bukan sekadar jumlah tenaga yang kurang. Pekerjaan perawatan lansia membutuhkan tenaga, kesabaran, keterampilan, dan keterlibatan emosional. Namun, kondisi pekerjaan dan upah yang belum cukup menarik membuat sektor ini kesulitan mendapatkan tenaga kerja baru.

Bahkan, KDI menilai insentif bagi pekerja domestik saja kemungkinan tidak cukup untuk menutup kesenjangan tenaga perawatan yang akan semakin besar. Korea Selatan kemudian mulai membuka jalan bagi tenaga asing untuk masuk ke sektor perawatan lansia.

Kementerian Kehakiman Korea Selatan pada 2024 menyebut kebutuhan tenaga perawatan akan meningkat tajam seiring masuknya Korea ke masyarakat super-aging. Pemerintah Korea memperkirakan kekurangan tenaga perawatan dapat mencapai sekitar 79.000 orang pada 2027.

Pada Juli 2024, Korea Selatan juga meluncurkan program percontohan yang memungkinkan lulusan perguruan tinggi Korea berkewarganegaraan asing yang memenuhi persyaratan menjadi care worker memperoleh status tinggal E-7 (Specific Activities).

Namun, sistem tersebut masih memiliki keterbatasan. KDI mencatat jalur yang ada saat ini belum cukup untuk mengatasi kebutuhan tenaga kerja secara luas, sehingga kebijakan visa khusus untuk tenaga perawatan asing masih menjadi salah satu opsi yang dibahas.

Lantas, apakah ini bisa menjadi peluang bagi anak muda Indonesia?

Bisa, tetapi tidak sesederhana “belajar bahasa Korea lalu berangkat”.

Sosialisasi yang dilakukan Kedutaan Besar Korea Selatan menunjukkan bahwa Indonesia mulai dilirik sebagai sumber talenta untuk memenuhi kebutuhan tenaga perawatan tersebut.

Calon pekerja tetap perlu memenuhi persyaratan yang ditetapkan Korea Selatan, termasuk pendidikan atau pelatihan yang relevan, kemampuan bahasa Korea, sertifikasi care worker, serta persyaratan imigrasi.

KDI mencatat bahwa salah satu jalur yang sedang berjalan mengharuskan pekerja asing memperoleh sertifikasi care worker sebelum bekerja di fasilitas perawatan.

Artinya, peluang ini sekaligus menunjukkan pentingnya menyiapkan tenaga muda yang memang memiliki kompetensi merawat lansia, bukan hanya tenaga kerja yang ingin mencari pekerjaan di luar negeri.

Menjadi care worker lansia juga bukan sekadar membantu lansia mandi, makan, atau berpindah tempat.

Pekerja perlu memahami kebutuhan lansia, berkomunikasi dengan baik, memperhatikan perubahan kondisi, membantu aktivitas sehari-hari, serta menjaga martabat orang yang dirawat. Pengalaman pekerja asing di Korea menunjukkan hal tersebut.

Dalam laporan Arirang News pada September 2026, pekerja perawatan asal Vietnam, Le Thi Tham, diceritakan telah bekerja di fasilitas perawatan lansia di Korea setelah mempelajari bahasa Korea dan memperoleh kualifikasi care worker. Ia menggambarkan pekerjaannya bukan hanya membantu kebutuhan fisik lansia, tetapi juga membuat mereka tidak merasa kesepian.

Ini menjadi gambaran penting bahwa care worker adalah pekerjaan yang sangat manusiawi. (lia)

***

Foto: Ilustrasi (pexels.com)

***

Sudah mendaftar untuk Pelatihan Caregiver? 


 

perawatan korea,caregiver korea,caregiver,berita lansia

ARTIKEL LAINNYA

Begini Cara Mudah Lansia Mengolah Oat Jadi Makanan Enak dan Bergizi

2,4 Juta Lansia Kena ISPA, Mengapa Infeksi Pernapasan Perlu Diwaspadai Lansia?

Bagaimana Cara Menyelamatkan Orang Tua Saat Kebakaran?

“Pada 2026, jumlah penduduk lansia di Indonesia mencapai sekitar 34 juta jiwa, atau 11,97% dari total populasi. Angka ini menegaskan bahwa Indonesia telah berada dalam fase ageing population atau populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026