
GERIATRI.CO.ID - Banyak orang menganggap kecepatan berjalan hanya mencerminkan kemampuan bergerak seseorang. Namun, bagi lanjut usia (lansia), kecepatan berjalan ternyata dapat memberikan gambaran penting mengenai kondisi kesehatan secara keseluruhan. Sejumlah peneliti menyebut kecepatan berjalan (gait speed) sebagai salah satu "tanda vital" yang dapat membantu menilai kesehatan dan harapan hidup pada usia lanjut.
Berjalan bukanlah aktivitas yang sederhana bagi tubuh. Saat seseorang berjalan, berbagai sistem tubuh bekerja secara bersamaan, mulai dari otot, tulang, persendian, jantung, paru-paru, hingga otak dan sistem saraf. Karena itu, perubahan kecepatan berjalan sering kali menjadi petunjuk adanya perubahan kondisi kesehatan.
Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Gerontology, kecepatan berjalan merupakan indikator penting kesehatan dan kesejahteraan lansia. Bahkan, penurunan kecepatan berjalan yang terjadi lebih cepat dari normal berkaitan dengan peningkatan risiko kematian pada kelompok usia lanjut.
Dalam penelitian tersebut, lansia yang mengalami penurunan kecepatan berjalan paling cepat memiliki risiko kematian hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang penurunannya lebih lambat.
Hubungan antara kecepatan berjalan dan harapan hidup juga ditemukan dalam analisis besar yang melibatkan lebih dari 34.000 lansia berusia 65 tahun ke atas.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal JAMA menunjukkan bahwa semakin cepat seseorang berjalan, semakin baik peluang bertahan hidupnya dalam jangka panjang.
Para peneliti menemukan bahwa kecepatan berjalan dapat memprediksi kelangsungan hidup dengan tingkat akurasi yang sebanding dengan berbagai indikator kesehatan lainnya, seperti penyakit kronis, tekanan darah, dan riwayat rawat inap.
Kecepatan berjalan yang melambat tidak selalu berarti seseorang hanya bertambah tua. Perlambatan tersebut dapat menjadi tanda adanya penurunan kekuatan otot, berkurangnya kebugaran jantung dan paru-paru, gangguan keseimbangan, atau masalah kesehatan lainnya.
Penelitian lain menunjukkan bahwa kecepatan berjalan yang lebih lambat berkaitan dengan meningkatnya risiko jatuh, keterbatasan aktivitas sehari-hari, kebutuhan bantuan dari caregiver, hingga rawat inap. Oleh karena itu, pemeriksaan kecepatan berjalan sering digunakan dalam penilaian kesehatan geriatri.
Menariknya, kecepatan berjalan juga memiliki hubungan dengan fungsi kognitif. Beberapa penelitian menemukan bahwa lansia yang mengalami perlambatan berjalan secara signifikan memiliki risiko lebih tinggi mengalami penurunan daya ingat dan demensia di kemudian hari.
Para ahli menduga bahwa area otak yang mengatur gerakan dan fungsi kognitif saling berkaitan. Karena itu, perubahan pola berjalan dapat menjadi petunjuk awal adanya perubahan pada kesehatan otak sebelum gejala gangguan memori terlihat jelas.
Kecepatan berjalan bukanlah sesuatu yang sepenuhnya ditentukan oleh usia. Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kecepatan berjalan dapat berkaitan dengan peluang hidup yang lebih baik. Aktivitas fisik rutin, latihan kekuatan otot, menjaga berat badan ideal, serta mengelola penyakit kronis dapat membantu mempertahankan kemampuan berjalan pada usia lanjut. (lia)
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri