Cekcok Sampai Bawa Sajam, Kenapa Bisa Terjadi pada Lansia?


Tidak harus rumit—cukup dengan mengingatkan untuk menahan diri, menghindari konflik, dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.

2026-07-02T15:14

GERIATRI.CO.ID - Kasus dua lansia di Sampang yang terlibat cekcok hingga saling serang tentu membuat kita mengernyitkan dahi. Di usia yang seharusnya lebih tenang dan penuh kebijaksanaan, konflik justru bisa berujung pada tindakan yang berbahaya. Sebenarnya, apa yang terjadi?

Perlu dipahami, menjadi lansia bukan berarti emosi otomatis “lebih adem”. Justru, dalam beberapa kondisi, lansia bisa menjadi lebih sensitif. Perubahan fisik, penurunan fungsi kognitif, rasa kesepian, hingga perasaan tidak dihargai, bisa menjadi pemicu emosi yang terpendam. Hal-hal kecil yang dulu mungkin dianggap sepele, kini bisa terasa lebih mengganggu.

Apalagi jika tidak ada ruang untuk menyalurkan perasaan. Obrolan ringan, bercanda, atau interaksi sosial yang sehat sering kali menjadi “katup pengaman” bagi emosi. Tanpa itu, uneg-uneg bisa menumpuk dan meledak sewaktu-waktu.

Lalu, apa yang bisa dilakukan agar hal seperti ini tidak terjadi?

Salah satu kuncinya adalah aktivitas rutin. Kegiatan seperti senam lansia, jalan pagi, atau sekadar berkumpul di posyandu lansia bukan hanya baik untuk fisik, tetapi juga membantu menjaga kestabilan emosi. Tubuh bergerak, pikiran pun lebih rileks.

Selain itu, ruang untuk bersosialisasi sangat penting. Lansia yang rutin bertemu teman sebaya, mengobrol, atau ikut kegiatan komunitas cenderung lebih tenang dan tidak mudah tersulut emosi. Mereka punya tempat untuk berbagi cerita, bukan memendam sendiri.

Peran keluarga juga tidak kalah penting. Mengajak lansia berbicara, mendengarkan keluh kesahnya, dan melibatkan mereka dalam hal-hal sederhana sehari-hari bisa membuat mereka merasa dihargai. Hal kecil, tapi dampaknya besar.

Yang sering terlupakan, edukasi tentang pengendalian emosi juga dibutuhkan. Tidak harus rumit—cukup dengan mengingatkan untuk menahan diri, menghindari konflik, dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.

Terakhir, lingkungan sekitar juga perlu peka. Jika ada gesekan kecil antarwarga, sebaiknya segera dimediasi. Banyak konflik besar sebenarnya berawal dari masalah sepele yang dibiarkan berlarut-larut.

Pada akhirnya, menjaga lansia tetap sehat bukan hanya soal fisik, tetapi juga soal emosi dan hubungan sosial. Karena di usia lanjut, yang paling dibutuhkan bukan sekadar panjang umur, tapi juga ketenangan dan rasa nyaman dalam menjalani hari.

Kemarin (1/7/2026), dua pria lanjut usia (lansia) di Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, dibawa ke rumah sakit usai terlibat saling serang dengan menggunakan senjata tajam. Mereka bertemu secara tidak sengaja di sebuah bengkel motor di Desa Nyeloh, lalu bertengkar hingga cekcok. Keduanya dirawat di rumah sakit dan akan dimintai keterangan. (a2s)

komunikasi lansia,komunikasi,berita lansia,lansia

ARTIKEL LAINNYA

Mengapa Lansia Sering Mengulang Cerita yang Sama?

Sepotong Kisah Masa Lalu Oma Tiwi: Pengorbanan dan Hangatnya Gotong Royong Desa

Ajak Ngobrol Sambil Minum Teh

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026