Sepotong Kisah Masa Lalu Oma Tiwi: Pengorbanan dan Hangatnya Gotong Royong Desa


Memang, yang namanya pengorbanan dan keikhlasan itu modal utama kalau kita mengajar di desa.

2026-07-02T08:04

GERIATRI.CO.ID - Kalau mengingat masa-masa mengajar dulu, rasanya hati ini campur aduk antara kangen, haru, dan bangga. Perjalanan hidup saya ini memang cukup panjang lintas daerah. 

Sebelumnya, nama saya Supratiwi. Umur kira-kira 60 tahun sekian lah, hehehe. Ibu saya asli Kebumen, tapi saya sendiri dibesarkan di Yogyakarta. Nah, takdir kemudian membawa saya berjodoh dengan suami tercinta yang asli Purbalingga—beliau sudah dipanggil lebih dulu oleh Tuhan pada tahun 2020 lalu.

Petualangan saya sebagai guru SD dimulai sejak tahun 1983 di SD Negeri 01 Jatisaba, Kabupaten Purbalingga, sampai akhirnya saya pensiun di tahun 2018.

Ada satu pengalaman di awal-awal mengajar yang tidak akan pernah bisa saya melupakan seumur hidup. Waktu pertama kali masuk di kelas 1, setelah mengucapkan salam dan menyapa anak-anak, tiba-tiba tercium bau menyengat yang kurang sedap. Baunya luar biasa, sampai rasanya mau muntah. Karena penasaran, saya keliling kelas untuk mencari sumber bau tersebut, sementara anak-anak lain sudah heboh menutup hidung mereka.

Ternyata, bau itu berasal dari salah satu siswa yang telinganya mengeluarkan cairan bening. Ya ampun, kasihan sekali anak ini. Melihat cairan yang meleleh itu, saya ambil kapas, lalu pelan-pelan saya bersihkan dan sumbat telinganya.

Sebagai wali kelas, saya langsung memanggil orang tuanya. Ternyata, anak tersebut memang sudah sakit telinga sejak kecil. Bayangkan, setiap hari sebelum mulai pelajaran, anak itu pasti saya panggil duluan ke depan untuk saya urus dan bersihkan telinganya.

Memang, yang namanya pengorbanan dan keikhlasan itu modal utama kalau kita mengajar di desa. Wali murid di sana mayoritas bekerja sebagai petani. Malah saya pernah melihat sendiri, ada orangtua yang buru-buru menjual sesuatu di pasar demi mencari uang. Melihat kondisi itu, saya tidak tega. Akhirnya, saya harus siap menyisihkan uang untuk membantu keuangan mereka, seperti membantu bayar SPP dan keperluan lainnya. Imbasnya? Dompet saya sering kali sudah "menjerit" di tanggal 20, alias gaji sudah habis! Terpaksa deh, saya beberapa kali utang sayuran dulu ke kakak ipar, hehe... ??

Karena waktu itu belum punya rumah sendiri, kami sempat menempati rumah dinas yang ada di lingkungan SD selama 6 tahun. Wah, kalau ingat rumah dinas itu, ceritanya banyak sekali.

Pernah lho, dalam enam tahun kami sampai tiga kali kebanjiran gara-gara air Sungai Klawing meluap. Tapi di sinilah indahnya hidup di desa. Begitu air mulai naik, warga langsung bersatu, bergotong-royong membantu kami. Bapak-bapak sibuk menyumbat bagian bawah pintu pakai batang pohon pisang supaya airnya tidak masuk ke dalam rumah. Kedekatan kami dengan warga desa waktu itu benar-benar luar biasa akrab.

Tapi... namanya juga dekat sawah dan sungai, ada juga cerita mistisnya. Yang paling bikin merinding itu kalau sore sudah mulai hampir azan magrib, apalagi kalau gerimis turun. Sering sekali terdengar suara orang menangis di sudut belakang rumah—kebetulan di belakang rumah itu memang area pengairan sawah. Karena penasaran (dan sedikit nekat), kami keluar rumah dan mencari sumber suara tangisan itu. Eh, pas dicari, ternyata tidak ada siapa-siapa! Memang terasa serba angker kalau diingat-ingat lagi.

Setelah tabungan kami dirasa cukup, kami akhirnya memutuskan untuk mengambil perumahan di kota. Nah, momen pas mau pindahan ini yang paling bikin dada sesak karena haru.

Bayangkan saja, semua warga sekitar datang untuk membantu mengemasi barang-barang kami. Kami sampai cuma bisa duduk terharu melihat betapa besarnya rasa gotong-royong mereka. Tapi, ada cerita lucunya juga. Waktu beres-beres itu, ada saja warga yang nyeletuk minta barang-barang kami, seperti sepatu olahraga sampai alat-alat dapur. Ya sudah, kami ikhlaskan saja dengan senang hati. Justru di situlah letak keakraban dan rasa kekeluargaan kami dengan mereka. Sungguh pengalaman hidup di desa yang sangat berkesan, rasa kasih sayangnya begitu hebat.

Sekarang, saya sudah tinggal di perumahan kota. Rasanya juga sangat nyaman dan menyenangkan. Walaupun tetangga kanan-kiri saya non-muslim, toleransinya luar biasa tinggi. Ada rasa damai yang mendalam, rasanya sudah seperti saudara sendiri.

Memang benar ya, di mana pun kita menanam kebaikan dan kasih sayang, di situ pula kita akan menuai kedamaian. Sehat-sehat selalu untuk kita semua! ?

 

cerita dari lansia,cerita lansia,pengalaman lansia

ARTIKEL LAINNYA

Mengapa Lansia Sering Mengulang Cerita yang Sama?

Ajak Ngobrol Sambil Minum Teh

Hari Buah Sedunia: Buah-Buahan yang Baik Dikonsumsi Lansia untuk Jaga Kesehatan

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026