
GERIATRI.CO.ID - Banyak orang pernah mengalami situasi ketika orang tua atau kakek-nenek menceritakan kisah yang sama berulang kali. Cerita tentang masa kecil, pengalaman bekerja, perjuangan membangun keluarga, atau peristiwa bersejarah sering kembali diceritakan meskipun anggota keluarga merasa sudah pernah mendengarnya.
Kebiasaan ini kerap dianggap sebagai tanda kepikunan. Padahal, menurut para ahli geriatri dan psikologi penuaan, mengulang cerita tidak selalu menunjukkan adanya gangguan daya ingat. Dalam banyak kasus, hal tersebut merupakan bagian normal dari proses penuaan.
Menurut National Institute on Aging (NIA), bertambahnya usia dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk mempelajari dan mengingat informasi baru. Lanjut usia (lansia) mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk mengingat nama, jadwal, atau informasi yang baru diterima.
Namun, hal ini berbeda dengan memori jangka panjang. Kenangan yang terbentuk bertahun-tahun lalu, terutama yang berkaitan dengan pengalaman penting atau memiliki makna emosional, umumnya tetap tersimpan dengan baik. Itulah sebabnya banyak lansia dapat menceritakan peristiwa yang terjadi puluhan tahun lalu secara rinci.
Fenomena ini telah lama dipelajari dalam psikologi. Pada 1963, psikiater geriatri Robert N. Butler memperkenalkan konsep life review, yaitu proses alami ketika seseorang yang memasuki usia lanjut meninjau kembali perjalanan hidupnya.
Menurut Butler, mengenang masa lalu bukan sekadar bernostalgia. Proses tersebut membantu lansia merefleksikan pengalaman hidup, memahami berbagai peristiwa yang pernah dialami, serta menemukan makna dari perjalanan hidup mereka.
Karena itu, mengulang cerita sering kali merupakan bagian dari proses refleksi yang normal, bukan semata-mata karena lupa bahwa cerita tersebut sudah pernah disampaikan.
Cerita yang disampaikan lansia sering berisi pengalaman, pelajaran hidup, dan nilai-nilai yang ingin mereka wariskan kepada generasi berikutnya.
Bagi sebagian lansia, menceritakan pengalaman tentang bekerja keras, menghadapi kesulitan ekonomi, atau membesarkan keluarga merupakan cara untuk berbagi kebijaksanaan dan mempertahankan peran mereka di tengah keluarga.
Melalui cerita tersebut, lansia merasa tetap didengar, dihargai, dan memiliki kontribusi dalam kehidupan anak maupun cucunya.
Berbagai penelitian mengenai reminiscence therapy menunjukkan bahwa aktivitas mengenang dan membagikan pengalaman hidup dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan psikologis lansia.
Pendekatan ini diketahui dapat membantu meningkatkan suasana hati, memperkuat rasa identitas diri, meningkatkan kepuasan hidup, serta mengurangi gejala depresi ringan pada sebagian lansia. Karena itu, terapi reminiscence kini banyak digunakan dalam pelayanan geriatri dan perawatan demensia sebagai salah satu bentuk intervensi nonobat.
Para ahli menyarankan agar keluarga tidak langsung memotong atau menunjukkan rasa bosan ketika lansia mengulang cerita. Sebaliknya, mendengarkan dengan penuh perhatian dapat membantu lansia merasa dihargai dan tetap memiliki hubungan yang erat dengan keluarganya.
Percakapan sederhana juga menjadi kesempatan untuk mengenal sejarah keluarga, memahami nilai-nilai yang diwariskan, dan mempererat hubungan antargenerasi. (lia)
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri