Kapan dan Seberapa Sering Harus Periksa Kolesterol?


Aktivitas fisik adalah “obat” alami yang sangat efektif untuk kolesterol.

2026-07-03T16:14

Oleh dr. Fatihah Fikriah

GERIATRI.CO.IDAmerican Heart Association (AHA) merekomendasikan agar semua orang dewasa sejak usia 20 tahun sudah mulai memeriksakan kolesterol. Frekuensinya adalah setiap 4–6 tahun sekali jika kadar kolesterol normal dan tidak ada faktor risiko lain.

Pemeriksaan lebih sering diperlukan jika Anda:

  • Memiliki riwayat keluarga dengan kolesterol tinggi atau penyakit jantung
  • Menderita diabetes atau hipertensi
  • Kelebihan berat badan atau obesitas
  • Sudah pernah didiagnosis kolesterol tinggi sebelumnya
  • Menjalani pengobatan kolesterol (untuk memantau efektivitas terapi)

Bagaimana Cara Menurunkan Kolesterol?

Kabar baiknya: kolesterol tinggi sangat bisa dikendalikan. Penanganannya dimulai dari perubahan gaya hidup, dan jika diperlukan, dilanjutkan dengan terapi obat.

1. Perubahan Pola Makan

Ini adalah langkah pertama dan paling fundamental. Penelitian menunjukkan bahwa perubahan pola makan yang konsisten saja dapat menurunkan kadar LDL hingga 15–30% tanpa obat-obatan.

Makanan yang sebaiknya dibatasi atau dihindari:

  • Lemak jenuh: daging berlemak, kulit ayam, jeroan, santan kental, mentega
  • Lemak trans: margarin keras, gorengan, kue-kue kemasan, makanan cepat saji
  • Seafood tertentu: cumi, kerang, dan udang dalam jumlah berlebihan karena mengandung kolesterol cukup tinggi
  • Karbohidrat olahan dan gula berlebihan (pemicu trigliserida tinggi)

Makanan yang dianjurkan untuk menurunkan kolesterol:

  • Oatmeal dan gandum utuh: mengandung beta-glucan, serat larut yang terbukti mengikat kolesterol di usus. Konsumsi 5–10 gram serat larut per hari dapat menurunkan LDL hingga 5%.
  • Ikan berlemak (salmon, sarden, makarel, tuna): kaya omega-3 yang menurunkan trigliserida dan meningkatkan HDL. Dianjurkan minimal 2 kali per minggu.
  • Alpukat: sumber lemak tak jenuh tunggal yang sehat, membantu menurunkan LDL tanpa mengurangi HDL.
  • Kacang-kacangan (almond, kenari, kedelai): mengandung lemak sehat, serat, dan fitosterol.
  • Buah dan sayuran berwarna: kaya serat, antioksidan, dan fitosterol alami.
  • Minyak zaitun: pilihan lebih sehat untuk memasak dibandingkan minyak goreng biasa.

2. Olahraga Rutin

Aktivitas fisik adalah “obat” alami yang sangat efektif untuk kolesterol. Rekomendasi dari para ahli kesehatan adalah minimal 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu — setara dengan sekitar 30 menit berjalan cepat, bersepeda, berenang, atau joging, sebanyak 5 kali seminggu.

3. Berhenti Merokok

Dalam waktu tiga bulan setelah berhenti merokok, sirkulasi darah dan fungsi paru-paru mulai membaik. Dalam satu tahun, risiko penyakit jantung koroner turun secara signifikan.

4. Jaga Berat Badan Ideal

Penurunan berat badan, bahkan hanya 5–10% dari berat badan awal, sudah terbukti berdampak positif pada profil lipid — menurunkan LDL dan trigliserida, sekaligus meningkatkan HDL.

5. Kelola Stres

Stres kronis yang tidak dikelola dapat meningkatkan kolesterol melalui jalur hormonal. Teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, pernapasan dalam, atau sekadar meluangkan waktu untuk hobi yang menyenangkan, secara nyata berdampak pada kesehatan kardiovaskular.

Kapan Perlu Obat-obatan?

Perubahan gaya hidup adalah fondasi utama, namun terkadang tidak cukup — terutama jika faktor genetik berperan kuat. Dokter biasanya akan mempertimbangkan terapi obat jika:

  • Kadar LDL tetap di atas 190 mg/dL meski sudah menjalani diet ketat selama 3 bulan
  • Anda berusia 40–75 tahun dengan kadar LDL >100 mg/dL dan menderita diabetes
  • Anda pernah mengalami serangan jantung, stroke, atau penyakit arteri perifer
  • Berusia 21–40 tahun dengan kadar LDL di atas 190 mg/dL

Jenis-jenis obat kolesterol yang umum digunakan di bawah pengawasan dokter:

  • Statin (simvastatin, atorvastatin, rosuvastatin): pilihan pertama paling umum, menghambat produksi kolesterol di hati dan menurunkan LDL secara signifikan.
  • Ezetimibe: menghambat penyerapan kolesterol dari makanan di usus. Sering dikombinasikan dengan statin.
  • Fibrat: efektif menurunkan trigliserida dan meningkatkan HDL.
  • Bile acid sequestrant (resin): mengikat cairan empedu di usus sehingga pembuangan kolesterol meningkat.

Pada akhirnya, kolesterol bukanlah musuh yang harus ditakuti, melainkan kondisi yang perlu dipahami dan dikelola dengan bijak. Dengan pola makan seimbang, aktivitas fisik yang rutin, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala, kadar kolesterol dapat tetap terkontrol dan tidak mengganggu kualitas hidup.

Yang terpenting, perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten jauh lebih berarti dibanding langkah besar yang hanya sesaat. Karena menjaga kolesterol sejatinya adalah bagian dari menjaga kesehatan jangka panjang—agar tetap aktif, mandiri, dan menikmati hidup dengan lebih baik.

kolesterol,merawat lansia,lansia sehat

ARTIKEL LAINNYA

Mengapa Kecepatan Berjalan Bisa Menjadi Indikator Kesehatan Lansia?

Home Care Semakin Populer, Apa Keuntungan dan Tantangannya?

Cekcok Sampai Bawa Sajam, Kenapa Bisa Terjadi pada Lansia?

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026