
Oleh dr. Fatihah Fikriah
Geriatri - Masalah kerentaan -- atau dalam Bahasa Inggris dikenal dengan istilah frailty-- adalah hal yang tampak sepele, namun bisa memicu kemunduran yang serius. Flu biasa, ganti obat, kurang tidur saat dirawat di rumah sakit, atau bahkan operasi kecil—pada lansia yang renta, peristiwa-peristiwa ini bisa berujung pada jatuh, kebingungan mendadak (delirium), kehilangan kemandirian, perawatan di rumah sakit yang berkepanjangan, hingga kematian.
Itulah sebabnya mengenali frailty sejak awal sangat berharga. Dengan tahu bahwa orang tua kita renta, dokter dan keluarga bisa lebih hati-hati menimbang manfaat dan risiko sebelum memberi obat baru atau merencanakan tindakan—sehingga bahaya bisa dicegah, bukan sekadar diobati setelah terjadi.
Baca: Renta Itu Apa? Ketika “Sudah Tua” Bukan Lagi Penjelasan yang Cukup
Mengapa Renta Bisa Terjadi? Memahami Lingkaran Kerapuhan
Renta tidak datang tiba-tiba dalam semalam. Ia berkembang perlahan melalui sebuah lingkaran yang saling memperburuk — sebuah spiral yang pelan-pelan menarik tubuh ke bawah.
Bermula dari Otot yang Menyusut
Salah satu akar utama renta adalah menyusutnya massa otot seiring usia, yang disebut sarkopenia. Otot bukan hanya untuk mengangkat beban; ia adalah mesin yang membuat kita bisa bangkit dari kursi, menjaga keseimbangan, dan tidak mudah jatuh. Ketika otot menyusut, cadangan tenaga tubuh ikut menipis dan setiap aktivitas terasa lebih berat.
Lingkaran Kerapuhan
Kurang gizi → massa otot menurun (sarkopenia) → tubuh butuh lebih banyak tenaga untuk aktivitas yang sama → makin cepat lelah → lansia makin enggan bergerak → otot makin menyusut → kembali ke awal, kali ini lebih dalam dari sebelumnya.
Setiap putaran membuat lansia sedikit lebih lemah dari putaran sebelumnya.
Kabar baiknya, lingkaran ini bisa diputus di titik mana pun — dan makin cepat dikenali, makin mudah memutusnya.
Memahami lingkaran ini penting karena menjelaskan mengapa penanganan renta tidak bisa hanya satu arah. Memberi makanan saja tanpa mendorong gerak, atau menyuruh berolahraga tanpa cukup gizi, hanya menyentuh sebagian dari lingkaran. Cara memutusnya dibahas tuntas di artikel berikutnya.
Daftar Pustaka
1. Fried LP, dkk. Frailty in Older Adults: Evidence for a Phenotype. Journal of Gerontology. 2001;56(3):M146–M157.
2. Kim DH, Afilalo J. Frailty in Older Adults. New England Journal of Medicine. 2024;391(6):538–548. DOI: 10.1056/NEJMra2301292.
3. Morley JE, Malmstrom TK, Miller DK. A Simple Frailty Questionnaire (FRAIL) Predicts Outcomes in Middle-Aged African Americans. The Journal of Nutrition, Health & Aging. 2012;16(7):601–608. DOI: 10.1007/s12603-012-0084-2.
4. Morley JE, Vellas B, van Kan GA, dkk. Frailty Consensus: A Call to Action. Journal of the American Medical Directors Association. 2013;14(6):392–397. DOI: 10.1016/j.jamda.2013.03.022.
5. Rockwood K, dkk. A Global Clinical Measure of Fitness and Frailty in Elderly People. CMAJ. 2005;173(5):489–495.
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri