Jamu dan Herbal Bukan Andalan Saat "Darurat"


Ada kondisi-kondisi yang tidak bisa menunggu efek bertahap dari herbal.

2026-05-22T16:07

Geriatri - Jamu dan obat herbal sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Banyak orang terbiasa mengonsumsinya, baik sebagai rutinitas maupun saat tubuh mulai terasa tidak nyaman.

Sering kali, jamu atau herbal dikaitkan dengan kondisi yang “tidak urgent”. Anggapan ini sebenarnya ada dasarnya, karena secara umum herbal lebih berperan dalam menjaga dan mendukung kesehatan, bukan untuk penanganan cepat dalam kondisi darurat.

“Karena yang urgen itu sudah ada protokolnya, dan di Indonesia belum ada yang mengatur bahwa di herbal ini bisa digunakan untuk case-case yang urgen seperti serangan stroke dan serangan jantung,” tutur dr. Rianti “Herbal”, yang merupakan dokter Ahli Herbal Medik, melalui akun Tiktok-nya.

Salah satu fungsi utama jamu adalah sebagai upaya pencegahan. Banyak orang mengonsumsinya untuk menjaga daya tahan tubuh, membantu melancarkan peredaran darah, mengurangi rasa pegal, hingga menjaga stamina agar tetap fit dalam aktivitas sehari-hari. Dalam konteks ini, herbal bekerja seperti “perawatan rutin” bagi tubuh.

Selain itu, efek herbal cenderung bekerja secara bertahap. Kandungan alami di dalamnya membutuhkan waktu untuk diproses oleh tubuh, sehingga hasilnya tidak langsung terasa. Berbeda dengan obat medis yang diformulasikan untuk meredakan gejala dengan cepat, herbal lebih fokus pada keseimbangan tubuh dalam jangka panjang.

Karena sifatnya tersebut, jamu biasanya digunakan untuk keluhan ringan. Misalnya seperti badan terasa meriang, pegal setelah beraktivitas, nafsu makan menurun, atau sekadar menjaga kebugaran. Dalam kondisi seperti ini, penggunaan herbal masih tergolong tepat.

Namun, penting untuk memahami batasannya. Ada kondisi-kondisi yang tidak bisa menunggu efek bertahap dari herbal. Ketika seseorang mengalami gejala serius seperti demam tinggi yang tidak kunjung turun, nyeri dada, sesak napas, tekanan darah yang sangat tinggi, atau tanda-tanda stroke, maka penanganan medis harus segera dilakukan.

Mengandalkan herbal saja dalam kondisi tersebut justru bisa berisiko, karena keterlambatan penanganan dapat memperburuk keadaan. Di sinilah peran obat medis dan tenaga kesehatan menjadi sangat penting.

Meski demikian, bukan berarti herbal tidak memiliki nilai. Justru sebaliknya, banyak herbal yang memiliki manfaat dan telah digunakan secara turun-temurun. Bahkan, beberapa di antaranya menjadi dasar pengembangan obat modern. Dalam praktiknya, herbal bisa menjadi pelengkap (komplementer) untuk membantu menjaga kondisi tubuh tetap stabil.

Yang terpenting adalah memahami peran masing-masing. Herbal untuk menjaga dan mendukung kesehatan, sementara pengobatan medis untuk menangani kondisi yang membutuhkan respons cepat dan tepat.

Dengan pemahaman ini, kita tidak lagi melihat jamu dan obat medis sebagai pilihan yang saling menggantikan, melainkan sebagai dua pendekatan yang bisa berjalan berdampingan demi kesehatan yang lebih optimal.
 

jamu,herbak,herbal lansia,lansia bahagia

ARTIKEL LAINNYA

Tips Mengontrol Kolesterol saat Hari Raya Kurban

Ini Tempat Wisata Gratis untuk Lansia di Jakarta

Kurma, Bekal Sehat Jamaah Haji yang Kaya Manfaat

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026