
Oleh: dr. Fatihah Fikriyah
Geriatri - Secara sederhana, hipertensi pada lansia seringkali adalah hasil dari perjalanan panjang tubuh dalam menghadapi proses penuaan. Pembuluh darah, yang dulunya lentur, perlahan menjadi kaku. Jantung harus bekerja lebih keras untuk mendorong darah melalui "pipa-pipa" yang tidak lagi seelastis dulu.
Ditambah gaya hidup masa muda—kurang aktivitas fisik, konsumsi makanan tinggi garam, stres kronis—semua meninggalkan jejak jangka panjang. Kombinasi faktor biologis dan pola hidup ini menjadikan hipertensi sebagai salah satu kondisi yang sangat umum ditemukan pada kelompok usia lanjut.
Seberapa Tinggi Prevalensinya?
Data global dan nasional menunjukkan bahwa hipertensi pada lansia bukan sekadar persoalan individu, tetapi juga masalah kesehatan masyarakat.
1. Tingkat Global
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa lebih dari 1,28 miliar orang dewasa di dunia mengalami hipertensi, dan lebih dari dua pertiga di antaranya hidup di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Pada kelompok lansia (≥60 tahun), prevalensinya dapat mencapai 60–70%, bergantung pada wilayah dan faktor sosial ekonomi. Ini menunjukkan bahwa hipertensi merupakan kondisi yang sangat umum seiring bertambahnya usia.
2. Tingkat Nasional (Indonesia)
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi hipertensi pada masyarakat Indonesia mencapai 34,1%, dan angka tersebut meningkat tajam pada kelompok usia lanjut:
Usia 55–64 tahun: sekitar 55%
Usia 65–74 tahun: sekitar 63%
Usia ≥75 tahun: lebih dari 67%
Artinya, dari setiap 10 lansia, 6–7 di antaranya hidup dengan hipertensi, baik yang sudah terdiagnosis maupun yang belum menyadari.
Prevalensi Terbaru: Apa Kata Data?
1. Data Nasional Terkini (SKI 2023)
Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan bahwa:
• Sekitar 30,8% orang dewasa Indonesia mengalami hipertensi
• Pada lansia (≥60 tahun), sekitar 56,8% mengalami hipertensi saat diperiksa
• Namun, yang terdiagnosis oleh dokter hanya sekitar 22,9%
Perbedaan ini menunjukkan bahwa banyak lansia yang sebenarnya sudah mengalami hipertensi, tetapi belum menyadarinya.
2. Data Studi Tambahan (Indonesia)
Beberapa penelitian di berbagai daerah juga menunjukkan hasil yang serupa. Ada studi yang mencatat prevalensi hipertensi pada lansia mencapai 63,2%.
Data dari puskesmas juga menunjukkan bahwa kasus hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia. Hal ini semakin menegaskan bahwa hipertensi adalah masalah kesehatan utama pada kelompok lansia.
Mengapa Angka Ini Bisa Begitu Tinggi?
Ada beberapa alasan utama yang membuat hipertensi begitu lekat dengan kelompok usia lanjut:
1. Perubahan Struktur Pembuluh Darah
Penuaan mengurangi elastisitas arteri. Pembuluh yang kaku meningkatkan resistensi sehingga tekanan darah lebih mudah naik.
2. Penurunan Fungsi Ginjal
Ginjal membantu mengatur tekanan darah melalui pengelolaan cairan dan keseimbangan elektrolit. Pada lansia, kemampuan ini perlahan menurun.
3. Akumulasi Gaya Hidup Sejak Usia Muda
Faktor seperti diet tinggi garam, kurang aktivitas fisik, merokok, stres, dan obesitas seringkali baru menunjukkan dampaknya saat seseorang memasuki usia 50–60-an.
4. Peradangan Kronis
Fenomena yang dikenal sebagai inflammaging—peradangan ringan yang berjalan seiring usia—juga berkontribusi pada kerusakan pembuluh darah dan peningkatan tekanan darah.
Dampak Hipertensi pada Lansia: Mengapa Perlu Serius?
Hipertensi kerap disebut sebagai “silent killer” karena sering tidak menimbulkan gejala, namun perlahan merusak banyak sistem organ. Pada lansia, kondisi ini lebih berbahaya karena tubuh mereka tidak lagi sekuat masa muda dalam menahan stres fisik.
Risiko komplikasi yang perlu diwaspadai meliputi:
• Stroke (risiko meningkat lebih dari dua kali lipat)
• Serangan jantung
• Gagal jantung
• Gangguan fungsi ginjal
• Penurunan kognitif seperti demensia vaskular
Inilah mengapa deteksi dini dan pengelolaan rutin sangat penting.
Apa Maknanya bagi Keluarga dan Masyarakat?
Melihat tingginya angka hipertensi pada lansia, langkah pencegahan dan deteksi dini bukan lagi pilihan—tetapi kebutuhan. Dalam konteks keluarga, memahami risiko ini membantu kita lebih peka terhadap kesehatan orang tua atau anggota keluarga yang sudah lanjut usia.
Beberapa langkah sederhana dan realistis yang sangat membantu:
• Rutin memeriksa tekanan darah minimal 1–2 kali seminggu
• Mengurangi konsumsi garam dan makanan tinggi lemak jenuh
• Mendorong aktivitas fisik ringan seperti jalan pagi 20–30 menit
• Mendukung gaya hidup tanpa rokok dan alkohol
• Memantau konsumsi obat antihipertensi secara teratur
Dengan pendekatan yang penuh empati dan dukungan keluarga, lansia dapat menjalani hidup yang lebih sehat, aktif, dan berkualitas meski memiliki hipertensi.
=====
Daftar Pustaka
1. World Health Organization. Hypertension Fact Sheet. WHO; 2023.
2. Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar 2018. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
3. Survei Kesehatan Indonesia 2023. Kementerian Kesehatan RI.
4. Studi prevalensi hipertensi pada lansia di Indonesia (PMCID: PMC9602574).
5. Data hipertensi lansia Puskesmas Makassar (INAJOH, 2022).
6. Carey RM, Whelton PK. “Prevention, Detection, Evaluation, and Management of High Blood Pressure in Adults.” JACC, 2018.
7. Franklin SS et al. “Hypertension in Older People.” Journal of Hypertension, 2013.
8. North BJ, Sinclair DA. “The Intersection Between Aging and Cardiovascular Disease.” Circulation Research, 2012.
=====
Sudah daftar pelatihan caregiver? Silakan klik di sini
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri