Di Jepang, Lansia “Asuh” Anak yang Semakin Tua


Hampir setengah dari kelompok ini kini berusia di atas 40 tahun, bahkan sebagian sudah melewati usia 50.

2026-05-10T07:20

Geriatri - Fenomena hikikomori di Jepang kini memasuki fase yang berbeda—bukan lagi didominasi usia muda, melainkan semakin “menua” seiring waktu.

Istilah hikikomori sendiri merujuk pada individu yang memilih menarik diri dari kehidupan sosial, mengurung diri di rumah, dan hidup dalam isolasi dalam jangka panjang.

Data terbaru menunjukkan tren yang cukup mencolok. Menurut hasil survei tahunan organisasi nirlaba Kazoku Hikikomori Japan (KHJ), rata-rata usia individu hikikomori terus bertambah. Jika pada 2014 berada di angka sekitar 33 tahun, kini telah bergeser ke kisaran 36 tahun. Survei yang dilakukan pada akhir 2025 hingga awal 2026, melibatkan ratusan keluarga dengan anggota hikikomori, memperkuat gambaran ini. Demikian dilansir dari Soranews24.com, Jumat (8/5/2026).

Lebih jauh lagi, komposisi usia mereka juga berubah. Hampir setengah dari kelompok ini kini berusia di atas 40 tahun, bahkan sebagian sudah melewati usia 50. Dalam banyak kasus, mereka masih bergantung sepenuhnya pada orangtua—terutama dari pensiun atau penghasilan yang seharusnya dinikmati di masa tua.

Situasi ini menciptakan tekanan yang tidak kecil bagi para lansia. Orangtua yang seharusnya beristirahat justru terus memikul tanggung jawab finansial dan perawatan. Ada bahkan kasus ekstrem: orangtua berusia 90 tahun masih merawat anaknya yang telah memasuki usia 60-an.

Masalahnya menjadi semakin rumit ketika orangtua meninggal dunia. Tanpa penghasilan atau kemandirian, banyak hikikomori kehilangan “penyangga hidup” mereka, dan berisiko jatuh ke kondisi yang lebih rentan.

Selama ini, penyebab hikikomori sering disederhanakan pada tekanan akademik atau pengalaman perundungan. Namun realitanya lebih kompleks. Dukungan yang tersedia pun masih banyak berfokus pada kelompok muda, sementara hikikomori dewasa justru semakin banyak dan belum tertangani secara memadai.

Ada pula faktor budaya yang berperan. Banyak orangtua di Jepang merasa tetap bertanggung jawab penuh terhadap anaknya, tanpa batas usia. Kesabaran ini, meski dilandasi kasih sayang, sering kali hanya menunda masalah, bukan menyelesaikannya.

Karena itu, pendekatan yang lebih terarah sangat dibutuhkan. Hikikomori dewasa perlu didorong untuk membangun kembali kemandirian dan perlahan kembali terhubung dengan masyarakat. Jika tidak, fenomena ini berpotensi menjadi beban besar bagi sistem sosial di masa depan—sebuah masalah yang diam, tapi terus membesar.


=====

Sudah daftar pelatihan caregiver? Silakan klik di sini
 


 

hikikomori,lansia jepang,lansia bahagia

ARTIKEL LAINNYA

Tantangan buat Caregiver: Tuntutan Perawatan Makin Kompleks

Jumaria, Lansia yang Jadi Ikon Haji 2026

Wisata Bareng Lansia, Siapkan 5 Hal ini

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026