Orangtua Masih Sering Minta Uang, Bagaimana Ya?


Ini situasi sensitif dan sangat manusiawi. Bukan soal uang semata, tapi soal rasa aman, perhatian, dan harga diri lansia. Kalau ditangani kasar, bisa melukai batin; kalau dibiarkan, bisa memberatkan anak.

2026-01-13T14:19

Ini situasi sensitif dan sangat manusiawi. Bukan soal uang semata, tapi soal rasa aman, perhatian, dan harga diri lansia. Kalau ditangani kasar, bisa melukai batin; kalau dibiarkan, bisa memberatkan anak.

Ada baiknya kita membahas seimbang dari dua sisi.

Pahami dulu: “minta jajan” sering bukan soal lapar

Pada lansia, permintaan uang/jajan sering bermakna macam-macam. Ada yang ingin merasa diperhatikan, ada yang ingin merasakan kontrol kecil atas hidupnya. Atau, ada yang ingin nostalgia (kebiasaan lama), atau bahkan ingin punya uang sendiri, bukan meminta semua.

Jadi, menolak mentah-mentah bisa terasa seperti “Aku sudah tidak berguna ya?” 

Kalau anak belum punya uang, jangan bohong, tapi jelaskan

Bilang “nggak ada” dengan nada kasar bisa menyakiti lho. Sebaiknya menjawab dengan “sehat” semisal “Bu, bulan ini uang aku lagi ketat. Tapi nanti kalau ada rezeki, aku ingat Ibu ya.”

Ganti uang dengan bentuk perhatian konkret

Kalau uang memang tidak ada, jangan biarkan permintaan kosong. Ada baiknya jika memberi “pengganti alternatif” seperti:
- bawakan jajanan murah (pisang rebus, roti)
- buatkan teh manis sendiri
- ajak jalan sore kecil
- duduk ngobrol 10 menit

Inti pesannya adalah kita mungkin tidak bisa memberi uang, tapi kita tetap hadir. 

Tetapkan “uang jajan lansia” yang jelas (kalau mampu)

Bila si anak bekerja, mungkin bisa menetapkan nominal kecil tapi rutin. Misalkan, Rp 20–30 ribu/minggu. Atau, bisa menjelaskan di awal dengan pengertian-pengertian tertentu. Contohnya, “Bu, ini jajan mingguan ya. Kalau habis, tunggu minggu depan.”

Hal-hal semacam ini tidak membuat lansia merasa ditolak. Bahkan bisa menjadikan mereka belajar terbatas atau tidak meminta terus.

Kalau anak sebenarnya mampu tapi “pelit”

Seorang anak bisa jadi “pelit” karena beberapa hal. Pertama, takut kebiasaan. Kedua, lantaran trauma ekonomi. Dan ketiga karena belum matang secara empati. 

Ada baiknya diingatkan dengan lembut. Memberi sesuatu kepada orangtua bukanlah soal memanjakan, tapi menjaga perasaan mereka. Memberi sedikit tapi konsisten jauh lebih sehat daripada tidak sama sekali.

Libatkan lansia dalam pengelolaan kecil

Lansia yang merasa punya kendali umumnya jarang minta berulang. Untuk itu ada kalanya mencoba agar tidak terus meminta. Misalnya memberi dompet kecil khusus untuk dirinya mengelola keuangan. Atau, meminta bantu mengatur jajanan sendiri.

Yang jelas, anak harus diusahakan “tidak mengomel terus”. “Uang terus!”, “Orang lain nggak kayak gini”, atau “Udah tua masih minta”. Atau juga memberi namun sambil marah. Hal ini bisa saja memicu depresi, atau menarik diri, atau menjadikan konflik yang berkepanjangan.

Setidak-tidaknya ingatlah pada beberapa hal di bawah ini:
- Minta jajan = minta perhatian & harga diri
- Tolak dengan empati, bukan emosi
- Ganti uang dengan kehadiran
- Atur batas yang jelas
- Sedikit tapi rutin lebih baik daripada besar tapi jarang

Geriatri,Lansia Indonesia,Geriatri Sehat,Menua Bahagia,Gaya Hidup Senior

ARTIKEL LAINNYA

Kebutuhan Gizi Terpenuhi, Insyaallah Sehat Terus

Sejak Menjelang Tua Harus Siapkan Diri

Cegah Demensia dengan Konsumsi Kacang-kacangan

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026