Sarkopenia dan Osteoporosis pada PPOK: Ancaman Ganda bagi Lansia


Asupan protein sangat penting untuk mempertahankan massa otot. Kebutuhan kalsium dan vitamin D juga harus diperhatikan untuk menjaga kekuatan tulang.

2026-06-05T13:15

Geriatri - Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) selama ini dikenal sebagai gangguan pernapasan yang menyebabkan sesak napas kronis. Namun, banyak orang belum menyadari bahwa PPOK juga dapat memicu masalah serius pada otot dan tulang, terutama pada lansia. Dua kondisi yang sering muncul bersamaan adalah sarkopenia dan osteoporosis.

Sarkopenia merupakan kondisi menurunnya massa dan kekuatan otot akibat proses penuaan maupun penyakit kronis. Sementara osteoporosis adalah pengeroposan tulang yang membuat tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Ketika keduanya terjadi bersamaan pada pasien PPOK, risiko jatuh, patah tulang, hingga penurunan kualitas hidup menjadi jauh lebih besar.

Dilansir dari Perhimpunan Osteoporosis Indonesia (PEROSI), studi menunjukkan lebih dari sepertiga pasien PPOK (37,62%) menderita osteoporosis. Faktor risiko meliputi terapi glukokortikoid, inflamasi sistemik, sarkopenia, berat badan rendah, merokok, konsumsi alkohol, dan rendahnya aktivitas fisik. Fraktur vertebra terjadi pada 40% pasien PPOK dengan angka mortalitas fraktur panggul osteoporotik mencapai 33%, terutama pada usia di atas 75 tahun dengan komorbiditas.

Pada penderita PPOK, tubuh mengalami peradangan kronis yang berlangsung dalam jangka panjang. Kondisi ini menyebabkan otot lebih cepat melemah. Selain itu, pasien PPOK sering mengalami sesak napas sehingga aktivitas fisik berkurang. Akibatnya, massa otot terus menurun.

Di sisi lain, penggunaan obat kortikosteroid jangka panjang pada sebagian pasien PPOK juga dapat mempercepat pengeroposan tulang. Kurangnya aktivitas luar ruangan membuat paparan sinar matahari dan kadar vitamin D ikut menurun, sehingga kesehatan tulang semakin terganggu.

Kombinasi inilah yang membuat lansia dengan PPOK lebih mudah mengalami kelelahan, sulit berjalan, kehilangan keseimbangan, hingga mengalami patah tulang akibat jatuh ringan.

Sarkopenia dan osteoporosis pada PPOK sering berkembang perlahan tanpa gejala yang jelas. Banyak lansia menganggap tubuh yang makin lemah sebagai proses penuaan biasa. Padahal, kondisi ini dapat menyebabkan:

  • Kesulitan berdiri atau berjalan jauh
  • Tubuh cepat lelah saat beraktivitas
  • Penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari
  • Risiko jatuh yang lebih tinggi
  • Tulang mudah patah, terutama tulang belakang dan panggul
  • Menurunnya kemandirian lansia

Menurut PEROSI, pendekatan rehabilitatif memiliki peran besar dalam membantu pasien PPOK yang mengalami sarkopenia dan osteoporosis. 

Beberapa pendekatan rehabilitatif yang dianjurkan di antaranya:

Latihan Fisik Terstruktur

Latihan fisik membantu meningkatkan kekuatan otot dan menjaga keseimbangan tubuh. Program latihan biasanya meliputi latihan penguatan otot, keseimbangan, berjalan, dan latihan pernapasan.

Pemenuhan Nutrisi

Asupan protein sangat penting untuk mempertahankan massa otot. Selain itu, kebutuhan kalsium dan vitamin D juga harus diperhatikan untuk menjaga kekuatan tulang.

Lansia dengan PPOK dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seimbang seperti ikan, telur, susu, tahu, tempe, sayuran hijau, dan buah-buahan.

Pencegahan Jatuh

Karena risiko jatuh meningkat, lingkungan rumah perlu dibuat lebih aman. Misalnya dengan menghindari lantai licin, menggunakan alas kaki yang nyaman, hingga memastikan pencahayaan rumah cukup terang. 

Pendampingan Multidisiplin

Penanganan terbaik dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan dokter, ahli rehabilitasi medik, ahli gizi, fisioterapis, dan keluarga pasien.

sarkopenis,osteoporosis,ppok,lansia sehat

ARTIKEL LAINNYA

Mengasuh Cucu? Boleh Banget tuh

Thailand Tiru Jepang dalam Penanganan Lansia

Membuka Ruang Belajar di Usia Senja: Sekolah Lansia Hadir di Bali

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026