Waspada! Demensia dan Alzheimer Pengaruhi Pola Makan Lansia


Berita Lansia - Menurut Konsultan Geriatri Dr. dr. Czeresna Heriawan Soejono, SpPD-KGer, MEpid, MPH, demensia dan alzheimer dapat menyebabkan perubahan perilaku pada lansia yang turut memengaruhi pola makan mereka.

2025-03-06 23:17:41

Geriatri.id - Demensia dan alzheimer adalah dua gangguan yang sering ditemukan pada orang lanjut usia (lansia). Keduanya kerap dikaitkan dengan istilah pikun karena berdampak pada fungsi otak, termasuk berkurangnya daya ingat.

Menurut Konsultan Geriatri Dr. dr. Czeresna Heriawan Soejono, SpPD-KGer, MEpid, MPH, demensia dan alzheimer dapat menyebabkan perubahan perilaku pada lansia yang turut memengaruhi pola makan mereka.

“Dia (lansia) bisa menjadi agresif, sering marah-marah, enggak jelas maunya apa, kadang-kadang hilang, kadang-kadang jalan mondar-mandir semalaman tanpa jelas tujuannya,” ujar Czeresna dikutip dari YouTube Geriatri TV.

Baca Juga: Catat! Ini Daftar 144 Penyakit yang Dijamin BPJS Kesehatan

Perubahan perilaku tersebut membuat lansia kesulitan mengenali jadwal makan. 

Bahkan, ketika disajikan makanan, mereka bisa membentak atau menyingkirkan makanan hingga tumpah.

Pentingnya Memahami Lansia

Czeresna menambahkan perubahan perilaku ini memiliki penyebab tertentu yang tidak selalu dipahami anak atau pendamping.

“Dia (lansia) tidak mampu menyampaikan apa yang dirasakan dan apa yang dipikirkan, tetapi ada sesuatu yang tidak terpenuhi. Bisa saja dia merasa bosan tapi tidak tahu bagaimana mengekspresikan perasaan bosan tersebut,” jelasnya. 

Karena itu, keluarga harus jeli dalam mengenali situasi yang membuat lansia tidak nyaman. 

Jika dibiarkan, hal ini bisa berdampak pada status nutrisi dan berujung pada masalah kesehatan lainnya.

Menanggulangi Perubahan Perilaku Lansia

Keluarga dan pendamping lansia perlu mengidentifikasi faktor penyebab ketidaknyamanan mereka. 

Setelah penyebab ditemukan, langkah berikutnya adalah melakukan perbaikan agar lansia merasa lebih nyaman.

Menyesuaikan Lingkungan


Jika lansia merasa jengkel dengan suatu benda di rumah, benda tersebut dapat disingkirkan agar mereka lebih tenang dan kooperatif.

Merawat Gigi Palsu

Jika masalah berasal dari gigi palsu yang tidak pas, maka perbaikannya perlu dilakukan agar lansia bisa makan dengan nyaman.

Memberikan Makanan yang Mudah Dikonsumsi

Lansia umumnya mengalami penurunan produksi air liur yang menyebabkan mulut kering. 

Karena itu, makanan berkuah bisa menjadi solusi, tetapi tetap harus disajikan dengan hati-hati agar tidak menyebabkan tersedak.

Menambah Asupan Nutrisi

Jika lansia mengalami kekurangan gizi, maka suplemen nutrisi dapat menjadi solusi tambahan. Produk seperti susu dengan kandungan nutrisi lengkap bisa membantu memenuhi kebutuhan gizi harian mereka.

Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia

Dengan memahami kondisi lansia dan memberikan perhatian khusus terhadap pola makan mereka, keluarga dan pendamping dapat membantu meningkatkan kualitas hidup lansia serta mencegah berbagai masalah kesehatan yang mungkin timbul akibat kurangnya asupan nutrisi.***

*Ilustrasi - Demensia dan alzheimer adalah dua gangguan yang sering ditemukan pada orang lanjut usia (lansia).(Pixabay)

Video Lansia Online


ARTIKEL LAINNYA

Tantangan buat Caregiver: Tuntutan Perawatan Makin Kompleks

Di Jepang, Lansia “Asuh” Anak yang Semakin Tua

Jumaria, Lansia yang Jadi Ikon Haji 2026

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026