Waspadai Ancaman Mikroplastik Bagi Kesehatan Otak, Ini Fakta yang Harus Diketahui


Berita Lansia - Kontaminasi mikroplastik dalam tubuh manusia bukan hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak serius pada fungsi kognitif otak. 

2025-02-24 15:53:52

Geriatri.id - Kontaminasi mikroplastik dalam tubuh manusia bukan hanya menjadi isu lingkungan, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak serius pada fungsi kognitif otak. 

Sayangnya, belum adanya standar pengujian mikroplastik dalam makanan dan lingkungan memperburuk penyebarannya dalam tubuh manusia.

Berdasarkan laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) berjudul "Policy Scenarios for Eliminating Plastic Pollution by 2040", jumlah sampah plastik global meningkat drastis dari 213 juta ton pada tahun 2000 menjadi 460 juta ton pada 2019.

Di Indonesia, masalah ini juga menjadi perhatian utama. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menunjukkan bahwa total produksi sampah pada 2023 mencapai 41,07 juta ton, dengan 7,86 juta ton di antaranya berupa sampah plastik. 

Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia

Sayangnya, sebagian besar sampah ini hanya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) atau mencemari lingkungan, termasuk laut.

Menurut Afifah Rahmi Andini, Peneliti Plastik dari Greenpeace Indonesia, peningkatan produksi sampah plastik yang tidak diimbangi dengan sistem pengelolaan yang efektif telah menyebabkan mikroplastik menyebar luas ke berbagai aspek lingkungan, seperti air, tanah, udara, serta produk konsumsi seperti ikan, daging, dan garam. 

“Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan risiko kontaminasi mikroplastik dalam tubuh manusia,” jelasnya dalam acara Hiddeh Pollution: The unseen of Microplastic di Creative Hall, Mbloc Space, Jakarta, 23 Februari 2025.

Dampak Mikroplastik terhadap Fungsi Kognitif

Greenpeace Indonesia bersama Universitas Indonesia melakukan studi kolaboratif untuk meneliti dampak mikroplastik terhadap kesehatan, terutama fungsi kognitif manusia. 

Studi ini berlangsung dari Januari 2023 hingga Desember 2024 dengan melibatkan 562 responden dari Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang.

Pada tahap pertama, survei dilakukan untuk mengidentifikasi kelompok masyarakat yang rentan terhadap paparan mikroplastik dan pola konsumsi plastik mereka. 

Tahap kedua mencakup analisis kadar mikroplastik dalam darah, urin, dan feses partisipan terpilih guna meneliti keterkaitannya dengan fungsi kognitif.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik ditemukan dalam 95% sampel darah dari 67 partisipan dengan kadar berkisar antara 0 hingga 7,35 partikel per gram (p/g). 

Mikroplastik juga terdeteksi dalam urin dengan kadar 0-0,33 partikel per mililiter (p/mL) serta dalam feses dengan kadar 0-44,35 partikel per gram (p/gr).

Jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan dalam tubuh partisipan adalah Polyethylene Terephthalate (PET), dengan total 204 partikel yang terdeteksi. 

PET umumnya berasal dari botol plastik sekali pakai, kemasan makanan siap saji, produk perawatan tubuh, serta serat pakaian dan karpet. 

Mikroplastik yang berukuran kurang dari 5 milimeter ini dapat dengan mudah masuk ke dalam tubuh melalui rantai makanan, sistem pengolahan limbah yang buruk, serta konsumsi makanan laut yang terkontaminasi.

Studi yang masih dalam tahap peer review ini menemukan bahwa individu dengan pola konsumsi plastik sekali pakai yang tinggi berisiko mengalami penurunan fungsi kognitif hingga 36 kali lipat. 

Menurut dr. Pukovisa Prawirohardjo, Sp.S(K), Ph.D., seorang ahli saraf dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), partisipan yang terpapar mikroplastik mengalami gangguan pada kemampuan berpikir, mengingat, dan mengambil keputusan.

Analisis fungsi kognitif dilakukan menggunakan metode Montreal Cognitive Assessment Indonesia (MoCA-Ina) dengan keterlibatan tim dokter dari Divisi Neurobehavior FKUI-RSCM. 

Hasilnya menunjukkan bahwa kontaminasi mikroplastik dalam tubuh dapat memengaruhi kesehatan otak secara signifikan.

Assoc. Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, M.Sc, dari tim riset mikroplastik dari Fakultasi MIPA UI, mengungkapkan bahwa penelitian ini melibatkan 562 responden dan berfokus pada pengujian mikroplastik dalam sampel darah, urin, serta feses. 

Mikroplastik sendiri berbentuk partikel kecil, baik primer maupun sekunder, dan tersebar luas di berbagai aspek kehidupan—mulai dari air, tanah, udara, makanan, hingga produk buatan seperti kosmetik dan pakaian.

Temuan Utama Penelitian


Dalam tubuh manusia, mikroplastik terdeteksi dalam darah, urin, dan feses. Dari 67 partisipan yang diuji, sebanyak 95% sampel darah mereka mengandung mikroplastik, dengan jumlah partikel yang bervariasi antara 0 hingga 44,35 partikel per gram (p/g). 

Sementara itu, mikroplastik dalam sampel urin terdeteksi dalam kisaran 0 hingga 0,33 partikel per mililiter (p/mL).

Jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan adalah Polyethylene Terephthalate (PET), dengan total 204 partikel terdeteksi dalam tubuh para partisipan. Ukuran partikel PET bervariasi, mulai dari 30 μm hingga 3000 μm. 

Sumber utama kontaminasi ini berasal dari penggunaan plastik sekali pakai, seperti botol minuman, kemasan makanan siap saji, botol produk perawatan tubuh, hingga serat pakaian dan karpet.

Penelitian ini juga mengungkap fakta yang mengkhawatirkan: partisipan dengan konsumsi plastik sekali pakai yang tinggi berisiko mengalami penurunan fungsi kognitif hingga 36 kali lipat. 

Gangguan ini berdampak pada kemampuan berpikir, mengingat, serta mengambil keputusan.

Perlunya Kebijakan untuk Mengurangi Kontaminasi Mikroplastik

Mayoritas masyarakat mendukung berbagai kebijakan untuk mengatasi pencemaran mikroplastik, termasuk penghentian bertahap produksi plastik murni, promosi sistem isi ulang dan penggunaan kembali, serta penerapan standar baku mutu mikroplastik. 

Selain itu, perbaikan sistem pengelolaan sampah di tingkat lokal juga sangat diperlukan.

Menurut Ibar F. Akbar, Juru Kampanye Plastik Greenpeace Indonesia, pemerintah dan produsen memiliki peran besar dalam mengatasi pencemaran mikroplastik. 

Pemerintah perlu mempercepat penerapan larangan plastik sekali pakai, memperbaiki sistem pengelolaan sampah berbasis pemilahan, serta menetapkan standar pengujian mikroplastik yang ketat dalam produk pangan dan lingkungan.

Baca Juga: Catat! Ini Daftar 144 Penyakit yang Dijamin BPJS Kesehatan

Di sisi lain, produsen juga harus mengambil langkah proaktif dengan mengurangi produksi dan distribusi plastik sekali pakai. Mereka perlu beralih ke sistem kemasan guna ulang (reuse) dan isi ulang (refill), serta meningkatkan transparansi terkait komposisi plastik dalam produk mereka.(Hilman)***

*Acara Hiddeh Pollution: The unseen of Microplastic di Creative Hall, Mbloc Space, Jakarta, 23 Februari 2025.(Geriatri/Hilman Hilmansyah)

Video Senior Podcast

mikroplastik,bahaya mikroplastik,lansia,berita lansia,kesehatan lansia,merawat lansia

ARTIKEL LAINNYA

Peran Keluarga dalam Mendampingi Lansia

Mengenal Perubahan Tubuh di Usia Emas Saat Berpuasa

Habis Lebaran, Yuk Gerak Lagi

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026