Orang Indonesia Paling Banyak Konsumsi Mikroplastik, Ini Sumbernya


Berita Lansia - Tanpa disadari, manusia menghirup, makan, dan minum serpihan kecil sampah plastik yang dikenal sebagai mikroplastik dan nanoplastik. Ini terjadi hampir setiap hari.  

2025-02-17 23:20:10

Geriatri.id - Tanpa disadari, manusia menghirup, makan, dan minum serpihan kecil sampah plastik yang dikenal sebagai mikroplastik dan nanoplastik. Ini terjadi hampir setiap hari.  

Penelitian telah menemukan kemungkinan hubungan mikroplastik dengan masalah kesehatan serius, termasuk beberapa jenis kanker, gangguan pernapasan, serangan jantung, dan penyakit radang usus.

Studi yang dipublikasikan dalam Environmental Science & Technology mengungkap, masyarakat Indonesia paling banyak mengonsumsi mikroplastik di dunia. 

Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia

Rata-rata, orang Indonesia mengonsumsi sekitar 15 gram mikroplastik per bulan, disusul Malaysia dan Filipina.

Dikutip dari Euro News, berikut lima produk utama yang menjadi sumber paparan mikroplastik: 

1. Talenan plastik

Penelitian dari American Chemical Society (ACS) menunjukkan talenan plastik dapat membuat manusia terpapar hingga 79,4 juta mikroplastik polipropilena setiap tahunnya. 

Ini menunjukkan penggunaan talenan plastik dapat meningkatkan perpindahan mikroplastik ke makanan.

Sebagai alternatif, talenan kaca tahan banting atau talenan berbahan serat kertas yang tahan lama bisa menjadi pilihan lebih aman dan ramah lingkungan.

2. Kantong teh celup

Banyak kantong teh celup dibuat dari plastik polipropilen yang tidak ramah lingkungan. Bahkan, kantong teh kertas pun bisa mengandung sisa plastik di lapisan penutupnya.

Studi dari Dow University of Health Sciences pada 2023 mengungkapkan, satu cangkir teh dapat mengandung hingga 3,1 miliar nanoplastik akibat kantong teh yang digunakan. 

Kantong teh juga diketahui mengandung senyawa berbahaya seperti fluor, arsenik, timbal, dan merkuri.

Untuk solusi lebih aman, gunakan teko besi atau saringan logam, atau pilih kantong teh katun organik.

3. Wadah es batu plastik


Mirip dengan air kemasan, wadah es batu plastik juga dapat menyebabkan kontaminasi mikroplastik. 

Meskipun penelitian masih terbatas, pembekuan plastik dapat menyebabkan pelepasan mikroplastik ke dalam air, seperti yang terjadi saat plastik dipanaskan.

Alternatif lebih aman termasuk wadah es batu dari baja tahan karat atau silikon yang lebih ramah lingkungan.

4. Wadah makanan yang dapat dipanaskan dengan microwave

Produk plastik yang diberi label 'aman untuk microwave' ternyata bisa melepaskan sejumlah besar mikroplastik saat dipanaskan.

Studi pada 2023 dari Universitas Nebraska-Lincoln menemukan hingga 4 juta mikroplastik per sentimeter persegi dalam makanan bayi kemasan plastik tertentu yang disebut 'aman untuk microwave'.

Disarankan menghindari produk dengan ftalat, stirena, dan bisfenol, yang merupakan bahan kimia terkait plastik yang berbahaya bagi kesehatan.

5. Gelas kertas

Menggunakan gelas kertas untuk minuman panas ternyata bisa menyebabkan pelepasan bahan kimia berbahaya seperti fluorida, klorida, sulfat, dan nitrat. 

Hal ini dibuktikan dalam penelitian 2021 yang diterbitkan di Journal of Hazardous Materials.

Sebagai solusi, gunakan tempat minum dari baja tahan karat yang kedap udara. Selain lebih sehat, ini juga dapat digunakan kembali dan mengurangi limbah plastik.

Baca Juga: Catat! Ini Daftar 144 Penyakit yang Dijamin BPJS Kesehatan

Mikroplastik telah menjadi bagian dari kehidupan manusia, dan dampaknya terhadap kesehatan tidak bisa diabaikan. 

Dengan mengganti produk sehari-hari dengan alternatif yang lebih aman, kita dapat mengurangi paparan mikroplastik dan menjaga kesehatan untuk jangka panjang. 

Jadi, sudahkah Anda memilih opsi yang lebih ramah lingkungan?***

*Ilustrasi - Waspadai bahaya mikroplastik.(Pixabay)

Video Senior Podcast

mikroplastik,bahaya mikroplastik,lansia,kesehatan lansia,berita lansia

ARTIKEL LAINNYA

Peran Keluarga dalam Mendampingi Lansia

Mengenal Perubahan Tubuh di Usia Emas Saat Berpuasa

Habis Lebaran, Yuk Gerak Lagi

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026