
Geriatri.id - Sejak dulu, manusia mencari cara untuk hidup lebih lama dan awet muda. Penelitian terbaru menunjukkan rahasia umur panjang sebenarnya sederhana, makan lebih sedikit dan mengikuti ritme harian tubuh.
Penelitian yang dipimpin Joseph Takahashi dari Howard Hughes Medical Institute (HHMI) mengungkapkan, diet rendah kalori, terutama jika dilakukan pada waktu tertentu, dapat memperpanjang umur secara signifikan.
Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Science pada 5 Mei 2022.
Dalam studi selama empat tahun terhadap ratusan tikus, tim Takahashi menemukan, diet rendah kalori memperpanjang umur hingga 10%.
Namun, ketika diet ini diterapkan pada waktu aktif tikus (malam hari), umur mereka meningkat hingga 35%.
Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia
Dalam konteks umur tikus, ini setara dengan tambahan sembilan bulan, atau sekitar 15 tahun dalam kehidupan manusia.
Penemuan ini juga menjelaskan mengapa diet seperti puasa intermiten menjadi populer, meskipun efeknya pada penurunan berat badan masih diperdebatkan.
Penelitian ini sejalan dengan temuan sebelumnya yang menunjukkan pembatasan kalori dapat menurunkan tanda-tanda penuaan, seperti:
- Peningkatan regulasi glukosa yang membantu menjaga kadar gula darah.
- Penurunan tekanan darah, mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.
- Pengurangan peradangan, yang sering dikaitkan dengan penuaan dan berbagai penyakit kronis.
Menurut Sai Krupa Das, ilmuwan nutrisi di Jean Mayer USDA Human Nutrition Research Center on Aging, pembatasan kalori juga dapat membantu menyeimbangkan perubahan genetik yang terjadi seiring bertambahnya usia.
Misalnya, gen terkait dengan peradangan cenderung lebih aktif, sementara gen yang mengatur metabolisme menjadi kurang aktif.
Eksperimen tikus dan pelajaran untuk manusia
Tim Takahashi menggunakan teknologi feeder otomatis untuk mengatur jadwal makan tikus sepanjang hidup mereka.
Hasilnya menunjukkan, tikus yang makan dalam jangka waktu terbatas, seperti dua hingga 12 jam di malam hari, hidup lebih lama dibandingkan tikus yang makan sepuasnya sepanjang hari.
Menariknya, perbedaan umur panjang ini terjadi meskipun berat badan tikus tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.
"Kami menemukan perbedaan sangat besar dalam umur, meski berat badan tikus pada jadwal makan berbeda tidak menunjukkan perbedaan," ujar Takahashi.
Penelitian ini memberikan wawasan berharga tentang cara memperpanjang umur manusia.
Pola makan yang sesuai dengan ritme harian tubuh, seperti makan hanya pada siang hari saat tubuh aktif, dapat menjadi strategi untuk meningkatkan umur panjang.
Bahkan, Takahashi telah menerapkan pola makan terbatas dalam 12 jam.
Baca Juga: Catat! Ini Daftar 144 Penyakit yang Dijamin BPJS Kesehatan
Hidup lebih lama bukan lagi sekadar angan-angan. Penelitian menunjukkan kunci umur panjang adalah mengurangi jumlah kalori dan sesuaikan waktu makan dengan ritme tubuh.
Meski tantangannya tidak mudah, manfaatnya untuk kesehatan dan kualitas hidup jangka panjang tidak dapat diabaikan.***
*Ilustrasi - Penelitian rahasia umur panjang.(Pixabay)
Video Senior Podcast
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri