
Geriatri.id - Selama bertahun-tahun, pandangan "you only live once" (YOLO) menjadi simbol gaya hidup anak muda. Gaya hidup ini memprioritaskan kebahagiaan instan dan pengalaman tanpa memikirkan konsekuensi finansial jangka panjang.
Dengan meningkatnya tekanan ekonomi, tren YOLO kini digantikan pendekatan baru yang lebih realistis "you only need one" (YONO).
Tren YONO yang muncul di Korea Selatan (Korsel), menggambarkan pergeseran budaya konsumsi dengan lebih sadar. Dengan pendekatan baru ini, anak muda Korsel kini lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang mereka.
Mereka lebih fokus pada kebutuhan pokok, dan mulai memprioritaskan stabilitas finansial di masa depan.
Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia
Menghitung pengeluaran, mengatur prioritas
Choi Ye Bin (27), seorang direktur acara menjadi salah satu contoh generasi muda yang menerapkan gaya hidup YONO.
Dalam empat tahun terakhir, ia secara konsisten mencatat pengeluaran rumah tangga untuk memastikan uangnya tidak terbuang percuma.
“Ketika saya tidak memiliki janji temu, saya berusaha untuk tidak makan di luar. Jika saya memiliki dua janji temu dalam seminggu, itu menjadi tanda bahaya bagi saya,” ujar Choi dikutip The Korea Times.
Choi juga menerapkan gaya hidup yang tidak boros. Jika dulu menikmati makanan mewah seperti omakase dianggap tren yang dikagumi, kini banyak anak muda mulai mempertimbangkan ulang kebiasaan tersebut.
“Reaksinya berubah. Orang-orang lebih memilih mengalokasikan uang untuk sesuatu yang lebih penting,” tambah Choi.
Tekanan ekonomi mendorong gaya hidup hemat
Lonjakan inflasi dan rendahnya pertumbuhan pendapatan menjadi faktor utama di balik perubahan ini.
Data dari Statistik Korsel menunjukkan inflasi mencapai puncaknya pada 5,1 persen pada 2022.
Sementara kenaikan gaji tahunan hanya mencapai 0,9 persen di tahun yang sama.
Ini berdampak pada pengeluaran untuk hal-hal seperti makan di restoran, kopi mahal, dan kendaraan impor mulai menurun drastis.
Sebaliknya, konsumsi makanan dari minimarket meningkat 21 persen, sementara pembelian mobil domestik naik 34 persen.
“Generasi kami harus mempersiapkan biaya hidup di masa pensiun secara mandiri. Saya lebih suka menggunakan uang untuk investasi daripada menyia-nyiakannya,” kata Lee, seorang pekerja kantoran berusia 30 tahun.
Berhemat dengan tujuan, bukan sekadar menahan diri
Gaya hidup YONO bukan berarti sepenuhnya meninggalkan kesenangan. Sebaliknya, anak muda kini lebih selektif dalam membelanjakan uang mereka.
Hobi dan perjalanan ke luar negeri justru menjadi area pengeluaran yang meningkat.
“Daripada memiliki barang, mereka (anak muda) tidak ragu menghabiskan uang untuk pengalaman seperti olahraga atau perjalanan,” ungkap laporan NH NongHyup Bank.
Pergeseran menuju masa depan lebih stabil
Tren YONO mencerminkan perubahan pola pikir generasi muda yang lebih rasional dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Dalam budaya yang sebelumnya merayakan kebebasan YOLO, kini ada kesadaran bahwa hidup bukan hanya soal menikmati hari ini, tetapi juga mempersiapkan hari esok.
Baca Juga: Tanya Jawab Masalah Kesehatan Jantung
Anak muda Korsel telah memberi pelajaran penting bahwa kebahagiaan tidak harus selalu datang dari pengeluaran besar, tetapi dari keputusan bijaksana dan berorientasi pada masa depan.***
*Ilustrasi - Suasana malam Kota Seoul, Korsel.(Pixabay)
Video Senior Podcast
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri