Kesepian Tingkatkan Risiko Demensia hingga 31 Persen


Berita Lansia - Sebuah studi terbaru menemukan bahwa perasaan kesepian dapat meningkatkan risiko seseorang terkena demensia hingga 31 persen.

2024-12-17 23:30:18

Geriatri.id - Sebuah studi terbaru menemukan bahwa perasaan kesepian dapat meningkatkan risiko seseorang terkena demensia hingga 31 persen.

Penelitian ini menunjukkan bahwa kesepian bukan hanya sekadar perasaan terisolasi atau sendirian, melainkan juga berdampak negatif pada kesehatan otak.

Lebih dari itu, kesepian mencerminkan ketidakterpenuhan kebutuhan emosional seseorang untuk merasa ditemani dan terhubung secara sosial.

Menurut studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Mental Health, kesepian memiliki kaitan erat dengan risiko penyakit neurodegeneratif, seperti demensia. Penelitian berskala besar ini melibatkan analisis data dari lebih dari 608.000 individu di berbagai belahan dunia.

Martina Luchetti, pemimpin penelitian ini, bersama timnya melakukan meta-analisis mendalam untuk menilai hubungan antara kesepian dan demensia.

Baca Juga: Tanya Jawab Masalah Kesehatan Jantung

Hasilnya mengungkapkan bahwa individu yang melaporkan sering merasa kesepian memiliki risiko 31 persen lebih tinggi terkena demensia dibandingkan mereka yang tidak merasa kesepian.

Menariknya, faktor risiko ini memiliki dampak yang sebanding dengan penyebab umum demensia lainnya, seperti kebiasaan merokok atau kurangnya aktivitas fisik.

Kesepian ternyata tidak hanya berdampak pada kondisi emosional, tetapi juga memicu perubahan fisik yang berkaitan dengan kesehatan otak.

Para peneliti menemukan bahwa kesepian dapat meningkatkan risiko demensia, terutama penyakit Alzheimer dan demensia vaskular.
Hubungan dengan demensia vaskular disebut cukup kuat karena kesepian merupakan bentuk stres tersembunyi yang dapat mempengaruhi kesehatan jantung.

Selain itu, studi ini juga mencatat bahwa kesepian bisa memicu penurunan fungsi kognitif ringan, seperti kesulitan berpikir atau mengingat, hingga 15 persen.

Gangguan ini sering kali muncul sebelum gejala demensia berkembang, menandakan bahwa kesepian dapat memengaruhi kemampuan berpikir sejak dini.

Kurangnya aktivitas mental dan dampak fisik


Penelitian ini menjelaskan bahwa kesepian sering kali membuat seseorang kurang terstimulasi secara mental. Minimnya aktivitas otak ini bisa mempercepat penurunan kognitif.

Selain itu, kesepian kronis sering dikaitkan dengan stres dan peradangan, gaya hidup tidak sehat yang pada akhirnya meningkatkan risiko penyakit demensia.

Studi ini menekankan bahwa kesepian bukan hanya masalah emosional, melainkan faktor risiko serius bagi demensia dan gangguan kognitif lainnya.

Dengan memahami dampaknya, penting bagi individu, keluarga, dan masyarakat untuk mendorong interaksi sosial yang positif dan menjaga kesehatan mental sejak dini.

Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia

Langkah-langkah seperti menjaga koneksi dengan orang lain, berpartisipasi dalam aktivitas sosial, serta menjaga gaya hidup sehat bisa menjadi kunci untuk mencegah risiko ini.***

*Ilustrasi - Kesepian bisa meningkatkan risiko demensia.(Pixabay)

Video Senior Podcast


ARTIKEL LAINNYA

Tantangan buat Caregiver: Tuntutan Perawatan Makin Kompleks

Di Jepang, Lansia “Asuh” Anak yang Semakin Tua

Jumaria, Lansia yang Jadi Ikon Haji 2026

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026