
Geriatri.id - Sebuah penelitian terbaru dari Norwegian National Centre of Ageing and Health, Columbia Mailman School of Public Health, dan Butler Columbia Aging Center mengungkapkan, pekerjaan dengan tuntutan fisik tinggi dapat meningkatkan risiko demensia dan gangguan kognitif di usia lanjut.
Penelitian ini menunjukkan pentingnya mengembangkan strategi khusus untuk mencegah kerusakan kognitif pada individu yang bekerja di sektor tersebut.
Pekerjaan dengan tuntutan fisik tinggi
Penelitian ini mengidentifikasi lima jenis pekerjaan yang sering kali menuntut aktivitas fisik tinggi, antara lain sales dan pekerja retail, perawat kesehatan, perawat lansia atau perawat penyandang disabilitas, petani dan peternak.
Pekerjaan tersebut melibatkan aktivitas fisik intens seperti mengangkat, membungkuk, berjalan, menyeimbangkan, hingga menangani material berat.
Hasil penelitian
Baca Juga: Tanya Jawab Masalah Kesehatan Jantung
Penelitian ini merupakan bagian dari Studi HUNT4 70+, salah satu studi demensia berbasis populasi terbesar di dunia.
Berdasarkan pengamatan terhadap 7.005 peserta berusia 70 tahun ke atas, ditemukan 902 peserta didiagnosis demensia dan 2.407 peserta mengalami gangguan kognitif ringan.
Orang yang bekerja dalam pekerjaan dengan tuntutan fisik tinggi memiliki risiko 15,5% lebih besar mengalami demensia atau gangguan kognitif.
Sebaliknya, risiko tersebut turun menjadi 9% pada mereka yang bekerja di lingkungan dengan tuntutan fisik rendah.
Mengapa tuntutan fisik tinggi berisiko?
Para peneliti menyimpulkan risiko demensia lebih tinggi pada pekerjaan dengan tuntutan fisik tinggi terkait beberapa faktor:
1. Volume hipokampus lebih kecil
Pekerjaan fisik berat dikaitkan dengan penurunan volume hipokampus, area otak yang penting untuk memori dan fungsi kognitif.
2. Stres dan beban kerja
Pekerjaan dengan tuntutan fisik tinggi sering disertai kurangnya kontrol pekerjaan, jam kerja kaku, dan tingkat stres tinggi. Kondisi ini dapat memperburuk keausan pada tubuh dan otak.
3. Kurangnya pemulihan
Waktu istirahat terbatas akibat pekerjaan berat mengurangi kemampuan tubuh dan otak untuk pulih, sehingga mempercepat proses penuaan dan penurunan fungsi kognitif.
4. Kurangnya stimulasi kognitif
Pekerjaan fisik sering kali kurang menuntut aktivitas kognitif dibandingkan pekerjaan seperti pengajaran, administrasi, atau teknik, yang dapat memberikan stimulasi otak lebih baik sepanjang hidup.
Paradoks aktivitas fisik
Profesor Vegard Skirbekk, penulis utama studi ini, mencatat fenomena yang disebut paradoks aktivitas fisik. Aktivitas fisik dalam waktu senggang seperti olahraga biasanya dikaitkan dengan hasil kognitif yang baik.
Namun, aktivitas fisik yang intens dalam pekerjaan justru dapat memberikan dampak negatif pada fungsi otak.
Menurut Skirbekk, demensia sering kali memiliki periode pra-klinis hingga dua dekade sebelum gejala muncul.
Karena itu, penting untuk memantau individu yang telah menjalani pekerjaan dengan aktivitas fisik tinggi sepanjang hidup mereka.
Peluang pencegahan
Penelitian ini menyoroti kebutuhan mengembangkan strategi pencegahan efektif, terutama bagi mereka yang terlibat dalam pekerjaan fisik berat.
Beberapa langkah yang dapat diambil meliputi:
- Mengatur waktu istirahat untuk memungkinkan pemulihan tubuh dan otak.
- Menyediakan pelatihan untuk meningkatkan kontrol pekerjaan dan mengurangi stres.
- Mendorong aktivitas kognitif tambahan di luar pekerjaan, seperti membaca atau bermain teka-teki.
Hasil penelitian ini memberikan wawasan penting tentang hubungan antara pekerjaan fisik berat dengan risiko demensia.
Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia
Meski pekerjaan fisik tidak dapat dihindari dalam beberapa profesi, strategi pencegahan yang tepat dapat membantu melindungi kesehatan otak dan mengurangi risiko gangguan kognitif di kemudian hari.
Pekerjaan fisik yang berat seharusnya tidak menjadi ancaman bagi masa depan kognitif seseorang.
Dengan upaya tepat, risiko demensia dapat diminimalkan, dan kualitas hidup di usia lanjut dapat ditingkatkan.***
*Ilustrasi - Pekerjaan dengan tuntutan fisik tinggi berisiko demensia.(Pixabay)
Video Senior Podcast
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri