
Geriatri.id - Peneliti post-doctoral Pusat Riset Biomedis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Feni Betriana, memaparkan implementasi teknologi robotik dalam perawatan geriatri di Jepang.
Feni menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mengeksplorasi interaksi antara robot kesehatan dan para lansia.
“Komunikasi dilakukan dengan menggunakan robot yang berfungsi sebagai teman bagi pasien, memungkinkan mereka untuk bercengkerama dan merasa lebih terhubung,” ujar Feni, dalam webinar bertema “Geriatric Healthcare Updates”, Kamis 12 Desember 2024.
Feni menyampaikan pengalaman risetnya terkait peningkatan populasi lansia usia 65 tahun di Jepang, yang menyebabkan kekurangan tenaga produktif untuk merawat mereka.
Untuk mengatasi masalah ini, diciptakan robot yang dapat membantu para perawat, fisioterapis, dan tenaga kesehatan lainnya dalam merawat lansia, baik di rumah sakit maupun di rumah.
Salah satu robot yang digunakan dalam penelitian ini adalah “Pepper,” - menyerupai manusia dan telah hadir sejak 2014.
Baca Juga: Tanya Jawab Masalah Kesehatan Jantung
Robot ini dirancang untuk berinteraksi dengan manusia melalui dua mode, bicara langsung dan menggunakan tablet dengan layar sentuh, yang memungkinkan pengguna memilih aplikasi sesuai keinginan.
Menariknya, robot ini tidak hanya ada di rumah sakit, tetapi juga di pusat perbelanjaan, sekolah, dan kantor.
Selama pandemi COVID-19, robot ini bahkan ditunjuk sebagai duta dari Sekretariat Kabinet Jepang.
“Dalam penelitian ini, kami menciptakan situasi di mana robot berinteraksi dengan orang-orang dalam dua skenario, yaitu percakapan dan olahraga. Robot ini dapat mengeluarkan suara dan melakukan gerakan yang dapat diikuti oleh para lansia saat berolahraga,” jujar Feni dikutip dari laman BRIN.
Namun, penting untuk dicatat, interaksi robot ini belum sepenuhnya independen tetapi memerlukan staf dengan kompetensi teknologi untuk mendukung penggunaannya.
“Meskipun penggunaan robot memberi banyak manfaat, terdapat kekhawatiran terkait sifat robot yang mendekati sifat manusia. Oleh karena itu, penting untuk mencegah hal-hal yang tidak nyaman dalam pembuatan robot di masa depan,” katanya.
Selain robot, teknologi lain yang digunakan dalam merawat lansia di Jepang adalah drone, dioperasikan dengan pelacakan mata.
Teknologi ini memungkinkan pasien yang tidak dapat keluar dari rumah sakit untuk merasakan situasi dunia nyata secara real-time.
Menurutnya, penggunaan robot melibatkan multidisipliner, tidak hanya tenaga kesehatan atau peneliti. Tenaga kesehatan perlu mendapat pendidikan atau pelatihan terkait teknologi yang digunakan.
“Pertanyaan yang muncul adalah apakah kurikulum pendidikan tenaga kesehatan kita sudah mencakup materi tentang robotik dan teknologi terkait. Jika saat ini belum ada, kita perlu memikirkan hal ini secara bersama-sama agar ketika saatnya tiba, kita siap untuk menggunakan robot dalam praktik kesehatan,” katanya.
Feni menjelaskan, penggunaan robot kesehatan untuk merawat pasien lansia telah mulai diterapkan di Jepang.
Meski belum semua rumah sakit atau institusi menerapkannya, beberapa telah memanfaatkan teknologi ini.
“Robotika dalam bidang kesehatan, terutama penggunaan humanoid robot dan drone, berperan sebagai perawat yang dapat membantu memberikan perawatan kepada pasien lansia,” ungkapnya.
Namun, Feni mengingatkan beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam interaksi antara manusia dan robot.
“Perbedaan gen dan karakteristik lainnya dapat memberikan kesan berbeda terkait penggunaan robot dalam perawatan kesehatan, serta memiliki implikasi signifikan terhadap kesehatan itu sendiri,” katanya.
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah manusia akan menggunakan robot kesehatan di masa depan?
“Jawaban atas pertanyaan ini memerlukan waktu untuk dipertimbangkan dan perlu disesuaikan dengan kebutuhan. Hal ini mungkin menjadi tantangan yang harus kita hadapi bersama ke depannya,” tambahnya.
Usia harapan hidup meningkat
Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN Indi Dharmayanti mengungkapkan, dalam 10 tahun terakhir, angka harapan hidup penduduk Indonesia terus meningkat.
Pada 2023, rata-rata usia harapan hidup orang Indonesia mencapai 73,93 tahun, lebih tinggi 3,32 tahun dibandingkan 2014.
Meski populasi lansia terus bertambah, mereka menghadapi tantangan besar dalam menjaga kualitas hidup, terutama terkait masalah kesehatan kompleks seperti gangguan kognitif, risiko penyakit degeneratif (diabetes, hipertensi, penyakit dan kardiovaskuler), serta beban ganda malnutrisi (kekurangan nutrisi dan obesitas).
“Pendekatan preventif dan proaktif sangat penting untuk menekan beban penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan jangka panjang dengan biaya tinggi. Inovasi teknologi diperlukan untuk menghadapi tantangan ini,” kata Indi.
Pendekatan berbasis malnutrisi, lanjut Indi, juga menjadi elemen kunci yang tidak boleh diabaikan.
“Pendekatan malnutrisi yang personal dan proaktif dapat menjadi solusi untuk membantu mencegah malnutrisi, meningkatkan daya tahan tubuh, dan mendukung proses pemulihan lansia,” katanya.
Selain itu, integrasi teknologi dalam penanganan kesehatan tidak hanya mampu meningkatkan efektivitas pelayanan, tetapi mengurangi beban kerja tenaga kesehatan dan biaya pengobatan.
“Hal ini dapat diterapkan mulai dari tingkat pelayanan primer seperti Puskesmas hingga fasilitas kesehatan rujukan,” tambah Indi.
Indi menegaskan komitmennya untuk terus mendukung inovasi di bidang kesehatan lansia.
“Kami percaya bahwa kolaborasi antara peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan merupakan kunci untuk menciptakan sistem kesehatan yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan lansia,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Direktur Utama RS Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo (RSPG), Ida Bagus Sila Wiweka. Ida Bagus.
Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia
Menurutnya, ilmu kedokteran geriatri, yang mempelajari berbagai aspek kesehatan pada usia lanjut, semakin berkembang pada dekade ini.
Permasalahan yang dihadapi lansia antara lain keterbatasan dalam melaksanakan aktivitas, masalah gizi, serta beberapa penyakit yang muncul seiring dengan peningkatan usia harapan hidup.
“Pertemuan ini tentu akan mempertimbangkan beberapa informasi tentang pemulihan sindrom, tata laksana kesehatan, serta permasalahan yang muncul lainnya,” pungkasnya.***
*Ilustrasi - Interaksi robot kesehatan dengan lansia.(Pixabay)
Video Senior Podcast
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri