
Geriatri.id - Seiring bertambahnya usia, banyak orang lebih sering menyendiri dibandingkan ketika mereka masih muda, sehingga rentan terhadap isolasi sosial dan kesepian. Samakah isolasi sosial dengan kesepian?
Para peneliti yang didukung National Institute on Aging (NIA) mempelajari perbedaan antara isolasi sosial dengan kesepian, mekanisme dan faktor risiko serta cara membantu orang yang terkena dampaknya.
“NIA tertarik mengeksplorasi intervensi potensial untuk mengatasi isolasi sosial dan kesepian, yang keduanya merupakan faktor risiko akibat penuaan yang buruk,” ujar Lisbeth Nielsen, Ph.D., dari Divisi Penelitian Perilaku dan Sosial NIA.
Isolasi sosial dan kesepian tidak selalu berjalan bersamaan
Menurut laporan dari Administration for Community Living's Administration on Aging dari Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat (AS), sekitar 28 persen orang lanjut usia (lansia) di negara itu atau 13,8 juta orang hidup sendirian.
Namun banyak dari mereka tidak kesepian atau terisolasi secara sosial. Di saat yang sama, beberapa orang justru merasa kesepian meski dikelilingi keluarga dan teman.
Baca Juga: Tanya Jawab Masalah Kesehatan Jantung
“Pertanyaan ilmiah utamanya, apakah isolasi sosial dan kesepian adalah dua proses independen yang mempengaruhi kesehatan secara berbeda? Atau apakah kesepian memberikan jalan bagi isolasi sosial untuk mempengaruhi kesehatan?” ujar Dr. Nielsen.
Dampak kesehatan dari isolasi sosial dan kesepian
Penelitian telah menghubungkan isolasi sosial dan kesepian dengan risiko lebih tinggi terhadap berbagai kondisi fisik dan mental.
Kondisi fisik dan mental tersebut antara lain tekanan darah tinggi, penyakit jantung, obesitas, sistem kekebalan tubuh yang lemah, kecemasan, depresi, penurunan kognitif, penyakit Alzheimer dan bahkan kematian.
Banyak orang tiba-tiba merasa sendirian karena kematian pasangannya, berpisah dari teman atau keluarga, pensiun, kehilangan mobilitas, dan berada pada risiko tertentu.
Sebaliknya, orang yang terlibat dalam aktivitas bermakna dan produktif bersama orang lain cenderung hidup lebih lama, memiliki suasana hati lebih baik dan tujuan.
Penelitian menunjukkan, aktivitas ini tampaknya membantu menjaga kesejahteraan dan dapat meningkatkan fungsi kognitif mereka.
Terobosan dalam penelitian kesepian
Penyebab dan dampak isolasi sosial dan kesepian banyak didapatkan dari penelitian inovatif mendiang John T. Cacioppo, Ph.D., mantan Direktur Pusat Ilmu Saraf Kognitif dan Sosial di Universitas Chicago dan seorang peneliti penerima hibah NIA.
Penelitian Dr. Cacioppo menemukan, kesendirian dan kesepian adalah hal berbeda tetapi saling berkaitan.
Isolasi sosial adalah keterpisahan fisik objektif dari orang lain (hidup sendiri). Sedangkan kesepian adalah perasaan tertekan subjektif karena sendirian atau terpisah.
Mungkin saja orang merasa kesepian saat berada di antara orang lain, dan orang bisa saja sendirian namun tidak merasa kesepian.
Pelopor di bidang ilmu saraf sosial, Dr. Cacioppo meninggal dunia pada Maret 2018. Istri sekaligus kolaboratornya, Stephanie Cacioppo, Ph.D., melanjutkan pekerjaannya sebagai asisten profesor psikiatri dan ilmu saraf perilaku di Universitas Chicago dan direktur Universitas Chicago.
“Kesengsaraan dan penderitaan yang disebabkan kesepian kronis sangat nyata dan memerlukan perhatian,” katanya.
“Sebagai spesies sosial, kita bertanggung jawab untuk membantu anak-anak kita yang kesepian, orang tua, tetangga, dan bahkan orang asing dengan cara yang sama seperti kita memperlakukan diri kita sendiri. Mengobati kesepian adalah tanggung jawab kita bersama.”
Menurut Dr. Stephanie Cacioppo, meski masih banyak yang harus dipelajari, pemahaman tentang mekanisme kerja kesepian dan pengobatannya telah meningkat secara dramatis sejak penelitian ilmiah dimulai lebih dari dua dekade lalu.
Salah satu prediksi baru dari Cacioppo Evolutionary Theory of Loneliness adalah bahwa kesepian secara otomatis memicu serangkaian proses perilaku dan biologis terkait yang berkontribusi pada hubungan antara kesepian dan kematian dini pada orang-orang dari segala usia.
Memahami biologi kesepian
Hilangnya keterhubungan dan komunitas mengubah persepsi seseorang terhadap dunia.
Steve Cole, Ph.D., direktur Social Genomics Core Laboratory di University of California, Los Angeles mengatakan seseorang yang mengalami kesepian kronis merasa terancam dan tidak percaya pada orang lain, sehingga mengaktifkan mekanisme pertahanan biologis.
Penelitiannya yang didanai NIA berfokus pada pemahaman jalur fisiologis kesepian (berbagai cara kesepian memengaruhi fungsi pikiran dan tubuh) dan mengembangkan intervensi sosial dan psikologis untuk memeranginya.
Misalnya, kesepian dapat mengubah kecenderungan sel-sel dalam sistem kekebalan tubuh untuk memicu peradangan, yang diperlukan untuk membantu tubuh pulih dari cedera. Namun peradangan yang berlangsung terlalu lama meningkatkan risiko penyakit kronis.
Orang kesepian mungkin memiliki sel kekebalan yang lemah sehingga kesulitan melawan virus sehingga membuat mereka lebih rentan terhadap beberapa penyakit menular.
“Bekerja untuk tujuan atau tujuan sosial dengan orang lain yang memiliki nilai-nilai yang sama dengan Anda dan merupakan mitra tepercaya akan menempatkan Anda dalam kontak dengan orang lain dan membantu mengembangkan rasa kebersamaan yang lebih besar,” katanya.
Meneliti faktor penentu kesepian secara genetik dan sosial
Dalam penelitian lain yang didanai NIA, para peneliti mencoba memahami perbedaan antara isolasi sosial dan kesepian serta bagaimana keduanya dapat memengaruhi kesehatan.
Mereka juga mencoba mengidentifikasi potensi interaksi antara gen dan lingkungan orang lanjut usia yang terkena dampak isolasi sosial dan kesepian.
Penelitian sebelumnya memperkirakan heritabilitas kesepian antara 37 persen dan 55 persen menggunakan pendekatan berbasis keluarga dan kembar.
“Orang yang secara genetis tidak rentan merasa kesepian mungkin, misalnya, tidak terlalu menderita akibat isolasi sosial, sementara orang lain merasa kesepian meskipun mereka dikelilingi dan menjadi bagian dari kehidupan sosial yang kaya,” kata Nancy Pedersen, Ph.D., seorang profesor epidemiologi genetik di Karolinska Institutet di Stockholm, Swedia.
“Kami juga tertarik memahami peran status sosial ekonomi dalam asosiasi tersebut.”
Dengan menggunakan data dari penelitian terhadap orang kembar, Dr. Pedersen dan para peneliti menemukan, isolasi sosial dan kesepian merupakan faktor risiko independen.
Risiko genetik untuk kesepian secara signifikan memprediksi munculnya ciri-ciri kardiovaskular, psikiatris (gangguan depresi mayor), dan metabolik. Riwayat keluarga tidak terlalu mempengaruhi efek ini.
“Kita perlu mengidentifikasi orang-orang yang paling rentan menderita isolasi sosial dan kesepian dan mereka yang paling mendapat manfaat dari intervensi ini,” kata Dr. Pedersen.
“Intervensi untuk isolasi sosial mungkin terlihat sangat berbeda dengan intervensi untuk mereka yang merasa kesepian.”
Selain genetika, memahami faktor penentu sosial terhadap kesehatan, dan peran proses sosial dan interpersonal dalam penuaan dan umur panjang yang sehat, merupakan arah penelitian lain di NIH.
Para ilmuwan mulai menerapkan kerangka ini untuk penelitian tentang isolasi sosial dan kesepian.
Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia
“Penelitian di masa depan perlu mengklarifikasi sejauh mana kesepian dan isolasi sosial dapat diredakan, dan jika ya, pendekatan apa yang paling efektif? Menunjukkan bahwa kita dapat mengambil tindakan terhadap faktor-faktor risiko ini adalah langkah pertama yang penting menuju pengembangan intervensi yang efektif,” kata Dr. Nielsen.
Penelitian juga diperlukan untuk memperjelas seberapa besar perubahan dalam kesepian atau isolasi sosial diperlukan untuk mencapai perubahan yang berarti dalam kesehatan.***
Sumber: NIA
*Ilustrasi- Dampak kesepian terhadap kesehatan.(Pixabay)
Video Senior Podcast
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri