
Geriatri.id - Peran perempuan tidak hanya diharapkan sebagai pengasuh utama bagi anak-anak mereka, tetapi juga bagi orang tua yang sudah lanjut usia.
Mayoritas masyarakat dunia meyakini bahwa perempuan memiliki peran besar dalam merawat lansia. Hal ini tercermin dalam hasil survei di Kanada, seperti yang dilaporkan oleh The Conversation.
Survei tahun 2022 di Kanada mencatat bahwa lebih dari setengah perempuan dan remaja putri berusia di atas 15 tahun, yakni hampir 8,4 juta orang, terlibat dalam peran sebagai caregiver.
Peran mereka sebagai caregiver mencakup merawat anak-anak hingga lansia, baik karena dedikasi kepada orang tua sendiri maupun bekerja sebagai caregiver profesional.
Baca juga: Aktif Dalam Komunitas Olahraga Dapat Tingkatkan Kualitas Hidup Lansia
Data ini menunjukkan besarnya peran perempuan dalam tanggung jawab merawat di masyarakat.
Tantangan yang dihadapi perempuan sebagai caregiver bagi lansia cukup berat. Apalagi jika mereka juga harus mengelola keseimbangan antara peran tersebut dengan kesejahteraan pribadi.
Perempuan yang menjadi caregiver sering kali tanpa sadar menjadi "pasien sekunder."
Hal itu disebabkan karena mereka secara terus-menerus merawat orang lain, namun cenderung mengabaikan kesejahteraan fisik dan emosional mereka sendiri.
Dalam hal merawat orang tua sendiri di rumah, anak perempuan sering menghadapi tantangan besar untuk menyeimbangkan tanggung jawab keluarga dengan kebutuhan pribadi.
Banyak dari mereka yang tidak mendapatkan pengakuan dan dukungan yang cukup dalam menjalani peran ini.
Hal ini terutama terjadi di lingkungan dengan peran gender tradisional yang kuat, sehingga perempuan sering kali kekurangan kesempatan untuk memprioritaskan perawatan diri.
Salah satu tantangan utama yang dihadapi perempuan caregiver adalah "sandwich caregiving."
Istilah ini menggambarkan kondisi di mana perempuan terjepit di antara peran merawat anak-anak dan juga orang tua atau mertua yang sudah lanjut usia.
Tanggung jawab ganda ini memberikan tekanan yang besar, baik secara mental maupun fisik, karena mereka berupaya merawat kedua generasi keluarga sekaligus.
Baca juga: Hari Lansia Sedunia 2024: Pertemuan Ahli Bahas Kebijakan dan UU
Perempuan yang merawat lansia membutuhkan lebih banyak dukungan dari keluarga (seperti pasangan atau saudara kandung) serta tempat kerja (bagi mereka yang bekerja).
Seperti halnya ibu hamil dan melahirkan yang mendapatkan hak cuti, perempuan yang merawat lansia juga seharusnya mendapatkan cuti keluarga.
Walaupun belum tersedia cuti khusus, cuti tahunan bisa dimanfaatkan untuk merawat lansia dalam situasi darurat, tanpa harus kehilangan gaji.
Selain itu, dukungan berbasis komunitas yang memberikan waktu istirahat bagi para caregiver juga sangat penting.
Memberdayakan perempuan caregiver memerlukan perubahan besar dalam pandangan sosial dan norma yang berlaku.
Hal ini mencakup pengakuan atas kontribusi mereka, sekaligus memberi ruang bagi perempuan untuk memprioritaskan kesejahteraan mereka sendiri.***
*Foto: Seorang perempuan sedang merawat lansia. (Pixabay)
Video Senior Podcast
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri