
Oleh: Tutut Bina S
Setiap tanggal 1 Oktober, dunia memperingati Hari Lansia Sedunia, sebuah momentum untuk menyoroti pentingnya kesejahteraan para lansia.
Secara internasional, lansia didefinisikan sebagai individu berusia 60 tahun ke atas. Definisi ini digunakan banyak organisasi global seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Di Indonesia, lansia juga didefinisikan serupa, yaitu mereka yang berusia 60 tahun ke atas sesuai dengan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia.
Lansia adalah bagian yang signifikan dari populasi dunia dan di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan persentase penduduk lansia di Indonesia pada tahun 2023 sebesar 11,75%.
Angka tersebut naik 1,27% poin dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar 10,48%.
Sebanyak 63,59% lansia tergolong lansia muda (60-69 tahun), 27,76 % lansia madya (70-79 tahun) dan 8,65 persen lansia tua (80 tahun ke atas).
Perhatian terhadap kesejahteraan mereka semakin mendesak seiring bertambahnya jumlah mereka dari tahun ke tahun.
Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia
Karakteristik lansia dan kebutuhan
Seiring bertambahnya usia, dari sisi psikologis, lansia mengalami perubahan kognisi, emosi dan perilaku. Mereka juga rentan mengalami rasa kesepian, depresi, dan kecemasan akibat perubahan peran sosial dan kehilangan orang terdekat.
Karena itu, perhatian terhadap kebutuhan mental mereka sangat penting untuk memastikan kualitas hidup yang baik.
Lansia membutuhkan stimulasi kognitif melalui aktivitas yang merangsang pikiran seperti membaca, berkomunikasi, dan bersosialisasi.
Secara spiritual, banyak lansia mencari ketenangan batin melalui praktik agama atau spiritualitas, seperti berdoa, bermeditasi atau melakukan ibadah harian.
Lansia mengalami berbagai perubahan fisik seperti penurunan kekuatan otot, kepadatan tulang, fleksibilitas sendi dan masalah keseimbangan.
Mereka juga lebih rentan terhadap penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit kardiovaskular.
Tak bisa dipungkiri, lansia memerlukan gerakan tubuh secara teratur dengan olahraga untuk menjaga kesehatan mereka.
WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour tahun 2020 merekomendasikan lansia melakukan aktivitas fisik sedang selama 150 menit per minggu.
Target ini dapat dicapai dengan melakukan aktivitas fisik dari ringan hingga sedang selama 30-60 menit setiap harinya selama 5 kali dalam seminggu.
Untuk kesehatan mental lansia, olahraga juga dapat mengurangi kecemasan dan depresi, meningkatkan kesehatan kognitif dan memperbaiki kualitas tidur.
Bergabung dengan komunitas olahraga
Bergabung dengan berbagai komunitas olahraga yang sesuai dapat memberikan banyak keuntungan bagi lansia.
Berbagai komunitas olahraga yang ramah lansia antara lain komunitas senam lansia, yoga, tai chi dan lain-lain.
Dalam Canadian Medical Association Jurnal, penelitian Carter et all (2002) menunjukkan partisipasi lansia dalam program latihan berbasis komunitas dapat meningkatkan keseimbangan dan kekuatan yang signifikan, yang sangat penting untuk mengurangi risiko jatuh di kalangan lansia.
Sebuah studi yang berfokus pada wanita dengan osteoporosis menunjukkan mereka yang berpartisipasi dalam program latihan terstruktur menunjukkan peningkatan yang lebih besar dalam keseimbangan dinamis dan kekuatan ekstensi lutut dibandingkan dengan kelompok kontra.
Levinger et al (2019) dalam penelitiannya yang dimuat dalam jurnal internasional BMC Public Health menunjukkan bahwa bergabung dengan komunitas olahraga memberikan peluang untuk interaksi sosial, yang dapat mengurangi perasaan kesepian dan isolasi.
Adanya komunitas olahraga yang mewadahi lansia juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan inklusif yang mendorong keterlibatan sosial di samping aktivitas fisik.
Aktif dalam komunitas olahraga memberikan banyak manfaat bagi lansia baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang berarti juga meningkatkan kualitas hidup mereka.
Baca Juga: Tanya Jawab Masalah Kesehatan Jantung
Mendorong lansia untuk aktif di komunitas olahraga juga membutuhkan dukungan dan motivasi dari keluarga dan lingkungan sekitar.
Lansia juga butuh informasi agar dapat memilih komunitas olahraga yang sesuai dengan faktor-faktor seperti status sosial ekonomi, aksesabilitas dan kondisi kesehatan pribadi.
*Penulis adalah Pranata Humas Ahli Madya pada Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora, Mahasiswa S3 Ilmu Administrasi Universitas Indonesia
Sumber: deputi3.kemenpora.go.id
*Lansia yang tergabung dalam komunitas Ling Tien.(Foto:Dok:Humas Dep3)
Video Senior Podcast
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri