Penyebab Lansia Sulit Kontrol Pengeluaran Urin


Berita Lansia - Inkontinensia urin mengacu pada ketidakmampuan seseorang untuk mengontrol pengeluaran urin.

2024-09-19 20:08:14

Geriatri.id - Ngompol, atau dikenal secara medis sebagai inkontinensia urin, adalah kondisi yang umum dialami oleh lansia. 

Inkontinensia urin mengacu pada ketidakmampuan seseorang untuk mengontrol pengeluaran urin, sehingga mengakibatkan kebocoran urin yang tidak disengaja. 

Meskipun kondisi ini sering dianggap sebagai bagian alami dari proses penuaan, namun perlu diketahui bahwa inkontinensia urin bukanlah sesuatu yang harus diterima begitu saja tanpa pengobatan.

Baca juga: Demensia: Ancaman Global yang Membebani Lansia dan Keluarga

Penyebab Ngompol pada Lansia

Dilansir dari Mayo Clinic, berikut ini beberapa faktor penyebab inkontinensia urin pada lansia:

1. Kelemahan Otot Panggul

Seiring bertambahnya usia, otot-otot di sekitar kandung kemih dan panggul melemah, sehingga sulit bagi tubuh untuk menahan urine secara efektif.

2. Penyakit Kronis

Lansia seringkali memiliki kondisi medis seperti diabetes, stroke, atau penyakit Parkinson yang dapat mempengaruhi saraf yang mengendalikan kandung kemih.

3. Efek Samping Obat

Obat-obatan seperti diuretik, obat tidur, dan obat tekanan darah tinggi dapat menyebabkan peningkatan produksi urine atau gangguan fungsi kandung kemih.

4. Infeksi Saluran Kemih (ISK)

Infeksi pada saluran kemih dapat menyebabkan iritasi pada kandung kemih, sehingga memicu keinginan buang air kecil yang mendadak dan sulit dikontrol.


Jenis-Jenis Inkontinensia Urin

Ada beberapa jenis inkontinensia urin yang umum terjadi pada lansia:

1. Inkontinensia Stres: Kebocoran urin terjadi saat tekanan pada kandung kemih meningkat, misalnya saat batuk, bersin, atau tertawa.

2. Inkontinensia Urgensi: Ditandai dengan keinginan buang air kecil yang mendadak dan intens, diikuti oleh kebocoran urin sebelum sempat mencapai toilet.

3. Inkontinensia Overflow: Terjadi ketika kandung kemih tidak sepenuhnya kosong saat buang air kecil, sehingga menyebabkan kebocoran urin secara berkelanjutan.

4. Inkontinensia Fungsional: Terjadi pada lansia yang mungkin memiliki kendala fisik atau mental untuk mencapai toilet tepat waktu, meskipun fungsi kandung kemihnya normal.

Baca juga: 4 Ide Aktvitas untuk Pensiuanan Agar Tetap Produktif dan Menyenangkan

Dampak Inkontinensia Urin pada Lansia

Ngompol tidak hanya menyebabkan ketidaknyamanan fisik, tetapi juga berdampak signifikan pada kesejahteraan mental dan sosial lansia. 

Rasa malu, takut mengalami kecelakaan di depan umum, dan gangguan tidur akibat harus bangun di malam hari untuk buang air kecil seringkali memicu stres dan isolasi sosial. 

Lansia yang mengalami inkontinensia juga berisiko lebih tinggi mengalami infeksi kulit dan iritasi di area genital akibat seringnya kontak dengan urine.

Jika inkontinensia urin mulai mengganggu kualitas hidup atau disertai gejala lain seperti nyeri saat buang air kecil, darah dalam urin, atau infeksi saluran kemih yang berulang, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter. Dengan diagnosis yang tepat, kondisi ini bisa dikelola dengan lebih baik.***

*Foto: Ilustrasi lansia sulit kontror pengeluaran urinn. (Pixabay)

Video Senior Podcast

 


ARTIKEL LAINNYA

Kebutuhan Gizi Terpenuhi, Insyaallah Sehat Terus

Sejak Menjelang Tua Harus Siapkan Diri

Cegah Demensia dengan Konsumsi Kacang-kacangan

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +6281118379-101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026