
Geriatri.id - Jepang dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat harapan hidup tertinggi di dunia, namun di sisi lain, negara ini juga menghadapi tantangan serius akan rendahnya tingkat kelahiran.
Menurut data dari Kementerian Kesehatan Jepang, jumlah penduduk lansia yang terus meningkat dan jumlah kelahiran yang semakin menurun menimbulkan ketidakseimbangan demografi yang kritis.
Rahasia Panjang Umur Warga Jepang
Faktor panjang umur di Jepang bisa ditelusuri melalui beberapa hal, seperti pola makan yang sehat, budaya hidup aktif, dan akses yang baik terhadap layanan kesehatan berkualitas.
Baca juga: Jumlah Lansia Bekerja di Negara Ini Capai Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah
Makanan tradisional Jepang yang kaya akan ikan, sayuran, dan biji-bijian rendah kalori, serta rendah lemak, berkontribusi pada kesehatan jangka panjang warga Jepang.
Selain itu, kebiasaan berjalan kaki dan aktivitas fisik ringan sehari-hari juga mempengaruhi ketahanan tubuh mereka.
Menurut penelitian dari National Institute of Health and Nutrition, pola makan khas Jepang, yang mengutamakan keseimbangan nutrisi dan porsi makan kecil, telah terbukti memperpanjang usia harapan hidup.
"Diet Jepang yang kaya akan ikan, sayuran, dan kacang-kacangan membantu menjaga kesehatan jantung dan mencegah obesitas," kata Dr. Yuko Kitamoto, seorang ahli nutrisi di Jepang.
Sementara itu, sistem kesehatan yang canggih dan kebiasaan pemeriksaan kesehatan rutin juga turut mendukung usia panjang penduduk Jepang.
Kementerian Kesehatan Jepang menyebutkan bahwa hampir seluruh penduduk Jepang secara rutin menjalani pemeriksaan kesehatan tahunan yang disubsidi oleh pemerintah, yang membantu mendeteksi dan mencegah penyakit sejak dini.
Namun, Mengapa Tingkat Kelahiran Rendah?
Di balik keunggulan harapan hidup tinggi, Jepang menghadapi tantangan besar dalam tingkat kelahiran yang rendah.
Menurut data yang dilaporkan oleh Japan Times pada tahun 2024, tingkat kelahiran di Jepang mencapai titik terendah dengan hanya 799.728 kelahiran pada tahun 2023, jauh di bawah tingkat yang diperlukan untuk menjaga stabilitas populasi.
Ada beberapa alasan mengapa Jepang mengalami krisis kelahiran ini. Pertama, tekanan ekonomi yang tinggi. Biaya hidup yang mahal, terutama di kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka, membuat banyak pasangan menunda atau bahkan memilih untuk tidak memiliki anak.
"Biaya membesarkan anak di Jepang sangat tinggi, terutama dengan biaya pendidikan yang terus meningkat," kata Yuki Tanaka, seorang peneliti demografi dari Kyoto University.
Baca juga: 7 Jenis Senam yang Cocok untuk Kebutuhan Kesehatan Lansia
Kedua, budaya kerja yang keras. Jam kerja yang panjang dan budaya kerja yang menuntut komitmen penuh membuat banyak wanita merasa sulit untuk menyeimbangkan karier dan keluarga.
Bahkan dengan adanya cuti melahirkan dan insentif lain dari pemerintah, banyak perempuan merasa takut akan kehilangan kesempatan karier jika memutuskan untuk memiliki anak.
Dalam laporan Nikkei Asia, disebutkan bahwa Jepang memiliki salah satu budaya kerja yang paling ketat di dunia, dengan jam kerja yang panjang dan tekanan yang tinggi untuk tetap kompetitif di pasar tenaga kerja.
Ketiga, perubahan sosial dan pandangan tentang pernikahan. Banyak generasi muda di Jepang kini lebih memilih menunda pernikahan atau bahkan tidak menikah sama sekali.
Hal ini disebabkan oleh pergeseran nilai-nilai sosial, di mana banyak orang lebih memilih mengejar karier atau kehidupan mandiri. Seiring dengan itu, semakin banyak wanita yang memilih hidup tanpa anak demi menjaga kebebasan pribadi mereka.
Upaya Pemerintah Mengatasi Krisis Kelahiran
Pemerintah Jepang telah mencoba berbagai kebijakan untuk meningkatkan angka kelahiran, termasuk insentif keuangan bagi pasangan yang memiliki anak dan peningkatan layanan penitipan anak. Namun, upaya ini belum membuahkan hasil yang signifikan.
"Meskipun pemerintah telah menyediakan berbagai insentif, masalah utama terletak pada perubahan mendasar dalam budaya dan gaya hidup masyarakat Jepang yang perlu waktu untuk berubah," kata salah satu ahli demografi, Hiroshi Ishikawa, dikutip dari BBC News.
Jepang merupakan contoh unik negara dengan tingkat harapan hidup yang tinggi namun di sisi lain mengalami penurunan kelahiran yang drastis.
Kombinasi antara pola hidup sehat, layanan kesehatan berkualitas, dan tradisi sosial yang mendukung kesejahteraan lansia membuat warga Jepang hidup lebih lama.
Namun, tantangan ekonomi, budaya kerja yang ketat, dan perubahan sosial menjadi hambatan besar bagi pasangan muda untuk memiliki anak. Jika tidak segera diatasi, krisis demografi ini dapat berdampak serius pada masa depan ekonomi dan sosial Jepang.***
*Foto: Ilustrasi lansia Jepang yang panjang umur. (Pixabay)
Video Senior Podcast
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri