
Geriatri - Indonesia tengah bergerak menuju masyarakat menua. Hasil SUPAS 2025 BPS menunjukkan, proporsi lansia sudah mencapai 11,97 persen, melewati ambang aging society. Pergeseran ini dipicu turunnya angka kelahiran (TFR 2,13) dan meningkatnya usia harapan hidup hingga 74,15 tahun.
Namun, umur panjang tidak selalu berarti sehat. Banyak lansia justru hidup lebih lama dengan penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan stroke. Hipertensi bahkan dialami lebih dari 63 persen lansia, menjadikannya faktor risiko utama.
Di sisi lain, sistem perlindungan masih terbatas. Lebih dari 80 persen lansia belum memiliki jaminan pensiun, dan sebagian besar bekerja di sektor informal. Akses layanan kesehatan pun belum merata, sehingga banyak lansia memilih mengobati sendiri atau menunda perawatan karena biaya.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan beban fiskal negara, terutama dari pembiayaan kesehatan dan perlindungan sosial. Saat ini saja, mayoritas lansia rawat inap bergantung pada JKN. Demikian dilansir dari AFU, Selasa (26.5/2026).
Tanpa langkah antisipatif, tekanan juga akan dirasakan kelompok usia produktif (sandwich generation) yang harus menanggung biaya hidup anak sekaligus orang tua.
Karena itu, pemerintah perlu memperkuat sistem pensiun, layanan kesehatan berbasis pencegahan, serta membangun sistem perawatan jangka panjang agar beban tidak sepenuhnya jatuh ke keluarga.
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri