Peraih Nobel Perdamaian Terpilih Pimpin Pemerintahan Sementara Bangladesh


Berita Lansia - Peraih Hadiah Nobel Perdamaian, Muhammad Yunus, telah terpilih untuk memimpin pemerintahan sementara Bangladesh setelah Perdana Menteri Sheikh Hasina mengundurkan diri.

2024-08-09 21:43:16

Geriatri.id - Peraih Hadiah Nobel Perdamaian, Muhammad Yunus, telah terpilih untuk memimpin pemerintahan sementara Bangladesh setelah Perdana Menteri Sheikh Hasina mengundurkan diri dan meninggalkan negara itu.

Pengunduran diri Hasina terjadi menyusul kerusuhan yang disertai kekerasan selama berminggu-minggu.

Yunus, yang kini berusia 84 tahun, lahir dari keluarga pedagang Muslim di kota pesisir Chittagong, Bangladesh.

Pada usia 25 tahun, ia menerima beasiswa Fulbright dan menimba ilmu di Amerika Serikat.

Yunus kembali ke Bangladesh pada tahun 1971, tepat ketika negaranya meraih kemerdekaan dari Pakistan. Sekembalinya, ia diangkat sebagai Kepala Departemen Ekonomi di Universitas Chittagong.

Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia

Yunus dikenal luas atas kontribusinya dalam memerangi kemiskinan di Bangladesh pada pertengahan tahun 1970-an.

"Saya terlibat dalam isu kemiskinan bukan sebagai pembuat kebijakan atau peneliti," ujarnya dalam sebuah kuliah di Commonwealth Institute di London pada tahun 2005.

"Saya terlibat karena kemiskinan ada di sekitar saya. Saya tidak dapat mengalihkan pandangan dari hal ini. Saya ingin segera melakukan sesuatu untuk membantu orang-orang di sekitar saya."

Yunus adalah pelopor konsep "kredit mikro," dan pada tahun 1983, ia mendirikan Grameen Bank, sebuah lembaga yang mengklaim sebagai "organisasi kredit mikro pionir di dunia" dengan lebih dari 9 juta klien.

Dalam sebuah wawancara dengan BBC pada tahun 2002, Yunus menggambarkan kredit mikro sebagai "kebutuhan masyarakat."


Atas upayanya dalam "menciptakan pembangunan ekonomi dan sosial dari bawah," Yunus dan Grameen Bank dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 2006.

Namun, konsep kredit mikro tidak lepas dari kritik, terutama terkait suku bunga tinggi dan metode penagihan yang dianggap memaksa.

Perjalanan Yunus tidak selalu mulus. Ia pernah memicu kemarahan Sheikh Hasina, yang kini akan ia gantikan, setelah mengumumkan rencana mendirikan partai politik "Citizen Power" pada tahun 2007.

Hasina menuduh Yunus "menghisap darah orang miskin," yang akhirnya berujung pada pemecatannya dari jabatan kepala Bank Grameen pada tahun 2011.

Selain itu, Yunus juga menghadapi berbagai tuduhan, termasuk menerima uang tanpa izin pemerintah dan penggelapan dana pekerja.

Pada Januari 2024, ia dijatuhi hukuman enam bulan penjara karena pelanggaran Undang Undang Ketenagakerjaan, namun Yunus membantah semua tuduhan tersebut dan menegaskan serangan terhadapnya bermotif politik.

Baca Juga: 5 Pertanyaan Mengenai Hipertensi

Meski kontroversi terus mengiringinya, Yunus tetap mendapatkan dukungan dari berbagai kalangan.

Asif Mahmud, pemimpin kelompok Mahasiswa Melawan Diskriminasi (SAD), bahkan memposting gambar di Facebook dengan teks "Pada Dr Yunus, kami percaya," menunjukkan keyakinan para pendukungnya terhadap Yunus di tengah badai kritik dan tantangan yang dihadapi.***

Sumber:BBC

*Peraih Hadiah Nobel Perdamaian, Muhammad Yunus, telah terpilih untuk memimpin pemerintahan sementara Bangladesh.(Pixabay)

Video Senior Podcast

 


ARTIKEL LAINNYA

10 Negara Tertua di Dunia: Usia Boleh Tua, tapi Tetap Eksis

AI Mulai Masuk ke Dunia Perawatan Lansia di Rumah

Cara Pakai Balsem yang Baik untuk Lansia

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026