
Geriatri.id - Andy Petro (86) dikunjungi tetangganya setengah lusin kali sehari di komunitas lansia di Roseville, California, Amerika Serikat (AS). Seorang tetangga mengalami masalah SMS yang tidak terbaca, sementara tetangga lainnya tidak bisa mengubah kecerahannya di layar smartphone keluaran Apple.
Ada juga seorang perempuan ingin belajar cara mengirim balon selamat ulang tahun kepada cucunya melalui layar.
“Rasanya seperti saya membuka toko permen, dan semua permennya gratis,” ujar Petro, yang dengan rendah hati mengakui dirinya memecahkan 90% masalah terkait Apple.
Baru-baru ini, seorang perempuan menghentikan langkah Petro karena tidak dapat menerima panggilan apa pun. Satu jam kemudian, Petro sudah sampai di depan pintu rumahnya.
“Itu menyelamatkan mereka dari keharusan pergi ke Apple Store,” kata Petro kepada Fortune.
“Sekarang dia bisa menelepon. Itu bagus."
Baca Juga: 5 Pertanyaan Mengenai Hipertensi
Petro yang di keluarganya dikenal sebagai Andy dijuluki Tuan Apple cerdas. Julukan itu diberikan rekan-rekan seniornya di Sonrisa Senior Living.
Selain meminta bantuan ketika menghadapi masalah, orang-orang juga meluangkan waktu untuk mendengarkan pembicaraan teknologi Petro.
Petro adalah Presiden Apple Club di pusat senior, sebuah organisasi untuk orang-orang yang ingin memanfaatkan fitur-fitur iPhone secara maksimal.
Dia mengadakan kelas bulanan selama satu jam di teater komunitas. Pesertanya 20-25 tetangga yang berusia antara 75-95 tahun.
Selain menjawab pertanyaan, dia menjelaskan fitur atau pembaruan baru, dan memberikan tips cara terbaik berkomunikasi.
Sebagai pakar teknologi dan pengajar sejak lama, dia senang bisa berkontribusi dan membantu orang menjadi percaya diri dengan bentuk komunikasi baru seiring bertambahnya usia.
“Karena otak saya masih berfungsi, saya membawa semua pengetahuan saya dan menjadi Tuan iPhone,” katanya.
Setelah bergabung dengan Korps Marinir pada akhir tahun 1950-an, Petro didorong untuk belajar elektronik sebelum dipindahkan ke pangkalan di Jepang.
Setelah kembali dari dinasnya, dia mendapatkan pekerjaan di bidang aeronautika di California Selatan.
Selama beberapa dekade berikutnya, disela-sela pekerjaan dan startup, dia juga mengajar kelas teknologi dan sistem bisnis.
Ketika perangkat Apple pertama keluar pada tahun 1970-an, dia termasuk pelanggan yang paling bersemangat.
“Saya jatuh cinta dengan produk Apple saat produk pertama keluar,” katanya.
Saat itu, dia membeli sistem komputer Apple II Plus. Dia segera melihat dampaknya pada putranya, yang menderita disleksia dan tidak berprestasi di sekolah.
“Sebuah keajaiban terjadi,” katanya.
“Dia sekarang bisa mengetik, dan ketika dia mengetik, dia tidak memiliki masalah disleksia yang sama seperti saat dia menulis dengan pensil di tangannya.”
Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia
Teknologi baru mendorong Pedro untuk terus belajar dan mengajar orang lain sepanjang kariernya. Dia mengajar di panti jompo tidak jauh dari tempat tinggalnya yang lama.***
Ilustrasi -
Untuk mendapatkan informasi seputar kisah lansia insiratif lainnya KLIK DISINI
Video Senior Podcast
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri