.jpg)
Geriatri.id - Sebagian pasien demensia stadium lanjut mungkin mengalami momen kejernihan sebelum meninggal, yang bisa terjadi hingga enam bulan sebelumnya, menurut sebuah studi terbaru.
Sejak tahun 1850-an, ada laporan mengenai pasien demensia yang tiba-tiba menjadi jernih dalam berpikir dan mampu berkomunikasi dengan baik, serta berbagi kenangan lama sebelum meninggal.
Periode kejernihan ini sering kali terjadi beberapa jam hingga beberapa hari sebelum kematian, sebagaimana dikutip dari independent.co.uk, Sabtu (3/8/2024).
Namun, sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Alzheimer’s and Dementia menunjukkan bahwa beberapa pasien demensia mengalami momen kejernihan hingga lebih dari enam bulan sebelum meninggal.
Baca juga: Studi: Bermain Musik Minimalisir Risiko Demensia di Usia Lanjut
Ini menunjukkan bahwa ada berbagai jenis Episode Jernih (LE) yang tidak selalu menandakan kematian yang akan datang.
Studi ini juga menemukan bahwa beberapa episode jernih bisa dipicu oleh rangsangan eksternal seperti kehadiran orang yang dicintai atau musik.
Para peneliti dalam studi ini mengkaji LE pada penderita Alzheimer dan demensia terkait lainnya dengan mewawancarai 151 caregiver yang melaporkan pengalaman melihat episode jernih tersebut.
Sekitar 20 persen caregiver melaporkan pasien mereka mengalami LE dalam waktu tujuh hari sebelum kematian, sementara lebih dari sepertiga melaporkan pasien meninggal dalam waktu seminggu hingga enam bulan setelah LE.
Mayoritas pasien, sekitar 48 persen, hidup lebih dari enam bulan setelah mengalami LE, menurut temuan studi tersebut.
Baca juga: 130 Orang Lulus Sekolah Lansia, Wisudawan Tertua Berusia 92 Tahun
"Jenis LE ini sering terjadi bersamaan dengan kunjungan keluarga, dan lebih sering dilaporkan oleh anak-anak yang tidak tinggal bersama pasien dan memiliki frekuensi kontak terendah."
Penemuan ini menunjukkan bahwa kunjungan keluarga yang jarang atau tidak biasa dapat memicu respons sadar dari pasien.
"Atau mungkin keluarga atau teman yang tidak terbiasa dengan rutinitas dan fluktuasi kognitif harian pasien, lebih cenderung menganggap makna dari fluktuasi ini atau lebih siap memperhatikan perilaku yang mungkin terlewatkan oleh pengunjung rutin," catat para peneliti.
Para peneliti juga mengakui batasan studi ini, dengan mengatakan bahwa beberapa interpretasi subjektif dari perilaku pasien yang dianggap sebagai LE oleh caregiver mungkin bukan episode seperti itu.
Mereka menyerukan penelitian lebih lanjut untuk mengkonfirmasi jenis episode jernih ini dan untuk menentukan validitasnya dalam sampel pasien dan caregiver yang lebih beragam.
"Pemahaman yang lebih mendalam tentang pembalikan sementara kemampuan kognitif dapat mengarah pada cara untuk memicu beberapa jenis LE dan memperpanjang durasi episode tersebut," kata mereka.
"Konseptualisasi lebih lanjut juga dapat membantu mengedukasi penyedia perawatan dan caregiver keluarga tentang kemungkinan kejadiannya dan mendukung mereka."
*Ilustrasi: Pasien demensia alami kejernihan pikiran jelang meninggal dunia. (Pixabay)
Untuk mendapatkan informasi lengkap seputar demensia KLIK DISINI
Video Lansia Online
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri