
Geriatri.id - Penyakit paru obstruktif kronik (COPD) merenggut lebih dari 3 juta nyawa setiap tahun, dengan merokok sebagai salah satu penyebab utamanya.
Laporan terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dirilis pada November 2023 memperkirakan 392 juta orang hidup dengan COPD. Dari jumlah tersebut, tiga perempatnya tinggal di negara berpendapatan rendah dan menengah.
Menurut WHO, merokok menyumbang lebih dari 70 persen kasus COPD di negara-negara berpendapatan tinggi.
Di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, merokok menyumbang 30-40 persen kasus, dengan polusi udara rumah tangga sebagai faktor risiko utama lainnya.
COPD juga merupakan penyebab utama kecacatan jangka panjang dan merupakan penyebab kematian ketiga paling umum di seluruh dunia.
Profesor David M. G. Halpin dari University of Exeter Medical School, Inggris, yang juga anggota Dewan Direksi Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD), mengatakan COPD akibat merokok masih menjadi masalah besar secara global.
Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia
Epidemik perokok semakin meningkat di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah seiring dengan upaya aktif perusahaan tembakau mencari pelanggan baru.
Sekitar 80 persen dari 1,3 miliar pengguna tembakau di dunia kini tinggal di negara-negara tersebut.
Situasi ini diprediksi akan meningkatkan beban global COPD dalam beberapa dekade mendatang.
"Kita harus bertindak sekarang untuk mengurangi angka merokok, memastikan penderita COPD mendapat diagnosis sedini mungkin, dan memastikan semua pasien di seluruh dunia menerima terapi yang efektif," ujarnya.
Laporan WHO tersebut menjelaskan asap rokok mengandung zat berbahaya seperti nikotin, tar, dan ribuan bahan kimia, termasuk yang memiliki efek beracun dan karsinogenik (menyebabkan kanker).
Partikel asap yang dihirup disimpan di seluruh saluran napas, menyebabkan peradangan kronis, infeksi, stres oksidatif, dan kerusakan pada saluran udara dan area pertukaran gas di paru-paru.
Nikotin, zat yang sangat adiktif, disimpan di paru-paru dan diserap dengan cepat, merangsang sistem saraf pusat untuk meningkatkan detak jantung dan tekanan darah.
Bahan tambahan lainnya, termasuk bahan kimia dan perasa, jika digabungkan dengan zat lain akan menjadi racun selama penggunaan produk tersebut.
Individu dengan COPD memiliki risiko empat hingga enam kali lipat lebih tinggi terkena kanker paru dibandingkan populasi umum.
COPD dan kanker paru-paru memiliki faktor risiko sama, seperti paparan asap tembakau dan polusi udara dalam atau luar ruangan, serta jalur perkembangan penyakit yang umum.
Keduanya seringkali memiliki gejala yang tumpang tindih, seperti batuk kronis, sesak napas, dan rasa tidak nyaman di dada, membuatnya sulit untuk dibedakan hanya berdasarkan gejala.
Orang dengan COPD juga memiliki lebih banyak faktor risiko penyakit kardiovaskular, seperti merokok, obesitas, dan hipertensi.
Peradangan kronis pada COPD dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah dan meningkatkan risiko penggumpalan darah, mengurangi fungsi paru-paru, dan meningkatkan ketegangan pada jantung.
Penyakit kardiovaskular dapat berdampak negatif pada penderita COPD, menyebabkan peningkatan tekanan darah di paru-paru, penyakit arteri koroner, atau gagal jantung yang mengganggu fungsi paru-paru.
Paparan perokok pasif juga merupakan faktor risiko signifikan untuk timbulnya dan perkembangan COPD.
Paparan asap rokok pada masa kanak-kanak dan dewasa meningkatkan risiko kematian terkait COPD, menyebabkan peradangan saluran napas, penyempitan, penyumbatan saluran napas, kerusakan jaringan paru-paru, dan memperburuk gejala COPD yang sudah ada.
"Skala morbiditas dan mortalitas terkait COPD adalah kekhawatiran besar. Kita harus memprioritaskan penghentian merokok, serta menyediakan inhaler dan rehabilitasi paru. Sayangnya, kesenjangan dalam akses terhadap diagnosis dan pengobatan masih berlanjut," jelas Halpin.
Baca Juga: 5 Pertanyaan Mengenai Hipertensi
Karena itu, dia menekankan pentingnya mempercepat upaya untuk mengintegrasikan layanan COPD ke dalam layanan kesehatan primer di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, tempat tiga perempat dari penderita COPD tinggal.***
*Ilustrasi - Paru-paru.(Pixabay)
Video Senior Podcast
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri