
Geriatri.id - Setiap tanggal 28 Juli, dunia memperingati Hari Hepatitis Sedunia, sebuah momen penting untuk mendorong kesadaran dan aksi dalam upaya memberantas virus hepatitis.
Hari Hepatitis Sedunia tidak hanya sekadar peringatan, tetapi juga sebagai ajakan untuk merenungkan perjalanan panjang melawan penyakit ini dan memperkuat komitmen di tingkat regional hingga global.
Menurut laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hepatitis merupakan penyakit yang menyerang organ hati. Penyakit ini dapat menyebabkan radang pada organ hati akibat infeksi virus yang berkembang biak.
Baca Juga: 5 Pertanyaan Mengenai Hipertensi
Tanggal 28 Juli dipilih sebagai Hari Hepatitis Sedunia untuk menghormati ilmuwan pemenang Nobel, Dr. Baruch Samuel Blumberg. Blumberg.
Ilmuwan kelahiran 28 Juli itu adalah penemu virus hepatitis B (HBV) serta mengembangkan tes diagnostik dan vaksinnya.
Penemuan ini menjadi tonggak penting dalam upaya pencegahan dan pengobatan hepatitis B.
Setiap tahunnya WHO mengangkat tema berbeda untuk mengajak masyarakat dunia lebih sadar akan bahaya hepatitis dan pentingnya pencegahan serta pengobatan.
Tema Hari Hepatitis Sedunia 2024, "It's time for action" atau "Saatnya Bertindak". Tema ini menggarisbawahi urgensi untuk melakukan tindakan nyata dalam memerangi hepatitis.
Baca Juga: Tanya Jawab Masalah Kesehatan Jantung
Ada lima jenis utama virus hepatitis, yaitu A, B, C, D dan E. Virus ini menyebabkan peradangan hati dan dapat berujung pada penyakit hati serius serta kanker.
Di antara lima jenis ini, hepatitis B dan C yang paling banyak ditemui, dengan angka kematian mencapai 1,3 juta jiwa dan 2,2 juta infeksi baru setiap tahunnya.
Meski teknologi diagnosis dan pengobatan telah mengalami kemajuan signifikan serta harga produk medis yang semakin terjangkau, cakupan pengujian dan pengobatan penyakit ini masih stagnan.
Ini adalah tantangan besar yang harus diatasi untuk mencapai target eliminasi hepatitis pada tahun 2030, sebagaimana dicanangkan WHO.
Melalui peringatan Hari Hepatitis Sedunia, diharapkan semua pihak mengambil bagian dalam aksi global dengan meningkatkan kesadaran, menjalani tes dini dan mengakses pengobatan yang diperlukan serta ikut berperan mengurangi penyebaran dan dampak hepatitis.
Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia
Masa depan tanpa hepatitis bukan mimpi, tetapi tujuan yang bisa dicapai bersama dengan tindakan nyata dan komitmen kuat.***
*Ilustrasi - Laboratorium.(Pixabay)
Video Senior Podcast
“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”
Geriatri-ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.
Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri