
Geriatri.id - Hernia Nucleus Pulposus (HNP) atau biasa dikenal dengan saraf terjepit adalah suatu gangguan akibat menonjolnya lapisan atau bantalan tulang belakang (nucleus pulposus) dari ruang antar ruas tulang belakang (discus intervertebralis).
Tonjolan tersebut dapat menyebabkan penekanan pada saraf tulang belakang dan saraf tepi (saraf yang berasal dari saraf tulang belakang).
Seperti halnya nyeri punggung, HNP paling sering terjadi di daerah punggung bawah atau disebut HNP lumbalis, paling sering (90%) mengenai diskus invertebralis L5-S1 dan L4-L5.
HNP di daerah punggung atas sampai leher jarang terjadi hanya sekitar 8% dari seluruh kasus HNP. HNP lumbalis akan membaik dalam waktu kira-kira 6 minggu.
Tindakan pembedahan jarang diperlukan kecuali pada keadaan tertentu.
Baca Juga: 5 Pertanyaan Mengenai Hipertensi
Faktor risiko HNP antara lain merokok, batuk yang terlalu lama, cara duduk yang salah, menyetir terlalu sering, cara mengangkat barang yang salah dan lain-lain.
Seiring bertambahnya usia, kemampuan cakram untuk menjalankan fungsinya juga menurun.
Sejumlah faktor itu dapat menyebabkan herniasi, yaitu keluarnya suatu organ melalui suatu celah dalam tubuh.
HNP dapat dianalogikan seperti terjadinya turun bero, tetapi pada daerah tulang belakang.
Gejala saraf kejepit
Gejala klinis saraf kejepit berbeda-beda tergantung lokasinya.
Saraf kejepit di area leher biasanya menimbulkan gejala nyeri saat leher digerakkan, nyeri leher di dekat telinga atau di sekitar tulang belikat, dan nyeri yang menjalar ke arah bahu, lengan atas, lengan bawah dan jari-jari.
Selain nyeri, juga dapat rasa kesemutan dan tebal di daerah yang kurang lebih sama dengan rasa nyeri.
Di daerah punggung bawah, gejala klinis HNP menyerupai saraf kejepit pada leher. Rasa nyeri terasa di daerah pinggang, pantat dan menjalar ke arah betis dan kaki.
Seringkali juga terasa sensasi kesemutan dan tebal pada salah satu atau kedua tungkai bawah.
Gejala itu biasanya timbul perlahan-lahan dan semakin terasa hebat jika duduk atau berdiri dalam waktu lama, pada malam hari, setelah berjalan beberapa saat, saat batuk atau bersin, serta ketika punggung dibungkukkan ke arah depan.
Gejala klinis setiap pasien berbeda-beda tergantung lokasi dan derajatnya.
Pada kasus ekstrem, HNP di area punggung bawah dapat menyebabkan penekanan sekelompok serabut saraf yang disebut kauda equina (ekor kuda).
HNP ini disebut sindrom kauda equina dengan gejal nyeri, kesemutan, rasa tebal, serta kelemahan atau kelumpuhan kedua tungkai. Gejala itu disertai ketidakmampuan menahan kencing (mengompol) dan buang air besar.
Sindrom ini merupakan suatu keadaan serius dan gawat yang membutuhkan tindakan pembedahan secepatnya.
Selain berdasarkan gejala yang dirasakan penderita, cara terbaik untuk mengetahui ada tidaknya HNP adalah dengan melakukan pemeriksaan MRI.
Selain itu, untuk memastikan HNP yang ditemukan pada MRI memang menjadi penyebab keluhan penderita, perlu dilakukan pemeriksaan EMG (pemeriksaan fungsi hantaran saraf).
HNP tidak terlihat pada foto rontgen biasa. Pada pasien HNP, foto rontgen dilakukan untuk menentukan ada tidaknya HNP, tetapi untuk mengesampingkan kelainan lain (selain HNP) yang dapat menyebabkan nyeri punggung.
Sebagian besar HNP dapat diobati dengan pengobatan tanpa operasi, terutama jika ditemukan sejak dini.
Sedangkan kasus yang telah berlangsung lama dan berat biasanya memerlukan tindakan operasi.
Pengobatan non-bedah meliputi istirahat berbaring jika nyeri benar-benar berat.
Sebaiknya istirahat tidak lebih dari dua hari karena jika lebih lama akan memperlemah otot-otot punggung. Selain istirahat, nyeri dapat dikurangi dengan obat anti nyeri.
Fisioterapi dapat bermanfaat, khususnya pada keadaan nyeri akut (mulai timbul tau bertambah berat secara mendadak).
Fisioterapi dapat berupa diatermi untuk membuat otot punggung rileks dan TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation) untuk mengurangi nyeri.
Baca Juga: 14 Sindrom Geriatri yang Sering Dikeluhkan Lansia
HNP dapat dicegah melalui aktivitas fisik dan pola hidup dengan melakukan olahraga otot perut atau olahraga yang menguatkan daerah tulang belakang seperti berenang, sepeda statis, atau jalan santai.
Selain itu, menjaga postur tubuh yang benar saat berdiri atau duduk dan tidak membungkuk saat mengangkat beban berat serta menjaga berat badan ideal.***
Sumber: RS Kariadi
*Ilustrasi - Menjaga postur tubuh yang benar saat berdiri.(Pixabay)
Video Senior Podcast
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri