
Geriatri.id - Luka baring atau biasa dikenal dengan ulkus decubitus, merupakan luka akibat kulit bagian tubuh tertentu mengalami tekanan terlalu lama. Penyakit kulit ini rentan menyetang kelompok lanjut usia (lansia).
Kondisi ini juga memiliki istilah lain, bed sores dan pressure ulcer atau luka baring. Umumnya, ini terjadi pada mereka yang memiliki ruang gerak terbatas akibat kondisi medis.
Misalnya mereka yang menggunakan kursi roda, terlalu sering berbaring karena tidak bisa bangun sendiri atau berdiri (lumpuh) atau tidak sadarkan diri (koma) dalam waktu sangat lama.
Ini membuat jaringan kulit di bagian sering berbaring menjadi lebih mudah luka, akibat tekanan yang menghambat peredaran darah.
Dalam kondisi lumpuh atau tidak sadarkan diri, seseorang kurang bisa menggerakkan atau memindahkan posisi tubuh.
Ini menyebabkan hambatan peredaran darah dan mempengaruhi jaringan bagian yang menjadi tumpuan.
Misalnya punggung atas, punggung bawah, pantat, bahkan paha belakang. Kondisi di atas menyebabkan aliran darah ke jaringan di bagian tubuh tersebut menjadi terganggu.
Akibatnya, jaringan tersebut lama-lama mati dan membentuk luka.
Penyebab ulkus dekubitus
Ulkus dekubitus disebabkan tekanan dan gesekan pada kulit yang dapat menghambat aliran darah ke kulit dan merusak permukaan kulit.
Beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko ulkus dekubitus adalah penurunan kemampuan indra perasa, kekurangan asupan cairan dan nutrisi dan gangguan aliran darah.
Penanganan ulkus dekubitus
1. Perawatan luka dekubitus.
Jika luka tidak terbuka, bersihkan area kulit dengan sabun yang tidak mengandung alkohol dan pewangi, kemudian langsung keringkan.
Jika sudah muncul luka terbuka, ulkus dekubitus perlu dibersihkan dengan antiseptik dan ditutup dengan perban agar luka tidak terinfeksi dan kulit di sekitarnya tetap kering.
Ganti perban secara berkala dan bersihkan luka dengan air garam fisiologis (cairan infus saline) setiap mengganti perban.
2. Operasi untuk mengangkat jaringan mati.
Agar luka dekubitus cepat sembuh, koreng dan jaringan yang sudah mati perlu diangkat melalui operasi kecil, tanpa didahului bius total.
Tindakan ini bertujuan untuk merangsang pertumbuhan kulit baru yang sehat.
Jika diperlukan, dokter bedah akan menggunakan jaringan kulit dari bagian tubuh lain untuk menutup ulkus dekubitus.
3. Terapi tekanan negatif.
Untuk mempercepat penyembuhan luka, dokter dapat menyarankan terapi tekanan negatif atau Vacuum Assisted Closure (VAC).
Metode ini bertujuan untuk menyedot cairan berlebih dari luka, mengurangi risiko terjadinya infeksi, dan meningkatkan aliran darah ke luka sehingga dapat mempercepat penyembuhan.
4. Perubahan posisi tubuh.
Posisi tubuh penderita ulkus dekubitus perlu diubah secara berkala.
Jika penderita menggunakan kursi roda, pindahkan tumpuan berat badan ke sisi yang lain setiap 15 menit atau ganti posisi setiap jam.
Jika penderita berada di tempat tidur, ganti posisinya menjadi miring kiri, miring, kanan, dan kembali terlentang setiap 2 jam.
Dokter akan menyarankan penggunaan kasur antidekubitus yang dapat mengurangi tekanan pada area kulit tertentu dan menjaga aliran udara ke area tersebut tetap baik.
Meski begitu, posisi penderita tetap perlu diubah secara berkala.
5. Obat-obatan
Pada perawatan luka dekubitus, biasanya dokter memberikan obat-obatan.
a. Ibuprofen atau diclofenac untuk meredakan rasa sakit, terutama ketika penderita sedang dirawat lukanya atau perlu diubah posisinya.
b. Antibiotik minum atau salep untuk melawan infeksi bakteri, jika ulkus dekubitus sudah mengakibatkan infeksi pada penderita.
Selain pengobatan itu, penderita juga perlu memenuhi asupan nutrisi, terutama protein, vitamin A, C, dan E, serta minum air putih yang cukup guna mempercepat proses penyembuhan kulit.***
Sumber: Kemenkes
*Ilustrasi - Lansia terbaring di tempat tidur.(Pixabay)
Baca Juga:
Kenali 7 Kelainan Kulit yang Kerap Terjadi pada Lansia
Tanya Dokter: Kenapa Muncul Bentol Merah di Kulit Lansia?
Video Senior Podcast
Geriatri.ID

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri