Dokter Edy Rizal Wahyudi Ditetapkan Sebagai Doktor Program Studi Epidemiologi FKM UI 


Berita Lansia - Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia menyelenggarakan sidang terbuka promosi doktor Ilmu Epidemiologi kepada dr. Edy Rizal Wahyudi, Sp. PD, K-Ger FINASIM.

2024-06-27 23:06:23

Geriatri.id - Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia menyelenggarakan sidang terbuka promosi doktor Ilmu Epidemiologi kepada dr. Edy Rizal Wahyudi, Sp. PD, K-Ger FINASIM.

Sidang digelar di Ruang Promosi Dokter di Gedung G, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Rabu 27 Juni 2024.

Dokter Edy Rizal Wahyudi, berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul "Pengaruh Perencanaan Pulang Terintegrasi Terhadap Kualitas Perawatan Geriatri di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo" di hadapan Sidang Akademik Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. 

Setelah memaparkan disertasinya dan menjawab sejumlah pertanyaan yang diajukan dewan penguji, dr Edy ditetapkan sebagai Doktor pada Program Studi Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. 

Dalam presentasi disertasinya, dr Edy menyampaikan bahwa penerapan perencanaan pulang terintegrasi adalah solusi dalam memperbaiki kualitas perawatan geriatri. 

“Penelitian ini mengkaji pengaruh perencanaan pulang terintegrasi terhadap kualitas perawatan geriatri. Dilakukan dengan Quasi Experiment Design dan mixed-method di RSUPN Cipto Mangunkusumo. Penelitian kuantitatif dengan luaran perawatan akut berulang dan rawat kembali dalam 30 hari,” ujarnya.

Dokter Edy juga melakukan penelitian kualitatif dengan wawancara mendalam dan observasi terhadap pelaku rawat dan tenaga kesehatan. 

Hasil kuantitatif menunjukkan signifikannya perencanaan pulang terintegrasi dalam mengurangi rawat kembali. Namun, tidak dengan perawatan akut berulang. 

“Hasil kualitatif menunjukkan saturasi informasi terkait perencanaan pulang. Namun, implementasi perencanaan pulang belum sesuai harapan. Perencanaan pulang terintegrasi, meningkatkan kualitas perawatan di rumah sakit.” jelasnya.

Dalam paparannya, dr Edy menguraikan bahwa populasi usia lanjut (usila) pada saat ini tengah mengalami peningkatan yang signifikan secara global. 


Menurut data dari World Health Organization (WHO), didapati sekitar 703 juta jiwa penduduk usila pada tahun 2019 di seluruh dunia. Pada tahun 2050 mendatang, populasi ini diperkirakan akan mencapai sebesar 1,5 hingga 2 miliar jiwa.

Sementara itu, menurut data dari Badan Pusat Statistik pada tahun 2021, proporsi penduduk usila Indonesia sudah mencapai 10,82 persen atau 29,3 juta orang yang menunjukkan bahwa Indonesia sudah memasuki fase struktur penduduk menua yang ditandai dengan proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas sudah melebihi 10 persen dari total penduduk.

Dengan adanya perubahan demografi, fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, juga mengalami peningkatan jumlah kasus geriatri dengan tingkat multimorbiditas yang tinggi. 

Adanya karakteristik yang khas dan kondisi multimorbiditas inilah yang menyebabkan kondisi sakit pada geriatri menjadi cenderung mudah memberat dan sukar pulih serta dapat berdampak pada waktu perawatan yang lebih lama, kunjungan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang berulang, hingga tingginya kejadian rawat kembali. 

Berdasarkan data, angka rawat kembali pada geriatri yang masuk melalui IGD RS Umum Pusat Naional dr. Cipto Mangunkusumo (RSPUN-CM) sebesar 41 persen. 

“Salah satu komponen pelayanan pasien yang telah terbukti dapat memberikan manfaat terkait peningkatan kualitas pelayanan selama perawatan dan setelah perawatan adalah perencanaan pulang.

Perencanaan pulang didefisinikan sebagai suatu perencanaan yang disesuaikan secara personal bagi masing-masing pasien yang akan pulang setelah menjalani perawatan inap di rumah sakit,” papar dr. Edy.

Melalui perencanaan pulang, lanjut dia, rumah sakit dapat memastikan pasien pulang tepat pada waktunya sesuai target perawatan dan mengetahui apa yang harus dilakukan pasca perawatan inap, di mana perencanaan ini melibatkan peran keluarga pasien serta pelaku rawat guna mendukung proses untuk melengkapi perawatan yang diterima selama di rumah sakit dengan Pengkajian Paripurna Pasien Geriatri (P3G), pemulihan dan peralihan perawatan pasien.

“Perencanaan pulang memerlukan sistem terintegrasi yang dapat menjamin keberlangsungan perawatan yang sudah dilakukan di rumah sakit agar terus berlanjut setelah keluar dari rumah sakit. Dalam perencanaan pulang, seorang dokter yang merawat pasien perlu untuk mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan dan peran aktif pihak-pihak lain untuk menyusun perencanaan tersebut,” jelasnya. 


Pihak-pihak tersebut, kata dr Edy, mencakup tenaga kesehatan dari berbagai disiplin keahlian dan keterampilan, serta keluarga pasien dan atau pelaku rawat yang keterlibatannya akan menjadi kunci dari keberlangsungan perawatan dan pemulihan pasien di rumah. 

“Untuk mengintegrasikan peran pihak-pihak tersebut ke dalam perencanaan pulang, terdapat beberapa komponen yang perlu dijalankan. Komponen perencanaan pulang tersebut terdiri dari identifikasi, pengkajian, pengaturan tujuan perawatan, perencanaan, implementasi, koordinasi dan evaluasi,” paparnya.

Bertolak dari data-data tersebut, telah dilakukan sebuah penelitian yang mengkaji dampak perencanaan pemulangan terintegrasi terhadap kualitas perawatan geriatri. 

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh perencanan pulang terintegrasi dalam menurunkan angka kejadian rawat kembali dalam rentang waktu 30 hari setelah pasien pulang rawat serta perawatan akut berulang yang merepresentasikan kualitas perawatan geriatri di rumah sakit. 

Penelitian yang dilakukan bertujuan secara khusus untuk mengetahui pengaruh penerapan perencanaan pulang terintegrasi terhadap penurunan kejadian rawat kembali dalam rentang waktu 30 hari setelah pasien pulang rawat dari rumah sakit. 

Selain itu, bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan perencanaan pulang terintegrasi terhadap penurunan kejadian perawatan akut berulang pada geriatri setelah pulang rawat dari rumah sakit. 

Terakhir, mengidentifikasi gambaran pemahaman dan konsep layanan geriatri pada keluarga, pelaku rawat, serta tenaga kesehatan yang terlibat dalam perawatan geriatri.

“Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan empiris untuk penelitian lebih lanjut terkait layanan komprehensif geriatri. Selain itu, hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi bukti yang kuat di dalam khazanah keilmuan kedokteran berbasis bukti, khususnya mengenai perencanaan pulang terintegrasi dalam meningkatkan kualitas layanan geriatri,” paparnya. 

Bagi tenaga kesehatan dan pembuat kebijakan rumah sakit, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dan alasan kuat bagi tenaga kesehatan dan pembuat kebijakan untuk menerapkan perencanaan pulang terintegrasi pada geriatri dalam pelayanan di rumah sakit. 

Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat menjadi landasan pemahaman tenaga kesehatan dan pembuat kebijakan tentang pentingnya melakukan perencanaan pulang terintegrasi serta mengikutsertakan prosedur ini sebagai suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam pedoman pelayanan komprehensif geriatri.


Bagi masyarakat, lanjut dr. Edy, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan geriatri di rumah sakit yang pada akhirnya dapat membawa manfaat bagi pasien dan pelaku rawat inap.

Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan juga dapat bermanfaat bagi masyarakat umum sebagai bahan edukasi dan pedoman dalam melakukan perawatan pada geriatri.

Dokter Edy juga memaparkan tiga simpulan dari penelitian yang dilakukannya tersebut. Pertama, perencanaan pulang terintegrasi didapatkan secara signifikan menurunkan risiko kejadian rawat kembali. 

Dengan menurunkan risiko absolut kejadian rawat kembali dalam 30 hari pada geriatri pasca perawatan inap di rumah sakit sebesar 12,1 persen.

Kedua, lanjut dr. Edy, perencanaan pulang terintegrasi secara tidak signifikan menurunkan risiko kejadian perawatan akut berulang. 

Namun, tetap didapatkan penurunan risiko absolut kejadian perawatan akut berulang dalam 30 hari pada geriatri pasca perawatan inap di rumah sakit sebesar 11,4 persen.

Ketiga, dari sudut pandang pelaku rawat maupun tenaga kesehatan mengenai layanan geriatri, terdapat keselarasan pemahaman terkait manfaat perencanaan pulang dimana proses tersebut dirasakan sangat membantu keluarga dan atau pelaku rawat dalam meneruskan perawatan bagi geriatri di rumah untuk mempertahankan kesehatan mereka. 

Namun, di sisi lain, terkait kepatuhan atau konsistensi tenaga kesehatan dalam melakukan perencanaan pulang pada geriatri di praktik klinis sehari-hari didapatkan banyak yang belum konsisten,” jelas dr. Edy.

Sidang akademik ini digelar dihadapan Prof. Dr. dr. Sudarto Ronoatmodjo, S.K.M sebagai promotor; Prof. Dr. dr. Siti Setiati, Sp.PD, KGer, M.Epid, FINASIM sebagai kopromotor; Prof. Dr. Besral, SKM, MSc sebagai kopromotor. Kemudian tim penguji yang terdiri dari Prof. Dr. dr. Ratna Djuwita, MPH (ketua tim); Prof.dr. Hadi Pratomo, MPH, Dr.PH; Prof. Dr.dr. Czeresna Heriawan Soejono, Sp.PD, KGer, MEpid, FINASIM; Prof. Dr.dr. R.A. Tuty Kuswardhani, Sp.PD, KGer, FINASIM, MARS, MH; dan Dr. Soewarta Kosen, MPH, DRPH.(hil)***

*Sidang terbuka promosi doktor Ilmu Epidemiologi kepada dr. Edy Rizal Wahyudi, Sp. PD, K-Ger FINASIM.(Foto:Geriatri/Hilman Hilmansyah)


 


ARTIKEL LAINNYA

Renta, Kenapa Bisa Terjadi?

Tahun Baru Islam 1448 H: Memaknai Hijrah di Era “Indonesia Menua”

Yoga Adalah Pilihan Olahraga Cerdas bagi Lansia

“Pada 2025, jumlah lansia diperkirakan mencapai sekitar 33,9 juta jiwa, setara lebih dari 11,8–12 % dari total populasi, menempatkan Indonesia secara resmi dalam era populasi menua.”

Geriatri.ID

Geriatri-ID adalah wahana digital yang menyajikan informasi dan edukasi terpercaya mengenai gaya hidup senior, 50 hingga 100 tahun.

HUBUNGI KAMI :

Email : geriatri.co.id@gmail.com
Whatsapp : +628111379101
DM Instagram : id_geriatri

Logo Geriatri Monochrome

Dikelola oleh PT Seratus Satu Media - Produksi 2026